- BI memutuskan untuk bersikap konservatif di tengah memanasnya eskalasi konflik global.
- BI saat ini sedang berada dalam posisi "menjaga gawang" yang cukup menantang.
- Data menunjukkan depresiasi Rupiah yang cukup signifikan. Jika pada 27 Februari 2026 nilai tukar masih berada di level Rp16.750/US$, memasuki April 2026 posisinya terjungkal hingga Rp17.140/US$.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk bersikap konservatif di tengah memanasnya eskalasi konflik global yang mulai menekan stabilitas nilai tukar Rupiah. Meski inflasi mulai merangkak naik mendekati batas atas target, otoritas moneter memilih untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%.
Ekonom sekaligus Akademisi dari Universitas Jember, Adhitya Wardhono, membedah data perbandingan kebijakan moneter Indonesia sebelum dan saat terjadinya konflik pada periode awal 2026. Menurutnya, BI saat ini sedang berada dalam posisi "menjaga gawang" yang cukup menantang.
"BI memilih hold, bukan cut. Ini adalah langkah taktis untuk menjaga koridor suku bunga tetap stabil, meski tekanan eksternal kian nyata," ujar Adhitya dalam diskusi virtual Core Indonesia bertajuk “Ujian Resiliensi Ekonomi" Rabu (29/4/2026).
Data menunjukkan depresiasi Rupiah yang cukup signifikan. Jika pada 27 Februari 2026 nilai tukar masih berada di level Rp16.750/US$, memasuki April 2026 posisinya terjungkal hingga Rp17.140/US$.
Untuk menahan kejatuhan mata uang Garuda yang lebih dalam, BI terpaksa merogoh kocek cadangan devisa (Cadev) cukup dalam. Tercatat, Cadev yang pada Januari 2026 masih gagah di angka US$154,6 miliar, melorot menjadi US$148,2 miliar pada akhir Maret. Artinya, ada penurunan sekitar US$6,4 miliar dalam kurun waktu singkat demi stabilitas kurs.
Guna menarik kembali aliran modal asing yang keluar (capital outflow), BI mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Nilai SRBI melonjak dari Rp819,50 triliun di bulan Februari menjadi Rp885,41 triliun pada April 2026.
"SRBI dipakai sebagai daya tarik bagi dana portofolio agar tidak kabur ke luar negeri. Di sisi lain, BI juga aktif melakukan pembelian SBN hingga mencapai Rp111,54 triliun per 21 April untuk menjaga likuiditas pasar," jelas Adhitya.
Meski dibayangi ketidakpastian global, sisi domestik menunjukkan ketahanan yang lumayan. Inflasi inti per Maret 2026 masih berada di level 2,52% (yoy), mencerminkan ekspektasi masyarakat yang relatif terkendali.
Fungsi intermediasi perbankan juga tidak berhenti bergerak. Penyaluran kredit per Maret tercatat tumbuh 9,49% (yoy), sedikit melambat dibandingkan Januari (9,96%), namun masih dalam jalur yang positif untuk mendukung roda ekonomi nasional.
Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS
"Likuiditas tetap dijaga melalui M2 (Uang Beredar) yang tumbuh 9,7% di bulan Maret. Tantangan ke depan adalah bagaimana BI menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar tanpa harus mencekik pertumbuhan ekonomi domestik," pungkas Adhitya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Pemerintah Klaim Ketergantungan Indonesia ke Selat Hormuz Hanya 20 Persen
-
Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS
-
Kelas Menengah Terus Mengelus Dada: Gaji Tak Naik-naik dan Daya Beli yang Kian Payah
-
Hilirisasi Digeber, RI Bidik Pangkas Impor BBM dan LPG hingga Rp1,25 Miliar per Tahun
-
Purbaya Siap Kasih Insentif Pajak ke Pasar Modal, Tapi Ada Syaratnya
-
Gerbong Wanita Disorot Usai Kecelakaan KRL, Salah Posisi atau Salah Sistem?
-
Duduk Lesu dan Baju Lusuh saat Tragedi KRL Bekasi, Harta Kekayaan Dirut KAI Bobby Rasyidin Disorot
-
Airlangga Soroti Sepinya IPO Pasar Saham RI di Q1 2026, Ini Penyebabnya
-
Kemendag Siapkan Karpet Merah Regulasi KBLI 2025, Busan: Agar Dunia Usaha Makin Adaptif!
-
Rel KRL dan Kereta Jarak Jauh di Bekasi Harus Dipisah