Bisnis / Makro
Selasa, 28 April 2026 | 17:52 WIB
Mantan Presiden RI ke-7 Joko Widodo bahkan secara langsung pernah mengunjungi pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam, pada Januari 2024. Foto BPMI Setpres
Baca 10 detik
  • Green SM jadi pemicu awal tabrakan beruntun KRL dan KA Argo Bromo di Bekasi.
  • VinFast yang didukung Jokowi kini diuji soal keandalan armada listriknya.
  • MTI desak KNKT bongkar reliability taksi listrik, bukan cuma investigasi kereta.

Suara.com - Taksi listrik Green SM besutan VinFast mendadak jadi sorotan tajam usai disebut-sebut menjadi pemicu kecelakaan beruntun yang melibatkan KRL relasi Kampung Bandan-Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.

Peristiwa ini bukan sekadar insiden transportasi biasa, tetapi membuka babak baru pertanyaan besar: seberapa siap ekosistem kendaraan listrik yang selama ini digadang-gadang menjadi masa depan transportasi Indonesia?

Kecelakaan bermula dari satu titik yang sederhana tetapi fatal, dimana sebuah taksi Green SM mogok tepat di perlintasan sebidang JPL 85 Ampera, Bekasi Timur. Dalam hitungan detik, kendaraan yang tak mampu bergerak itu dihantam KRL yang tengah melintas.

Efek dominonya brutal. KRL yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur untuk menunggu jalur aman, justru ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek. Satu kendaraan mogok, dua rangkaian kereta bertabrakan. Ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan alarm keras bagi integrasi keselamatan antarmoda.

Yang membuat isu ini makin sensitif, Green SM bukan pemain sembarangan. Perusahaan ini merupakan bagian dari ekosistem bisnis raksasa Vietnam milik miliarder Pham Nhat Vuong melalui Vingroup, konglomerasi yang menggurita di sektor properti, kesehatan, retail, hingga kendaraan listrik lewat VinFast.

Nama VinFast sendiri bukan nama asing di Indonesia. Mantan Presiden RI ke-7 Joko Widodo bahkan secara langsung pernah mengunjungi pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam, pada Januari 2024.

Kala itu, Jokowi melihat langsung proses produksi mobil listrik, mulai dari perakitan hingga pemasangan baterai. Bahkan ia secara terbuka memberi dukungan penuh terhadap investasi VinFast di Indonesia.

Pernyataan Jokowi kala itu menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin mempercepat lahirnya ekosistem kendaraan listrik nasional.

Tak tanggung-tanggung, VinFast menggelontorkan komitmen investasi jumbo senilai US$1,2 miliar atau sekitar Rp18,7 triliun untuk Indonesia. Dari angka itu, US$200 juta dialokasikan untuk pembangunan pabrik mobil listrik berkapasitas 30.000-50.000 unit per tahun.

Baca Juga: Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi

Bukan hanya itu, VinFast dan Green SM juga menggandeng GoTo Tokopedia untuk mendorong migrasi pengemudi Gojek ke kendaraan listrik. Green SM sendiri menyiapkan investasi tambahan US$900 juta atau sekitar Rp14 triliun.

Namun kini, ambisi besar itu tersandung realita di lapangan.

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) secara terbuka meminta investigasi diperluas. Bukan hanya soal sistem operasional kereta, tetapi juga membedah keandalan unit kendaraan listrik VinFast yang menjadi pemicu awal kecelakaan.

Ketua Forum Perkeretaapian MTI, Deddy Herlambang, menilai investigasi teknis terhadap unit Green SM wajib dilakukan.

Menurutnya, jika terbukti ada kelemahan teknis yang membuat kendaraan rentan mati mendadak di titik-titik kritis seperti perlintasan kereta, maka izin operasional armada semacam ini harus dievaluasi total.

Mobil listrik dijual dengan narasi efisiensi, ramah lingkungan, dan teknologi masa depan. Tetapi jika dalam kondisi operasional riil masih menyimpan risiko gagal fungsi di ruang publik, apalagi di titik berisiko tinggi seperti rel kereta, maka pertanyaan publik menjadi sah: apakah percepatan elektrifikasi berjalan lebih cepat daripada kesiapan sistem keselamatannya?

Load More