- Pemerintah China menyepakati analisis IMF bahwa konflik Timur Tengah memicu krisis stabilitas ekonomi dan energi global.
- Blokade maritim di Selat Hormuz menyebabkan penurunan drastis pasokan energi dunia dan ancaman kenaikan inflasi global.
- IMF dan China mendesak gencatan senjata serta pemulihan jalur pengiriman energi demi mencegah krisis kemanusiaan lebih luas.
Suara.com - Pemerintah China menyatakan kesepakatan penuh terhadap hasil analisis Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebutkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu krisis serius pada stabilitas ekonomi dunia dan ketahanan energi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa dampak buruk dari peperangan ini telah melampaui kerugian fisik di medan tempur, yakni menghambat pertumbuhan kesejahteraan masyarakat global.
"Ini adalah konflik yang semestinya tidak perlu terjadi," ujar Guo dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (15/4/2026).
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memaparkan data yang mengkhawatirkan terkait gangguan distribusi energi akibat penutupan jalur maritim. Konflik ini telah menyebabkan:
- Penurunan distribusi minyak bumi sebesar 13 persen per hari.
- Pemangkasan pasokan Gas Alam Cair (LNG) hingga 20 persen per hari.
IMF memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dalam jangka panjang berpotensi mengerek inflasi global hingga 40 basis poin. Selain itu, output ekonomi dunia diprediksi akan menyusut sekitar 0,1 hingga 0,2 persen akibat gangguan rantai pasok ini.
April Jadi Bulan Paling Kritis bagi Pasokan Global
Georgieva memberikan peringatan keras bahwa kondisi di bulan April 2026 akan jauh lebih berat dibandingkan bulan sebelumnya.
Hal ini disebabkan oleh habisnya stok yang dikirim oleh kapal tanker sebelum pecahnya konflik pada akhir Februari lalu.
"Maret memang sulit, namun April akan lebih menantang karena tidak ada pengiriman baru yang tiba setelah kapal-kapal terakhir mencapai tujuannya," jelas Georgieva, dikutip via Antara.
Baca Juga: Gus Miftah Puji Diplomasi Prabowo di Tengah Panas Selat Hormuz: Makanya BBM Tidak Naik!
Sebagai solusi jangka pendek, IMF menyarankan negara-negara untuk menerapkan kebijakan penghematan energi ekstrem, seperti pengalihan ke transportasi umum gratis dan optimalisasi kerja jarak jauh (remote work).
Situasi semakin pelik menyusul tindakan Angkatan Laut Amerika Serikat yang secara resmi memulai blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim di pelabuhan Iran sejak Senin (13/4/2026).
Langkah ini menciptakan blokade de facto di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi utama pengiriman energi dari Teluk Persia ke pasar internasional.
Pemerintah China menekankan tiga prioritas utama untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih dalam:
Gencatan Senjata: Mencegah kembalinya pertempuran dengan segala cara.
Pemulihan Jalur Maritim: Menjamin kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz.
Berita Terkait
-
Kunjungan Kerja ke AS, Purbaya Yakin Dana Asing Bakal Lebih Banyak Masuk Indonesia
-
IMF Puji RI Jadi Titik Terang' Ekonomi Dunia, Gubernur BI Perry Warjiyo Beberkan Rahasianya
-
Gus Miftah Puji Diplomasi Prabowo di Tengah Panas Selat Hormuz: Makanya BBM Tidak Naik!
-
Fundamental Ekonomi Kuat di tengah Ketidakpastian, Indonesia Kian Dilirik Investor Global
-
Iran Tertawakan Blokade AS di Selat Hormuz, Sindir Trump: Warga Amerika akan Rindu Bensin Murah
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
Produksi Listrik EBT Tembus 8.743 GWh, Pertamina Genjot Transisi Energi
-
BTN Cetak Laba Bersih Rp 1,1 Triliun di Kuartal I-2026
-
Kunjungan Kerja ke AS, Purbaya Yakin Dana Asing Bakal Lebih Banyak Masuk Indonesia
-
IFG Life Rampungkan Pembayaran Klaim Nasabah Eks Jiwasraya
-
Harga Emas Antam, Galeri 24 dan UBS Naik Semua! Kembali Tembus Rp 3 Jutaan
-
Harga Plastik Bikin Pedagang Pusing, Daya Beli Masyarakat Terancam?
-
Negosiasi AS-Iran Berjalan Positif, Donald Trump Malah Tebar Ancaman
-
Temui 18 Investor Besar di AS, Purbaya: Mereka Bingung Kenapa Kita Tumbuh Cepat
-
Di Balik Transaksi Jumbo Grup Bakrie Akumulasi Saham BIPI
-
IMF Puji RI Jadi Titik Terang' Ekonomi Dunia, Gubernur BI Perry Warjiyo Beberkan Rahasianya