- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.104 per dolar AS pada penutupan pasar hari Jumat, 10 April 2026.
- Pelemahan rupiah terjadi akibat sentimen negatif investor terkait kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sedang mengalami penurunan.
- Mayoritas mata uang Asia juga ikut melemah terhadap dolar AS, dengan won Korea mencatatkan penurunan paling dalam.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar berbalik melemah pada sore ini. Padahal, pagi tadi rupiah sempat menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Jumat (10/4/2026) ditutup ke level Rp17.104 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia pun melemah 0,08 persen dibanding penutupan pada Kamis (9/4/2026) yang berada di level Rp17.090 per dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp17.112 per dolar AS. Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh domestik. Lantaran, investor khawatir tentang kondisi ekonomi Indonesia.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS oleh sentimen domestik yang masih negatif. Investor kembali mengkhawatirkan data-data fundamental Indonesia yang lemah seperti cadangan devisa, perdagangan, defisit anggaran dan juga downgrade pertumbuhan ekonomi oleh bank dunia," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan, rupiah hanya bisa menguat jika dolar melemah. Pasalnya, kondisi ekonomi Indonesia yang turun membuat rupiah mengalami tekanan.
"Data rilis hari ini juga menunjukkan penurunan pada kepercayaan konsumen dan penjulaan mobil. Belum ada katalis yang mendukung penguatan rupiah, hanya perlemahan dolar yang besar dapat menguatkan rupiah," jelasnya.
Sementara itu, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS sore ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,75 persen.
Disusul baht Thailand yang melemah 0,48 persen, peso Filipina melemah 0,39 persen. Lalu, yen Jepang melemah 0,21 persen, dolar Singapura melemah 0,19 persen, rupee India melemah 0,10 persen.
Ditambah yuan China melemah 0,05 persen terhadap dolar AS. Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini. Ringgit Malaysia menguat 0,31 persen, dolar Hong Kong menguat 0,02 persen dan dolar Taiwan menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Menembus Rp17.000: Mengapa Perbankan Tetap Tenang di Tengah Risiko Kredit Valas?
Berita Terkait
-
Rupiah Terus Melemah Akibat Konflik Timur Tengah, Kemenperin: Gunakan Skema LCT
-
Digilas Harga Minyak Dunia, Nilai Tukar Rupiah Terus Lemas
-
Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.995
-
Rupiah Sudah Sentuh Rp17.000, Sinyal Waspada Buat Indonesia
-
Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Kantor Digeledah Kejati, Menteri PU Pilih 'Pasrah': Saya Tak Mau Ikut Campur
-
Menhub Ungkap Dampak ke RI Soal Penutupan Wilayah Udara China
-
Tak Ada WFH di Kementerian PU, Menteri Dody: AC-nya Angin Blesat-blesut
-
Kabar Baik! Bahlil Sebut Krisis BBM RI Akibat Geopolitik Sudah Terlewati
-
Rupiah Menembus Rp17.000: Mengapa Perbankan Tetap Tenang di Tengah Risiko Kredit Valas?
-
Jungkir Balik Harga Saham BUMI
-
Kabar Terbaru B50: Bahlil Sebut Kendala Pabrik Sudah Ada Solusi!
-
Pengadaan Motor Listrik untuk Kepala SPPG MBG Disorot, Produk Lokal 'Asli China'?
-
Distribusi Terganggu, Perdagangan Beras Antarwilayah Disebut Mulai Macet
-
Pemerintah Siapkan Intensif, Guna Percepat Ekosistem Kendaraan Listrik