- IKI April 2026 di level 51,75, manufaktur RI tetap ekspansi meski melambat tipis.
- Industri tembakau dan kertas jadi penopang utama berkat tren substitusi plastik.
- 16 subsektor ekspansi, namun industri tekstil dan minuman masih alami kontraksi.
Suara.com - Sektor manufaktur Indonesia terbukti masih memiliki daya tahan tinggi di tengah gempuran ketidakpastian global. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode April 2026 tetap kokoh di zona ekspansi.
Berdasarkan data terbaru, IKI April 2026 tercatat berada di level 51,75. Meski angka ini menunjukkan sedikit perlambatan tipis sebesar 0,11 poin dibandingkan Maret 2026 yang berada di posisi 51,86, tren positif ini menegaskan bahwa denyut nadi industri pengolahan tanah air belum terhenti.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Walaupun terdapat tekanan dari dinamika logistik global hingga fluktuasi harga bahan baku, industri tetap mampu bergerak maju.
“Ini berarti industri pengolahan manufaktur pada April 2026 ini masih ekspansi,” tegas Febri dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (29/4/2026).
Dari total 23 subsektor industri yang dipantau, sebanyak 16 subsektor masih nyaman berada di zona ekspansi. Kontribusi ke-16 subsektor ini tidak main-main, yakni mencapai 78,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan IV 2025.
Menariknya, industri pengolahan tembakau (KBLI 12) serta industri kertas dan barang dari kertas (KBLI 17) tampil sebagai primadona dengan kinerja tertinggi. Sektor kertas, misalnya, mendapat 'angin segar' dari tren gaya hidup ramah lingkungan.
Dirjen Industri Agro, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa masifnya penggunaan kemasan kertas sebagai substitusi plastik menjadi pendongkrak utama pesanan, baik di pasar domestik maupun ekspor.
Namun, Kemenperin juga memberikan catatan merah bagi tujuh subsektor yang masih terjepit di zona kontraksi. Sektor-sektor sensitif seperti industri minuman, tekstil, bahan kimia, dan alat angkut lainnya masih harus berjuang keras menghadapi tekanan pasar yang belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga: Marak Penyalahgunaan Narkoba, Pengusaha Liquid Tegaskan Vape Legal Aman
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
BUMN Ini Sulap Kampung Mutus Jadi Mandiri, Ekonomi Warga Melejit 87,5 Persen
-
IHSG Ditutup Perkasa ke Level 7.100, Ini Pemicunya
-
Aksi Nyata Peduli Bumi, Pegadaian Inisiasi Gerakan PURE Movement
-
BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'
-
Pemerintah Klaim Ketergantungan Indonesia ke Selat Hormuz Hanya 20 Persen
-
Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS
-
Kelas Menengah Terus Mengelus Dada: Gaji Tak Naik-naik dan Daya Beli yang Kian Payah
-
Hilirisasi Digeber, RI Bidik Pangkas Impor BBM dan LPG hingga Rp1,25 Miliar per Tahun
-
Purbaya Siap Kasih Insentif Pajak ke Pasar Modal, Tapi Ada Syaratnya
-
Gerbong Wanita Disorot Usai Kecelakaan KRL, Salah Posisi atau Salah Sistem?