- IHSG diproyeksikan melemah pada Senin (13/4/2026) akibat tensi geopolitik Timur Tengah serta rekor terendah Rupiah sebesar Rp17.100.
- Pelemahan Rupiah memicu arus keluar modal asing sebesar Rp3,31 triliun dan kekhawatiran lonjakan inflasi harga minyak mentah dunia.
- Analis merekomendasikan strategi defensif dan akumulasi bertahap pada saham blue chip seperti BBRI yang berada di area support.
Suara.com - Pasar modal Indonesia bersiap menghadapi pembukaan pekan yang penuh tantangan pada Senin (13/4/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah akibat tekanan ganda: memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah (all-time low).
Kondisi Rupiah yang kini berada di kisaran Rp17.100 per USD menjadi alarm bagi para pelaku pasar.
Pelemahan mata uang Garuda ini memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi domestik, terutama mengingat harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik akibat konflik di kawasan Teluk.
Ketidakpastian ini membuat investor cenderung bersikap defensif, namun di sisi lain, sejumlah saham blue chip seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) justru mulai masuk dalam radar rekomendasi teknikal.
Proyeksi Pasar di Tengah Ancaman Koreksi
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberikan catatan waspada bagi para investor. Ia menilai pergerakan indeks masih sangat rentan terhadap aksi ambil untung dan tekanan eksternal.
Menurut pantauannya, fluktuasi harga minyak mentah dunia menjadi variabel yang paling krusial karena berdampak langsung pada beban impor dan inflasi dalam negeri.
"Untuk Senin, kami memperkirakan IHSG rawan terkoreksi dengan rentang support di level 7.322 dan resistance di 7.585," ujar Herditya saat dihubungi pada Minggu (12/4/2026).
Baca Juga: FTSE Pertahankan Status Indonesia, Reformasi Pasar Modal Diakui Dunia
Ia menekankan bahwa kombinasi ketegangan di Timur Tengah dan fundamental ekonomi domestik menjadi ujian berat bagi ketahanan indeks.
"Investor masih mencermati perkembangan Timur Tengah dan kondisi ekonomi domestik akibat nilai tukar rupiah yang terus melemah serta kekhawatiran inflasi dari kenaikan harga minyak," jelasnya.
Senada dengan itu, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, melihat adanya potensi pergerakan campuran (mixed) dengan peluang penguatan teknikal yang sangat terbatas.
Ia menyoroti keluarnya modal asing yang cukup masif sebagai dampak dari ketidakstabilan nilai tukar.
"Tekanan rupiah terhadap USD yang berlanjut, terlebih setelah menyentuh level Rp17.100 per USD, cenderung memberikan kekhawatiran pasar pada stabilitas dalam negeri. Hal ini berdampak pada keluarnya modal asing (capital outflow) yang mencapai Rp3,31 triliun dalam sepekan terakhir," ungkap Audi.
Meski demikian, secara teknikal, indikator MACD mulai menunjukkan sinyal penguatan tren yang dibarengi dengan kenaikan Relative Strength Index (RSI) ke atas level 50, memberikan sedikit ruang bagi indeks untuk bertahan di zona hijau jika negosiasi de-eskalasi di Timur Tengah menunjukkan hasil positif.
Berita Terkait
-
Meski IHSG Kinclong, Dana Asing Masih Kabur Rp 193,87 M Sepekan Ini
-
Pasar Saham RI Bergairah, IHSG Naik 2% Lebih ke Level 7.458
-
Rupiah Tertekan Sentimen Domestik, Dolar AS Menguat ke Rp17.104
-
Rupiah Menembus Rp17.000: Mengapa Perbankan Tetap Tenang di Tengah Risiko Kredit Valas?
-
IHSG Mulai Membaik, Naik 2 Persen dan 499 Saham Melonjak pada Sesi I
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Anggaran EO BGN Tembus Rp113 Miliar: Publik Minta Transparansi, BGN Klarifikasi
-
Jejak di Balik PT Yasa Artha Trimanunggal, Dipercaya Garap Proyek Triliunan BGN
-
Purbaya Buka Opsi Tukar Guling PNM dan Geo Dipa Demi Bantu Kredit UMKM
-
Purbaya Girang Kantongi Dana Rp 11,4 Triliun dari Satgas PKH, Buat Tambal Defisit APBN
-
Purbaya Ungkap Cara Kerja Dana SAL Rp 300 T Milik Pemerintah Buat Gerakkan Ekonomi
-
Meski IHSG Kinclong, Dana Asing Masih Kabur Rp 193,87 M Sepekan Ini
-
Menaker: PKB Harus Dikawal Ketat, Tantangan Utama di Tahap Implementasi
-
Perundingan AS-Iran Kacau, Trump Malah Nonton UFC Ketimbang Negosiasi Selat Hormuz
-
Pemerintah Klaim Daya Beli Masyarakat Masih Kuat, Begini Datanya
-
BI Sebut Kepercayaan Masyarakat Terhadap Ekonomi RI Tinggi