Bisnis / Keuangan
Jum'at, 24 April 2026 | 09:26 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo. [Antara]
Baca 10 detik
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkuat kebijakan KLM sejak 16 Desember 2025 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
  • Bank Indonesia telah menyalurkan insentif likuiditas sebesar Rp427,9 triliun kepada berbagai kelompok perbankan hingga minggu pertama April 2026.
  • Dana insentif tersebut disalurkan untuk mendukung pembiayaan sektor strategis, termasuk industri, pertanian, UMKM, dan perumahan di seluruh Indonesia.

Suara.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan komitmen dalam menjaga ketahanan industri perbankan.

Salah satunya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Langkah strategis ini terus dioptimalkan guna memacu penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan, ke berbagai sektor prioritas di seluruh Indonesia agar tetap tumbuh berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.

"Implementasi penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang berlaku sejak enam belas Desember dua ribu dua puluh lima diarahkan untuk memberikan stimulus lebih besar bagi perbankan," katanya dalam siaran pers, Jumat (24/4/2026).

Kata dia, insentif ini menyasar bank-bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor strategis melalui jalur lending channel, serta bank yang responsif dalam menurunkan suku bunga kredit baru untuk mempermudah akses pembiayaan masyarakat melalui jalur interest rate channel.

Perry mengungkapkan bahwa pada minggu pertama April 2026 total insentif KLM yang telah dikucurkan oleh Bank Indonesia tercatat mencapai angka yang signifikan, yakni sebesar Rp427,9 triliun.

Ilustrasi Bank Indonesia (BI).  (Unsplash/nimbostratus)

“Dari total tersebut, alokasi pada jalur penyaluran kredit atau lending channel tercatat sebesar Rp358,0 triliun. Sementara itu, untuk jalur penurunan suku bunga atau interest rate channel mencapai Rp69,9 triliun,” jelas Perry.

Berdasarkan data Bank Indonesia, penyaluran insentif KLM tersebut tersebar ke berbagai kelompok perbankan. Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatatkan penerimaan insentif terbesar senilai Rp224,0 triliun.

Selanjutnya, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) menerima alokasi sebesar Rp166,6 triliun, diikuti oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp29,6 triliun. Sementara itu, Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) juga tercatat menerima insentif likuiditas sebesar Rp7,8 triliun.

Baca Juga: Rupiah di Level Kritis Rp17.300, Pakar Sarankan Ini Buat Pemerintahan Prabowo

Secara sektoral, kebijakan ini terbukti efektif dalam menyentuh lini-lini vital perekonomian Indonesia. Dana likuiditas tersebut telah mengalir ke sector pertanian, industri, serta hilirisasi yang menjadi pilar utama kedaulatan ekonomi.

Selain itu, sektor jasa, termasuk ekonomi kreatif yang tengah berkembang pesat, juga menjadi perhatian utama dalam distribusi insentif ini.

Dukungan likuiditas melalui KLM ini juga mencakup sektor konstruksi, real estate, dan perumahan, serta memperkuat pemberdayaan sektor UMKM, koperasi, inklusi keuangan, dan pembiayaan hijau berkelanjutan.

Melalui optimalisasi instrumen makroprudensial ini, Bank Indonesia berharap perbankan semakin kuat dalam mendukung agenda hilirisasi dan pertumbuhan ekonomi inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Load More