- Utang Luar Negeri RI melonjak jadi Rp7.509 triliun pada Februari 2026, naik dari bulan sebelumnya.
- Pertumbuhan utang mencapai 2,5%, dipicu utang Bank Sentral lewat instrumen moneter SRBI.
- ULN Swasta justru turun 0,7%, pertanda lesunya ekspansi sektor riil di tengah beban utang negara.
Suara.com - Kondisi kesehatan fiskal Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 membengkak menjadi 437,9 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp7.509 triliun.
Angka ini melonjak signifikan dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang sebesar 434,9 miliar dolar AS. Kenaikan ini seolah menjadi alarm bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang kian mencekik.
Jika menggunakan proyeksi jumlah penduduk Indonesia tahun 2026 yang diperkirakan mencapai sekitar 285 juta jiwa, maka setiap individu mulai dari bayi yang baru lahir hingga lansia secara teoretis "menanggung" beban utang luar negeri sebesar kurang lebih Rp26.347.000 per orang.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Anton Pitono, mengungkapkan bahwa secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5 persen (yoy). Laju pertumbuhan ini jauh lebih kencang dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 1,7 persen (yoy).
Peningkatan ini ironisnya justru dipicu oleh sektor publik, terutama bank sentral. Anton menyebut derasnya modal asing yang masuk ke instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi biang kerok utang BI yang kian menumpuk.
"Peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni SRBI," ujar Anton dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Meski posisi surat utang pemerintah diklaim menurun, total ULN pemerintah pada Februari 2026 tetap bertengger di angka 215,9 miliar dolar AS. Secara tahunan, utang pemerintah masih tumbuh sebesar 5,5 persen (yoy).
Beban utang ini dialokasikan untuk sektor-sektor yang seharusnya bisa dibiayai secara mandiri jika pengelolaan fiskal lebih optimal, antara lain:
- Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial: 22,0 persen
- Pertahanan dan Jaminan Sosial: 20,3 persen
- Jasa Pendidikan: 16,2 persen
- Konstruksi: 11,6 persen
- Transportasi dan Pergudangan: 8,5 persen
Di saat utang pemerintah dan BI mendaki, ULN swasta justru mengalami penurunan sebesar 0,7 persen (yoy) menjadi 193,7 miliar dolar AS. Penurunan ini terjadi baik di lembaga keuangan maupun perusahaan non-lembaga keuangan.
Baca Juga: Kenapa Indonesia Nekat Beli Minyak Rusia? Ini Hasil Pertemuan 3 Jam Prabowo-Putin
Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa sektor riil justru tengah "tiarap" atau enggan melakukan ekspansi di tengah beban bunga global yang tinggi, menyisakan pemerintah sebagai pemain tunggal yang terus menarik utang demi menambal lubang ekonomi.
Walaupun BI mengklaim struktur utang masih "sehat" dengan rasio terhadap PDB sebesar 29,8 persen, namun ketergantungan pada aliran modal asing di instrumen moneter jangka pendek tetap menyimpan risiko capital outflow sewaktu-waktu yang bisa merontokkan nilai tukar Rupiah.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
Terkini
-
Kapal Tanker China Gagal Tembus Blokade AS di Teluk Persia
-
Kursi Panas Bos Astra: Sinyal Kuat Rudy Gantikan Djony Bunarto, Saham ASII Langsung Gaspol!
-
Punya Utang Pinjol di Bawah Rp1 Juta Bisa Ajukan KPR, Apa Dampaknya ke Perbankan?
-
Apa Itu Nafta? Yang Bikin Harga Plastik Makin Mahal
-
Permintaan Melemah, Harga Konsentrat Tembaga dan Emas RI Anjlok
-
Minyakita Sulit Didapat dan Mahal, Pedagang Kritik Distribusi Bulog
-
IHSG Masih di Zona Hijau Pada Sesi I, 447 Saham Melesat
-
Industri Gula Amburadul, Swasembada Terancam Gagal?
-
Harga Bahan Baku Plastik Bisa Naik 70%, Apindo Sebut Pabrik Terancam Tak Produksi Bulan Depan
-
Volume Bongkar Muat IPC TPK Tumbuh Tipis 0,9% di Kuartal I-2026