News / Nasional
Senin, 20 April 2026 | 22:15 WIB
Pria sedang berwudhu di Masjid Walidah Dahlan Unisa (Suara.com/Chyntia Sami)
Baca 10 detik
  • Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta menerapkan sistem daur ulang air wudhu untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.
  • Kampus-kampus Muhammadiyah tersebut melakukan efisiensi energi melalui penggunaan perangkat hemat listrik dan rencana instalasi panel surya.
  • Inisiatif ini bertujuan menekan emisi, menghemat biaya operasional, serta mengubah kebiasaan civitas akademika dalam melestarikan lingkungan sekitar.

Suara.com - Air mengucur pelan dari kran di tempat wudhu Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Kamis (9/4/2026). Satu per satu mahasiswa mengulurkan tangan mereka, membasuh telapak, wajah hingga kaki.

Ritual ini dilakukan berulang sebanyak lima kali sehari. Bagi sebagian dari mereka, setidaknya dua waktu salat diantaranya dilakukan di masjid kampus tempat mereka menimba ilmu itu, di sela aktivitas perkuliahan yang padat.

Di banyak tempat, air wudhu memang berakhir di saluran pembuangan tanpa jejak. Namun di masjid ini, alirannya tidak berhenti di sana. Bekas air wudhu ditampung, disaring lalu kembali dipakai. Sebuah praktik yang dikenal sebagai daur ulang air wudhu.

Di balik praktik tersebut, ada misi besar untuk keberlanjutan lingkungan yang ingin dicapai, yakni menghemat air, menekan penggunaan energi dan pada akhirnya ikut menjaga bumi dari beban emisi yang kian meningkat.

Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Evi Afiatun dkk dalam Journal of Community Based Environmental Engineering and Management vol. 6 tahun 2022 berjudul 'Study of Potential Utilization opf Recycling Ablution Used Water, Case Study at Ulul Albaab Mosque, Universitas Pasundan, Bandung, Indonesia', penggunaan air untuk aktivitas ibadah sangatlah besar. Dalam satu waktu salat, seseorang bisa menghabiskan 3,9 liter air untuk berwudhu dengan durasi waktu wudhu rata-rata 64 detik. Jika dikalikan lima kali salat, maka air yang dihabiskan mencapai 19,5 liter air per orang setiap harinya.

Terlebih, wilayah Yogyakarta dibayang-bayangi oleh krisis air bersih selama beberapa tahun terakhir. Riset Amarta Institute dan Tifa Foundation menunjukkan, 51 persen kebutuhan air di Yogyakarta berasal dari air tanah, sebagian besar digunakan untuk aktivitas pariwisata.

Bahkan, data Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) DIY tahun 2015 mencatat 86 persen air yang digunakan bersumber dari air tanah, sementara 13 persen diambil dari air permukaan. Oleh karena itu, upaya penghematan air perlu dilakukan, salah satunya melalui daur ulang air wudhu yang dapat dilakukan di masjid-masjid seluruh Indonesia.

Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan mengatakan, upaya tersebut telah dilakukan di masjid-masjid komunitas maupun di institusi pendidikan jaringan Muhammadiyah.

Muhammadiyah memiliki misi membantu mengurangi emisi dengan gerakan-gerakan nyata yang memiliki dampak luas dan berkelanjutan. Nilai-nilai itu berakar dari ajaran dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang peran manusia sebagai khalifah di bumi dan tanggung jawab menjaga keseimbangan alam.

"Misalnya Al-Baqarah ayat 20,tentang kerusakan bumi, tentang manusia sebagai khalifah, tentang bersikap adil. Nah dari situ kita transformasi dalam bentuk aksi, salah satunya pengolahan air, dari air wudhu menjadi air yang digunakan ulang," ujar Hening.

Masjid Islamic Center UAD (Suara.com/Chyntia Sami)

Memanen Hujan hingga Efisiensi Energi di UAD

Komitmen terhadap lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan UAD. Gagasan menghadirkan ruang belajar yang ramah lingkungan dan hemat energi berangkat dari pemaknaan ajaran dalam Al-Qur’an bahwa manusia bukan sekadar pengguna alam, melainkan juga penjaga yang bertanggung jawab merawat keberlanjutannya.

Wakil Rektor Bidang Keuangan, Kehartabendaan, dan Administrasi Umum UAD, Dr. Utik Bidayati, S.E., M.M. mengatakan, komitmen efisien energi sudah ditanamkan sejak tahap awal pembangunan kampus. Desain bangunan dirancang agar efisien energi, dengan memaksimalkan masuknya cahaya alami dan memastikan sirkulasi udara tetap lancar. Pendekatan ini membuat kebutuhan lampu untuk penerangan dan pendingin ruangan dapat ditekan sejak awal.

“Kita tidak cuma ikut-ikutan saja, tapi memang kita rencanakan sejak awal,” ujar Utik.

Ia menilai, kampus bukan sekadar ruang belajar, melainkan juga tempat membentuk kesadaran. Mahasiswa yang ditempa di lingkungan seperti ini diharapkan tumbuh menjadi individu yang peka terhadap isu lingkungan dan mampu membawa perubahan di masyarakat.

Instalasi daur ulang air wudhu di UAD (Suara.com/Chyntia Sami)

Kepala Biro Sarana dan Prasarana UAD, Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng. menjelaskan, konsep ramah lingkungan juga diterapkan dalam pengelolaan air, yakni dengan melakukan daur ulang air wudhu dan air hujan untuk menghemat penggunaan air.

Load More