Bisnis / Makro
Kamis, 09 April 2026 | 08:49 WIB
Logo Bank Indonesia (BI). [Antara]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia mencatat uang primer (M0) Adjusted mencapai Rp2.386,5 triliun pada akhir Maret 2026 dengan pertumbuhan melambat.
  • Perlambatan pertumbuhan dipengaruhi oleh kenaikan giro bank umum sebesar 41,8 persen serta uang kartal sebesar 8,6 persen.
  • Bank Indonesia menggunakan indikator M0 Adjusted sejak Januari 2025 untuk meningkatkan transparansi dampak kebijakan insentif likuiditas perbankan.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pertumbuhan uang primer melambat. Adapun, uang primer (M0) Adjusted pada akhir Maret mencapai Rp2.386,5 triliun.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengatakan uang primer memang masih tumbuh impresif. Namun sejatinya melambat karena Februari tumbuh mencapai 18,3 persen yoy.

Adapun, faktor yang memengaruhi pertumbuhan M0 Adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).

"Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 41,8 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 8,6 persen (yoy)," katanya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (9/4/2026)

Sebagai informasi, primer adjusted menggambarkan perkembangan uang primer yang telah mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia, akibat pemberian insentif likuiditas.

Mulai Januari 2025, Bank Indonesia melakukan penyesuaian perhitungan M0 adjusted, untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai perkembangan uang primer dan pengaruh dari kebijakan likuiditas yang dilakukan oleh Bank Indonesia.

Sejak Januari 2025, Bank Indonesia secara resmi menyertakan indikator M0 Adjusted dalam laporan likuiditas moneter.

Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan akurasi dalam memantau perkembangan likuiditas, terutama setelah penerapan kebijakan insentif likuiditas bagi sektor perbankan.

Baca Juga: Dikuras untuk Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Menciut ke Titik Terendah

Load More