Bisnis / Makro
Rabu, 29 April 2026 | 09:44 WIB
Ilustrasi mahasiswa (Freepik)
Baca 10 detik
  • Kemdiktisaintek berencana menutup program studi yang dinilai usang untuk menyesuaikan lulusan dengan kebutuhan delapan sektor industri strategis nasional.
  • Sekjen Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco menegaskan perlunya perguruan tinggi beralih dari strategi berbasis popularitas menuju strategi pengembangan industri.
  • Evaluasi ini menyasar jurusan administratif, sosial teoretis, dan manufaktur konvensional guna menekan angka pengangguran terdidik di Indonesia.

"Cara bagaimana? Program studinya yang disesuaikan. Program studinya yang perlu dikembangkan untuk prodi-prodi baru yang sesuai dengan delapan industri strategi tadi," ujar Badri.

Delapan Pilar Penggerak Perekonomian Masa Depan

Integrasi antara dunia akademik dan industri ini telah dirancang secara matang bersama Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Fokus utamanya adalah penguasaan teknologi tinggi.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, sebelumnya telah memetakan dengan jelas batas-batas industri yang menjadi prioritas negara.

"Sektor penting yaitu 8 prioritas sektor strategis nasional, meliputi energi, pertahanan, digitalisasi--yaitu kecerdasan buatan dan semikonduktor, kemudian hilirisasi, dan industrialisasi, kesehatan, pangan, maritim, material dan manufaktu maju," jelas Fauzan.

Sektor-sektor ini tidak hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga untuk menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok global, terutama melalui proyek hilirisasi dan digitalisasi.

"Sehingga terjadi integrasi antara sains dan teknologi dan industri, untuk perekonomian," pungkas Fauzan.

Desclaimer: Informasi yang tertuang dalam artikel ini merupakan hasil analisis redaksi berdasarkan pernyataan resmi Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek mengenai evaluasi relevansi program studi terhadap delapan sektor industri strategis nasional. Daftar jurusan yang disebutkan sebagai "berpotensi ditutup" merupakan bentuk prakiraan (prediksi) berdasarkan korelasi kurikulum tradisional dengan kebutuhan industri masa depan, dan bukan merupakan daftar resmi yang diterbitkan oleh pemerintah.

Baca Juga: Siapa Keona Ezra Pangestu? Terduga Pelaku Pelecehan Seksual FH UI yang Paling Disorot

Load More