Bisnis / Keuangan
Kamis, 30 April 2026 | 07:53 WIB
Ilustrasi pergerakan Wall Street ditutup bervariasi REUTERS/Brendan McDermid/aa.
Baca 10 detik
  • Bursa saham Wall Street ditutup bervariasi pada 29 April 2026 akibat tekanan harga minyak serta kebijakan bank sentral.
  • Lonjakan harga minyak mentah terjadi setelah Presiden Trump memerintahkan blokade berkepanjangan terhadap Iran di Selat Hormuz.
  • The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,5 hingga 3,75 persen di tengah kekhawatiran terhadap kenaikan laju inflasi.

Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu. 29 April 2026 (Kamis Pagi). Wall Street masih tertekan onjakan harga minyak serta sikap hati-hati bank sentral AS.

Mengutip CNBC, Kamis (30/4/2026), indeks saham Wall Street rata-rata merosot. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 280,12 poin atau 0,57 persen ke level 48.861,81. Pelemahan ini menjadi penurunan kelima berturut-turut bagi indeks berisi 30 saham unggulan tersebut.

Sementara itu, S&P 500 terkoreksi tipis 0,04 persen ke posisi 7.135,95. Berbeda arah, Nasdaq Composite justru menguat tipis 0,04 persen ke level 24.673,24.

Sentimen utama pasar datang dari lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik. Laporan menyebutkan Presiden Donald Trump memerintahkan persiapan blokade berkepanjangan terhadap Iran, termasuk mempertahankan tekanan di Selat Hormuz hingga tercapai kesepakatan terkait program nuklir negara tersebut.

Ilustrasi pergerakan saham di bursa Wall Street. [Pexels].

Kondisi ini mendorong harga minyak melonjak tajam. Minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate dan minyak Brent crude masing-masing ditutup naik sekitar 6-7 persen, dengan Brent mencapai 107,16 dolar AS per barel dan WTI di kisaran 118,80 dolar AS per barel.

Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi dalam jangka pendek.

Dalam rapat terbaru, Federal Reserve melalui Federal Open Market Committee memutuskan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen dengan hasil voting 8-4. Ini menjadi pertama kalinya sejak 1992 terdapat empat anggota yang berbeda pendapat dalam keputusan suku bunga.

Pasar juga mencermati dinamika kepemimpinan bank sentral. Powell disebut kemungkinan akan mengakhiri masa jabatannya sebagai ketua pada Mei mendatang, dengan Kevin Warsh yang dinominasikan Trump berpotensi menjadi penggantinya.

Di sisi lain, perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa seperti Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft yang dijadwalkan rilis setelah penutupan pasar.

Baca Juga: Wall Street Meloyo Imbas Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi

Pelaku pasar menaruh ekspektasi tinggi terhadap kinerja perusahaan-perusahaan tersebut, terutama terkait efektivitas investasi besar mereka di sektor kecerdasan buatan (AI).

"Kinerja laba kemungkinan besar akan melampaui ekspektasi, namun fokus utama pasar adalah panduan ke depan, baik dari sisi pertumbuhan maupun belanja investasi," ujar Chris Brigati, kepala investasi di SWBC.

Di tengah tekanan sektor teknologi sebelumnya, sejumlah saham justru mencatat lonjakan signifikan. Saham Seagate Technology dan NXP Semiconductors masing-masing melesat lebih dari 11 persen dan 25 persen setelah melaporkan kinerja yang melampaui ekspektasi serta memberikan proyeksi positif.

Secara keseluruhan, pasar masih dibayangi ketidakpastian dari kombinasi faktor geopolitik, arah kebijakan moneter, serta ekspektasi tinggi terhadap sektor teknologi yang menjadi penopang utama reli Wall Street dalam beberapa waktu terakhir.

Load More