Bisnis / Keuangan
Selasa, 07 April 2026 | 18:46 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengungkapkan bahwa di tengah tingginya ketidakpastian global, stabilitas nilai tukar menjadi fokus utama bank sentral saat ini. (Suara.com/Achmad Fauzi)
Baca 10 detik
  • Rupiah melemah ke Rp17.105 akibat tensi geopolitik Timur Tengah dan dominasi dolar AS.
  • BI prioritaskan stabilitas lewat intervensi di pasar spot, DNDF, dan instrumen moneter.
  • Kenaikan harga komoditas diharapkan jadi bumper ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.100.

Menanggapi kondisi ini, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar demi menjaga stabilitas mata uang Garuda.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengungkapkan bahwa di tengah tingginya ketidakpastian global, stabilitas nilai tukar menjadi fokus utama bank sentral saat ini.

"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI). Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki," ujar Destry dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (7/4/2026).

Guna meredam volatilitas, Destry memastikan BI akan hadir secara konsisten dan terukur di pasar uang. Langkah intervensi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar offshore (NDF).

Tekanan terhadap rupiah kali ini tak lepas dari memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, BI melihat ada sisi positif yang bisa menjadi penyeimbang bagi fundamental ekonomi nasional.

"Dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah. Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut," jelasnya lebih lanjut.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (7/4/2026), rupiah ditutup melemah 0,41 persen ke level Rp17.105 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.035. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di angka Rp17.092 per dolar AS.

Keperkasaan Greenback memang sulit dibendung. Indeks dolar AS (DXY) terpantau naik tipis 0,05 persen ke level 100,03, mendekati puncak tertingginya sejak Mei 2025. Kondisi ini membuat mayoritas mata uang di Asia, termasuk rupiah, terpaksa bertekuk lutut di hadapan dolar AS.

Baca Juga: Terpuruk! Rupiah Tembus Level Terlemah Sepanjang Sejarah Rp 17.105/USD

Load More