-
Kelompok HAYI diduga menjadi alat proksi Iran untuk menyerang aset Barat di Eropa.
-
Pakar menemukan bukti koordinasi digital yang kuat antara serangan fisik dan propaganda daring.
-
Keamanan Eropa diperketat akibat meningkatnya ancaman terhadap komunitas Yahudi dan diplomatik Israel.
Suara.com - Eropa kini menghadapi ancaman keamanan baru yang muncul dari balik bayang-bayang dunia digital melalui kelompok misterius.
Entitas bernama Harakat Ashab al-Yamin al-Islamia (HAYI) mendadak muncul mengklaim serangkaian aksi sabotase di berbagai negara.
Dikutip dari CNN, fenomena ini dipandang bukan sebagai gerakan akar rumput, melainkan sebagai alat perang hibrida yang terorganisir secara sistematis.
Munculnya HAYI bertepatan dengan eskalasi ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan pihak Teheran belakangan ini.
Pola serangan yang terjadi menunjukkan upaya sengaja untuk menciptakan instabilitas di wilayah jantung negara-negara Barat.
Para pakar kontra-terorisme menemukan bukti kuat bahwa identitas kelompok ini hanyalah sebuah fatamorgana di ruang siber.
Thomas Renard, seorang pakar kontra-terorisme dan direktur ICCT, memberikan pandangannya terkait jejak digital kelompok tersebut.
“Dalam hal jejak digital, jelas ada kedekatan erat dengan ekosistem daring pro-Iran,” kata Thomas Renard.
Klaim serangan yang disebarkan melalui Telegram dan media sosial X menunjukkan koordinasi waktu yang sangat presisi.
Baca Juga: Panas! Militer Amerika Serikat Buru Kapal Pembayar Upeti Iran di Selat Hormuz
“Bukan hanya saluran-saluran ini mengunggah atau mengunggah ulang klaim video tersebut, tetapi juga fakta bahwa mereka melakukannya pada lini masa yang menunjukkan semacam koordinasi,” ujar Renard.
Indikasi Keterlibatan Aktor Negara Asing
Kesalahan penulisan dalam bahasa Arab pada logo dan video memperkuat dugaan bahwa kelompok ini bukan organisasi profesional independen.
Strategi ini dinilai meniru pola operasi hibrida Rusia yang merekrut orang asing untuk melakukan sabotase demi uang.
“Ada banyak indikasi bahwa kelompok ini tidak asli,” tutur Renard kepada CNN.
Penggunaan perantara berlapis memungkinkan aktor negara untuk membantah keterlibatan langsung mereka dalam aksi kriminal tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
Terkini
-
Fraksi PSI DPRD DKI Soroti Potensi Komersialisasi Air dan 'Pasar Tawanan' di Jakarta
-
Tegukan Maut di Balik 'Klaim' Kebugaran: Mengapa Minum Oli Adalah Bunuh Diri Medis?
-
Ketergantungan Batu Bara Jadi Bom Waktu, IESR Desak Percepatan Transisi Ekonomi
-
Tiba di Moskow, Ini Agenda Prabowo Selama Kunker di Rusia
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Qalibaf: Nikmati Harga Bensin Saat Ini
-
Tito Karnavian Ungkap Fakta: Angka Kemiskinan di Papua Masih di Atas Rata-Rata Nasional
-
Dulu Dicurigai dan Tidak Dipercaya, Mengapa Pakistan Jadi 'Juru Damai' AS - Iran?
-
Mendes Yandri Susanto Bantah Isu Dana Desa Dipotong, Sebut Kopdes Merah Putih Perkuat Ekonomi Warga
-
Gara-gara Ceramahnya, GAMKI dan Pemuda Katolik Resmi Laporkan Jusuf Kalla ke Polda Metro Jaya