Bisnis / Properti
Jum'at, 24 April 2026 | 21:46 WIB
Pengunjung melihat maket rumah pada pameran Indonesia Properti Expo 2022 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (24/11/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Medsos kini jadi ruang riset utama Milenial & Gen Z sebelum beli properti.
  • Akses transportasi dan fasilitas gaya hidup lebih krusial dibanding sekadar harga.
  • Konsumen berharap suku bunga KPR tetap stabil agar cicilan bulanan tidak membengkak.

Suara.com - Peta pemasaran properti Tanah Air mengalami pergeseran drastis. Bagi generasi Milenial dan Gen Z, brosur mengkilap atau pameran konvensional tak lagi jadi rujukan utama dalam menentukan hunian impian. Kini, keputusan membeli rumah justru bermula dari jempol yang menggulir layar media sosial.

Influencer sekaligus konsumen properti, Aya Choiriyah, mengungkapkan bahwa calon pembeli masa kini jauh lebih kritis dengan melakukan riset digital mendalam sebelum menginjakkan kaki di lokasi proyek.

"Pengaruh media sosial sangat besar dalam mencari properti," ujar Aya dalam Seminar Property Outlook bertajuk “Membaca Arah Perkembangan dan Peluang Pasar Properti di Tahun 2026” yang digelar di Main Atrium PIK Avenue, Jakarta Utara, Jumat (24/4/2026).

Menurut Aya, platform digital memudahkan konsumen membandingkan fasilitas, desain, hingga suasana lingkungan secara instan. Konten video dan ulasan jujur dari pembeli lain menjadi variabel penentu (filter) awal yang sangat krusial.

Tak sekadar bangunan fisik, generasi muda kini memburu ekosistem. Aya menyebut, hunian yang laku di mata Milenial adalah yang terintegrasi dengan transportasi publik, pusat kuliner, dan ruang terbuka hijau.

“Milenial juga mempertimbangkan akses. Itu menjadi salah satu faktor penting sebelum membeli properti,” tegasnya.

Di sisi lain, Aya yang juga seorang debitur KPR tak menampik bahwa faktor ekonomi makro tetap membayangi. Fluktuasi suku bunga masih menjadi momok yang paling dirasakan langsung oleh kantong konsumen.

“Sebagai konsumen, harapannya bunga KPR jangan tinggi-tinggi. Yang paling terasa itu perubahan cicilan setiap bulan,” tambahnya.

Ia pun mengingatkan para pengembang agar lebih adaptif. Media sosial tidak boleh hanya sekadar jadi etalase "jualan", tapi harus mampu menyampaikan nilai kawasan secara akurat dan transparan.

Baca Juga: Suku Bunga Goyang Daya Beli, Pasar Properti 2026 Kini Lebih Rasional

"Orang sekarang melihat properti bukan hanya dari harga. Mereka juga melihat lingkungan, akses, dan gaya hidupnya," pungkas Aya.

Load More