Bisnis / Energi
Kamis, 16 April 2026 | 07:29 WIB
Aburizal Bakrie (Suara.com/M Yasir)
Baca 10 detik
  • Bakrie Capital Indonesia membeli 464,5 juta saham BIPI senilai Rp116,1 miliar pada 15 April 2026 untuk memperkuat kepemilikan.
  • Total investasi Grup Bakrie di BIPI mencapai Rp1,06 triliun guna mendukung transisi perusahaan dari batu bara ke energi terbarukan.
  • BIPI kini fokus mengembangkan proyek energi bersih seperti LNG, limbah, dan panas bumi untuk memperkuat arus kas perusahaan.

Suara.com - Grup Bakrie melalui entitas investasinya, Bakrie Capital Indonesia, terpantau semakin agresif dalam memperkuat posisinya di PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI).

Berdasarkan laporan resmi yang dirilis pada Rabu (15/4/2026), Bakrie Capital kembali melakukan pembelian saham dalam jumlah besar untuk meningkatkan porsi kepemilikannya.

Dalam aksi korporasi terbaru ini, Bakrie Capital memborong sebanyak 464,5 juta lembar saham BIPI. Transaksi tersebut setara dengan 0,73% dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan.

Rincian Transaksi dan Akumulasi Investasi

Pembelian saham kali ini dilakukan pada harga rata-rata Rp250 per saham, yang berarti Bakrie Capital mengucurkan dana segar sebesar Rp116,1 miliar.

Melalui transaksi ini, struktur kepemilikan langsung Bakrie Capital di BIPI mengalami kenaikan menjadi 6,73%, meningkat dari posisi sebelumnya yang berada di level 6%.

Secara historis, Bakrie Capital pertama kali masuk secara signifikan ke BIPI pada 24 Februari 2026 dengan mengakuisisi 6% saham di harga Rp248 per saham senilai Rp948 miliar.

Jika diakumulasikan, hingga pertengahan April 2026, Grup Bakrie telah menggelontorkan dana investasi total sekitar Rp1,06 triliun untuk emiten infrastruktur energi ini.

Pada penutupan perdagangan Rabu (15/4), saham BIPI sendiri merespons positif dengan penguatan 0,7% ke posisi harga Rp278.

Baca Juga: BEI Cabut Suspensi Saham MSIN dan ASPR, Cek Jadwal Perdagangannya!

Langkah Bakrie Capital menambah saham di BIPI dinilai sebagai sinyal dukungan terhadap transformasi agresif yang tengah dilakukan manajemen BIPI.

Saat ini, BIPI sedang dalam fase transisi dari ketergantungan pada bisnis batu bara menuju pengembangan energi terbarukan.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap dan Ahnaf Yassar, dalam risetnya menyebutkan bahwa BIPI kemungkinan besar akan mencari pendanaan ekuitas baru tahun ini untuk mempercepat transisi tersebut. Meskipun demikian, dalam jangka pendek, BIPI masih diuntungkan oleh bisnis batu bara yang solid.

Kenaikan harga energi global akibat dinamika geopolitik, termasuk dampak dari Perang Iran, serta peningkatan kuota rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) dari pemerintah, diprediksi akan mendorong kinerja laba positif bagi BIPI pada tahun 2026.

Perseroan telah menyusun rencana jangka menengah dan panjang untuk memperkuat arus kas melalui berbagai proyek energi bersih, di antaranya:

Gas Alam Cair (LNG): Mengembangkan fasilitas dengan kapasitas awal 2,5 mmscfd pada semester II-2026, dengan target peningkatan hingga 20 mmscfd pada 2027–2028. Rencana ekspansi juga mencakup fasilitas di Batam dan Aceh yang ditargetkan beroperasi secara komersial mulai 2029 hingga 2031.

Load More