Bisnis / Properti
Jum'at, 24 April 2026 | 23:20 WIB
Ilustrasi Milenial mencari hunian.Foto ist.
Baca 10 detik
  • Milenial & Gen Z pilih riset properti via media sosial ketimbang cara konvensional.
  • Kenaikan bunga KPR buat konsumen lebih selektif dan hati-hati sebelum membeli hunian.
  • Akses transportasi dan gaya hidup jadi faktor utama penentu keputusan beli rumah.

Dia menilai pasar properti saat ini lebih banyak digerakkan kebutuhan riil. Pembeli membeli properti untuk dihuni atau digunakan dalam jangka panjang, bukan sekadar spekulasi.

“Sekarang lebih banyak real demand. Bukan lagi spekulator yang hanya masuk sebentar lalu keluar,” ucap Andy.

Sementara itu, Director of Sales & Marketing PIK2, Lucia Aditjakra, mengatakan pengembang perlu lebih adaptif dalam menghadapi perlambatan pasar properti.

Lucia menegaskan perlambatan tidak berarti kebutuhan hunian hilang. Menurut dia, rumah tetap menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

“Memang ada perlambatan, tetapi tidak berarti orang tidak butuh hunian. Hunian tetap merupakan kebutuhan manusia,” ujar Lucia.

Dia menyebut pengembang perlu menyiapkan skema pembayaran kreatif. Bentuknya bisa berupa kerja sama dengan bank, extended payment, hingga konsep sewa untuk memiliki.

“Kami membuat payment scheme yang kreatif. Bukan sekadar diskon, tetapi bagaimana skemanya bisa membantu konsumen,” kata Lucia.

Lucia mengatakan strategi tersebut diperlukan untuk menjawab tantangan daya beli. Pengembang tidak cukup hanya memberi diskon, tetapi perlu membuat pola pembayaran yang lebih sesuai dengan kondisi konsumen.

Dia juga menekankan pentingnya value engineering agar produk tetap efisien dan berkualitas.

Baca Juga: Suku Bunga dan Daya Beli Jadi Penentu, Bagaimana Peluang Investasi Properti 2026?

“Rumah mungkin makin compact, tetapi harus tetap worth living. Kualitas, lifestyle, dan fleksibilitas tidak boleh dikorbankan,” ujar Lucia.

Load More