- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik 0,52 persen ke level 7.663 pada awal perdagangan Kamis, 16 April 2026.
- Sebanyak 2,76 miliar saham diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan nilai transaksi mencapai Rp1,14 triliun pada hari tersebut.
- IHSG diproyeksikan bergerak dalam fase konsolidasi karena adanya tekanan eksternal serta pelemahan nilai tukar mata uang rupiah.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali meroket pada awal perdagangan, Kamis, 16 April 2026. IHSG melompat tinggi 0,52 persen ke level 7.663.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.04 WIB, IHSG masih betah di zona hijau ke level 7.694 atau naik 0,93 persen.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 2,76 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,14 triliun, serta frekuensi sebanyak 180.600 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 379 saham bergerak naik, sedangkan 148 saham mengalami penurunan, dan 432 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, DEFI, WBSA, RONY, BIKE, AGRO, MLPT, MUTU.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, PSDN, ROTI, ENZO, DEPO, INCF, RODA, SURE, KONI, PJAA.
Proyeksi IHSG
IHSG diperkirakan masih akan bergerak terbatas atau konsolidasi pada perdagangan Kamis (16/4), di tengah tekanan eksternal dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Mengutip riset Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup melemah 0,68 persen ke level 7.623,59 pada perdagangan Rabu (15/4). Secara teknikal, indikator Stochastic RSI berada di area overbought dan membentuk pola death cross, yang mengindikasikan potensi koreksi lanjutan.
Baca Juga: Emiten Bandel Tak Mau Buyback saat Delisting, Ini Kata BEI
Namun demikian, histogram MACD masih menunjukkan tren positif yang meningkat, sehingga membuka peluang IHSG untuk bergerak dalam fase konsolidasi.
“IHSG diperkirakan akan mengalami konsolidasi pada kisaran 7.550-7.700.”
Secara teknikal, level resistance berada di 7.700, pivot di 7.600, dan support di 7.550.
Dari sisi makro, pelemahan nilai tukar rupiah turut menjadi sentimen negatif bagi pasar. Rupiah tercatat kembali melemah ke level Rp17.140 per dolar AS pada 15 April 2026.
Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menilai bahwa peringkat utang Indonesia menjadi salah satu yang paling rentan terhadap dampak konflik di Timur Tengah jika berlangsung berkepanjangan.
Kenaikan harga energi akibat konflik tersebut diproyeksikan akan meningkatkan beban subsidi pemerintah, sekaligus menekan anggaran belanja negara. Selain itu, impor minyak yang lebih mahal berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan.
S&P juga menilai percepatan inflasi dapat mendorong kenaikan suku bunga, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan untuk perdagangan hari ini, yakni GJTL, CPIN, MAPI, CTRA, dan ADRO.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Tak Cuma AS, Pemerintah RI Siapkan 'Karpet Merah' DHE SDA Eksportir Asing
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Beroperasi, Pemerintah Masih "Buta" Soal Target Kinerja
-
DSI Resmi Kelola Ekspor Mulai 1 Juni, Ada Bocoran Peran Dirjen Bea Cukai
-
Belajar dari 'TikTok', Rugi di Pasar Modal: Bahaya Investasi Berbasis Tren Media Sosial
-
Bisnis Gerai Minuman di Tengah Tekanan Ekonomi, Ada yang Tutup dan Berkembang
-
IHSG Ambles Tapi Aset Emiten Melesat Rp94 Triliun, Ini Penyebabnya
-
Harga CPO Anjlok Pertengahan Tahun 2026, Kemendag Ungkap Penyebabnya
-
Rincian Aturan Baru Pajak UMKM: CV, Firma, dan PT Baru Kehilangan Fasilitas PPh
-
Harga Pangan Kian Meroket: Cabai Merah Besar Tembus Rp107 Ribu, Beras Ikut Naik