Bisnis / Makro
Rabu, 29 April 2026 | 17:53 WIB
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni. Foto Fakhri-Suara.com
Baca 10 detik
  • IKI April 2026 di level 51,75, manufaktur RI tetap ekspansi meski melambat tipis.
  • Industri tembakau dan kertas jadi penopang utama berkat tren substitusi plastik.
  • 16 subsektor ekspansi, namun industri tekstil dan minuman masih alami kontraksi.

Suara.com - Sektor manufaktur Indonesia terbukti masih memiliki daya tahan tinggi di tengah gempuran ketidakpastian global. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode April 2026 tetap kokoh di zona ekspansi.

Berdasarkan data terbaru, IKI April 2026 tercatat berada di level 51,75. Meski angka ini menunjukkan sedikit perlambatan tipis sebesar 0,11 poin dibandingkan Maret 2026 yang berada di posisi 51,86, tren positif ini menegaskan bahwa denyut nadi industri pengolahan tanah air belum terhenti.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Walaupun terdapat tekanan dari dinamika logistik global hingga fluktuasi harga bahan baku, industri tetap mampu bergerak maju.

“Ini berarti industri pengolahan manufaktur pada April 2026 ini masih ekspansi,” tegas Febri dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (29/4/2026).

Dari total 23 subsektor industri yang dipantau, sebanyak 16 subsektor masih nyaman berada di zona ekspansi. Kontribusi ke-16 subsektor ini tidak main-main, yakni mencapai 78,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan IV 2025.

Menariknya, industri pengolahan tembakau (KBLI 12) serta industri kertas dan barang dari kertas (KBLI 17) tampil sebagai primadona dengan kinerja tertinggi. Sektor kertas, misalnya, mendapat 'angin segar' dari tren gaya hidup ramah lingkungan.

Dirjen Industri Agro, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa masifnya penggunaan kemasan kertas sebagai substitusi plastik menjadi pendongkrak utama pesanan, baik di pasar domestik maupun ekspor.

Namun, Kemenperin juga memberikan catatan merah bagi tujuh subsektor yang masih terjepit di zona kontraksi. Sektor-sektor sensitif seperti industri minuman, tekstil, bahan kimia, dan alat angkut lainnya masih harus berjuang keras menghadapi tekanan pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Baca Juga: Marak Penyalahgunaan Narkoba, Pengusaha Liquid Tegaskan Vape Legal Aman

Load More