- Konsorsium PGE dan PLN IP menyepakati tarif listrik PLTP Lahendong Bottoming Unit berkapasitas 15 MW di Bandung, Jawa Barat.
- Proyek ini menggunakan teknologi binary untuk mengonversi panas sisa menjadi energi listrik bersih yang lebih efisien bagi nasional.
- Tahapan selanjutnya meliputi pembentukan perusahaan patungan dan konstruksi, dengan target operasional secara komersial pada tahun 2028 mendatang.
Suara.com - Konsorsium PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) menyepakati tarif listrik dengan PT PLN (Persero) untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Bottoming Unit berkapasitas 15 MW.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Tarif di Bandung, Jawa Barat pada Jumat (10/4/2026).
Kesepakatan antara kedua perusahaan menandai perkembangan proyek sekaligus komitmen para pihak dalam mengoptimalkan energi panas bumi sebagai sumber energi bersih.
Selain itu, kesepakatan tarif ini menjadi syarat penting dalam proses pengadaan pembangkit melalui skema Independent Power Producer (IPP) sebelum lanjut ke tahap pengembangan berikutnya.
Adapun proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit menggunakan teknologi binary (bottoming cycle) untuk menghasilkan listrik tambahan dari panas sisa operasi pembangkit yang sudah ada. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan sumber daya panas bumi menjadi lebih optimal dengan menangkap energi panas yang sebelumnya terbuang.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani, menyatakan bahwa capaian ini adalah langkah PGE dan PLN IP dalam mempercepat transisi energi bersih nasional.
"Melalui teknologi ini, panas sisa yang sebelumnya belum termanfaatkan dapat dikonversi kembali menjadi listrik, sehingga meningkatkan efisiensi pembangkitan sekaligus memperkuat kontribusi panas bumi dalam bauran energi bersih nasional. Ke depan, kami siap melanjutkan proyek ini ke tahapan berikutnya agar manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat,” kata Ahmad Yani lewat keterangannya pada Selasa (14/4/2026).
Selanjutnya, setelah kesepakatan tarif, proyek akan masuk ke tahap pembentukan perusahaan patungan (joint venture),proses Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC), hingga penyusunan Power Purchase Agreement (PPA). Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau (Commercial Operation Date (COD) pada 2028.
Baca Juga: Rapor Bagus PGE Dinilai sebagai Sinyal Positif untuk Pengembangan Energi Panas Bumi di Indonesia
Berita Terkait
-
Tak Hanya Listrik, Energi Panas Bumi Bisa untuk Ketahanan Pangan
-
IIGCE 2026: Saat Panas Bumi Diproyeksikan Jadi Tulang Punggung Energi Indonesia
-
Masalah Komersialisasi Disebut Jadi Tantangan Utama Panas Bumi di Indonesia
-
Pasca - Gempa M 7,3 Sulut, PLTP Lahendong Dipastikan Tetap Stabil
-
Bahlil: Semua Proyek Energi Digas, dari Panas Bumi hingga Angin
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Pemerintah Siapkan Insentif ETF Emas, Bursa Mineral, Hingga Demutualisasi
-
Jumlah Saham HSC Membengkak Jadi 51 Emiten Pasca Pengesahan Aturan Baru BEI
-
Rombak Aturan Pasar Modal, OJK Target Demutualisasi Tuntas September 2026
-
Saham HSC Dilarang Masuk LQ45, Puluhan Emiten Jumbo Kena Dampak!
-
Analis Sebut IHSG Seharusnya Jauh Lebih Tinggi, Ini Alasannya
-
Purbaya Minta Investor Beli Saham dan Jual Dolar, Klaim Ekonomi RI Mulai Diakui Internasional
-
Purbaya Girang S&P Pertahankan Rating Indonesia: Bukan Indonesia Cemas tapi Indonesia Emas
-
Inflasi Juli 2026 Naik ke 3,34%, Tiket Pesawat hingga Harga Beras Jadi Pemicu
-
Amman Mineral Bidik Produksi 16 Ton Emas dan 162.000 Ton Tembaga di 2026
-
Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM