- Presiden Prabowo memulai program gentengisasi untuk memperbaiki Rumah Tidak Layak Huni di Jawa Barat dengan kuota 40.000 unit.
- Pemerintah menggunakan genteng produksi lokal dalam program bantuan tersebut guna meningkatkan ekonomi daerah serta kesejahteraan masyarakat Jawa Barat.
- Pelaksanaan program melalui mekanisme Pemilihan Toko Terbuka berhasil menciptakan transparansi dan efisiensi anggaran sebesar 6,83 persen bagi masyarakat.
Suara.com - Program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai berjalan di Jawa Barat. Bahkan, kuota program yang bertajuk Bantuan ditingkatkan menjadi 40 ribu unit pada 2026.
Adapun, program tersebut merupakan bagian dari kebijakan mengganti atap rumah menggunakan genteng alias gentengisasi.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait alias Ara menyebut peningkatan kuota dilakukan untuk mempercepat penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di wilayah dengan kebutuhan tinggi.
"Tahun lalu kuota BSPS di Jawa Barat sebanyak 6.374 unit, tahun ini kita tingkatkan secara signifikan menjadi 40.000 unit agar penanganan rumah tidak layak huni bisa lebih cepat," ujar Ara dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Ia menambahkan, peningkatan juga menyasar daerah prioritas seperti Kabupaten Bandung.
"Khusus Kabupaten Bandung, tahun lalu hanya 35 unit, tahun ini kita tingkatkan menjadi 1.200 rumah. Ini bentuk keberpihakan kita agar masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya," ungkapnya.
Selain fokus pada perbaikan hunian, pemerintah juga mengarahkan penggunaan material bangunan agar berdampak pada ekonomi lokal. Salah satunya melalui penggunaan genteng produksi dalam negeri sebagai pengganti atap seng.
"Untuk 40.000 unit BSPS di Jawa Barat, kita akan menggunakan produksi genteng lokal dari para pengusaha di Jawa Barat. Jadi tidak hanya memperbaiki rumah, tapi juga menggerakkan ekonomi daerah," jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, program BSPS juga dilengkapi mekanisme Pemilihan Toko Terbuka (PTT) untuk meningkatkan transparansi penggunaan anggaran.
Baca Juga: Pemerintah Bakal Tiru Rusun di Jakbar untuk Program 3 Juta Rumah
Simulasi PTT dilakukan di Kecamatan Ketapang dengan total anggaran Rp 175 juta untuk 10 unit rumah atau sekitar Rp 17,5 juta per unit.
Dari skema tersebut, pemerintah mencatat efisiensi anggaran sebesar 6,83 persen atau senilai Rp 11.950.000 yang kemudian dikembalikan kepada masyarakat.
Dalam pelaksanaan program ini, pemerintah daerah berperan melakukan pendataan dan pendampingan pada masyarakat penerima bantuan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Bisakah Membatalkan Transaksi PayLater Kredivo yang Sudah Telanjur?
-
Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran
-
Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah
-
Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%
-
Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran
-
Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen
-
Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!
-
BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi
-
Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global
-
Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!