- Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.345 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 30 April 2026.
- Pelemahan dipicu oleh krisis energi global akibat konflik Timur Tengah serta rendahnya kepuasan investor terhadap pemerintah.
- Kondisi ini menempatkan rupiah di titik terendah sejarah dan diperkirakan akan terus berlanjut dalam jangka waktu menengah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah semakin melemah pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026) dan kembali berada di titik paling rendah dalam sejarah mata uang Indonesia. Kondisi ini terjadi karena faktor krisis energi dan rendahnya kepuasan pada kinerja perekonomian pemerintah.
Seperti dilansir dari Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Kamis sore menyentuh Rp17.345 per dolar AS, turun sekitar 0,11 persen dibandingkan dengan pada penutupan perdagangan Rabu kemarin.
Sementara di awal perdagangan Kamis pagi, rupiah dibuka di kisaran Rp17.349 dolar AS - nilai paling lemah dalam sejarah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pada mata uang Garuda belum akan berakhir, demikian disampaikan Analis Doo Financial Futures Lukman Leong. Ia mengatakan selain krisis energi akibat konflik di Timur Tengah, rupiah terus melemah karena rendahnya kepuasan investor pada kinerja pemerintah.
"Sentimen risk off domestik dan juga harga minyak dunia yang terus meningkat akan semakin melebarkan defisit anggaran," katanya saat dihubungi Suara.com.
Kata dia, sentimen domestik masih sangat lemah, investor masih tidak puas akan pemerintah yang tidak melakukan perbaikan drastis untuk menurangi defisit, serta BI yang hanya mengandalkan intervensi.
"Perlemahan ini diperkirakan masih akan berkelanjutan untuk jangka pendek hingga menengah," tandasnya.
Sementara itu sebagian kecil mata uang di Asia juga menunjukkan tren pelemahan, meski tidak seburuh rupiah. Ringgit Malaysia yang melemah 0,42 persen, dolar Taiwan yang melemah 0,31 persen, rupe India yang melemah 0,29 persen.
Sedangkan mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini. Won Korea menguat 0,60 persen, baht Thailand menguat 0,42 persen yen Jepang menguat 0,24 persen dan dolar Singapura menguat 0,18 persen.
Baca Juga: Rupiah Loyo Lagi, Masih Betah di Level Rp 17.242/USD
Bahkan peso Filipina juga menguat 0,18 persen. Sementara yuan China menguat 0,07 persen dan dolar Hong Kong menguat 0,04 persen.
Berita Terkait
-
Anjlok Lebih Dalam Pagi Ini, Rupiah Terus Cetak Rekor Terburuk
-
BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'
-
Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS
-
Rupiah Babak Belur Pagi Ini ke Level Rp17.289 Per Dolar AS
-
Rupiah Loyo Lagi, Masih Betah di Level Rp 17.242/USD
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
- 5 Rekomendasi Sepeda Roadbike Rp1 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Harian
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Jangan Tebak Harga, Ini Strategi yang Tepat Investasi Kripto di Tengah Pasar Sideway
-
Indosaku Tindak Tegas Debt Collector Nakal, Putus Kerja Sama dan Perkuat Perlindungan Konsumen
-
Industri Asuransi Jiwa Syariah Tumbuh Double Digit, Prudential Syariah Kempit Pangsa Pasar 22 Persen
-
Purbaya Pastikan Tak Ada Kenaikan Maupun Aturan Pajak Baru Sebelum Ekonomi Membaik
-
Purbaya Bikin Aturan Baru soal Anggaran OJK, Klaim Tetap Independen
-
Minyak Brent Terbang USD119 Per Barel, Harga BBM RI Naik Malam Ini?
-
BRI Pertahankan Kinerja Solid, Laba Bersih Melesat13,7% Jadi Rp15,5 triliun di Triwulan I 2026
-
IHSG Merana, BBCA Masih Dominasi Transaksi
-
Perusahan Tambang Asal Australia Nunggak Hak Karyawan RI Rp 600 Miliar
-
Emiten TOBA Catatkan Pendapatan Naik 20,6% di Kuartal I-2026