Bisnis / Ekopol
Senin, 13 April 2026 | 14:21 WIB
Iran memperingatkan bahwa harga minyak dunia akan mencapai 200 dolar AS per barel dalam waktu dekat akibat perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat dengan Israel. Foto: Selat Hormuz yang berada di antara Iran, Qatar dan Uni Emirat Arab. [Google Maps]
Baca 10 detik
  • Komando Pusat AS memulai blokade militer di seluruh pelabuhan Iran mulai Senin pukul 10.00 waktu setempat.
  • Kebijakan tersebut dipicu kegagalan negosiasi damai di Islamabad serta penolakan Iran menghentikan pengayaan uranium secara total.
  • Blokade ini menyebabkan lonjakan harga minyak global di atas USD 100 per barel dan memicu ketegangan geopolitik.

Suara.com - Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik nadir baru yang membahayakan stabilitas ekonomi dan keamanan global.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) secara resmi mengumumkan dimulainya blokade militer yang diberlakukan secara ketat terhadap seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.

Langkah agresif ini diambil tepat setelah negosiasi damai di Islamabad menemui jalan buntu, memicu kepanikan di pasar komoditas internasional.

Pihak CENTCOM menegaskan bahwa blokade yang dimulai pada Senin pukul 10.00 pagi waktu setempat (14:00 GMT) tersebut akan "Diberlakukan secara imparsial terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman."

Meskipun demikian, militer AS memberikan catatan bahwa kapal-kapal yang hanya melintasi Selat Hormuz menuju atau dari pelabuhan non-Iran tidak akan dihalangi. Informasi tambahan rencananya akan diberikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan formal sebelum operasi dimulai sepenuhnya.

Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan melalui serangkaian pernyataan provokatif di media sosial. Ia menegaskan bahwa pasukan AS tidak hanya menutup akses pelabuhan, tetapi juga akan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang diketahui telah membayar biaya lintasan (toll) kepada pihak Iran.

Trump menganggap pembayaran tersebut sebagai bentuk dukungan ilegal terhadap rezim Teheran.

Selain blokade kapal, Angkatan Laut AS juga dilaporkan mulai melakukan operasi penghancuran ranjau yang disebar oleh Iran di Selat Hormuz, sebuah titik jenuh yang mengendalikan sekitar 20 persen pasokan energi global.

Dampak dari pengumuman blokade ini langsung terasa di lantai bursa dunia. Harga minyak mentah acuan melonjak lebih dari 7 persen hingga melampaui angka USD 100 per barel pada perdagangan Senin pagi di Asia.

Baca Juga: Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Qalibaf: Nikmati Harga Bensin Saat Ini

Bersamaan dengan itu, nilai tukar dolar AS mengalami penguatan tajam sementara kontrak berjangka saham AS justru berguguran.

Data pelayaran menunjukkan bahwa meskipun tiga kapal supertanker bermuatan penuh berhasil lewat pada Sabtu lalu, kini sebagian besar kapal tanker memilih untuk menjauhi Selat Hormuz guna menghindari risiko blokade.

Mantan pejabat senior Pentagon di era Biden yang kini berada di The Washington Institute for Near East Policy, Dana Stroul, memberikan pandangan kritis terhadap strategi ini.

Menurutnya, pendekatan Trump yang menginginkan hasil instan melalui kekuatan militer sangat berisiko. "Trump menginginkan solusi cepat," ujar Stroul., dikutip via Reuters.

Ia menambahkan bahwa "Kenyataannya, misi ini sulit dilaksanakan sendirian dan kemungkinan besar tidak berkelanjutan dalam jangka menengah hingga panjang."

Di sisi lain, Teheran bereaksi dengan kemarahan atas tindakan sepihak Washington. Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan bahwa kehadiran kapal militer yang mendekati wilayah mereka akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan dihadapi dengan tindakan yang keras serta menentukan.

Load More