- Harga cabai melonjak tajam hingga 3,7%, makin mencekik kantong rakyat.
- Cabai rawit merah tembus Rp65.350, beban ekonomi kian berat.
- Beras dan ayam ikut naik, daya beli masyarakat berada di ujung tanduk.
Suara.com - Tekanan ekonomi kian nyata menghimpit daya beli masyarakat. Mengawali pekan kedua Mei 2026, lonjakan harga pangan nasional di pasar tradisional semakin tak terkendali.
Berdasarkan data terbaru Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia per Senin (11/5/2026) pagi, komoditas utama dapur seperti cabai dan bawang merah mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan, meninggalkan beban berat bagi kantong konsumen.
Kelompok cabai menjadi penyumbang "kengerian" utama bagi ibu rumah tangga. Cabai rawit merah kini berada di level yang sangat tinggi, menyentuh Rp65.350 per kilogram setelah melonjak 2,91 persen dalam semalam.
Tidak berhenti di situ, cabai merah keriting pun "terbakar" dengan kenaikan tajam 3,71 persen menjadi Rp50.300 per kilogram, disusul cabai merah besar yang menembus Rp52.400.
Bahkan cabai rawit hijau yang biasanya menjadi alternatif murah kini mulai merangkak naik ke angka Rp49.400. Tren kenaikan ini menunjukkan kegagalan stabilitas harga di tingkat hulu yang berdampak langsung pada biaya hidup harian.
Tak hanya cabai, bawang merah juga tak mau kalah dengan kenaikan nyaris satu persen menjadi Rp46.800 per kilogram.
Kondisi ini diperparah dengan harga minyak goreng kemasan bermerek II yang ikut naik menjadi Rp23.000 per kilogram.
Meskipun bawang putih dan telur mengalami sedikit penurunan, angkanya dinilai tidak signifikan untuk mengompensasi lonjakan drastis pada komoditas lainnya.
Di tengah badai kenaikan harga bumbu-bumbuan, harapan masyarakat untuk mendapatkan karbohidrat murah pun pupus.
Baca Juga: Prabowo di Gorontalo: Indonesia Kuat, Tak Panik Hadapi Gejolak Dunia karena Swasembada Pangan
Harga beras kualitas bawah II justru naik tipis menjadi Rp14.550, mengindikasikan bahwa bahkan beras kualitas rendah pun sulit dijangkau.
Sementara itu, daging ayam ras segar terus merangkak naik ke level Rp39.100 per kilogram, menambah daftar panjang protein hewani yang kian mahal bagi rakyat kecil.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Tarif KOL Capai Rp 150 Juta, Startup Ini Pilih Bayar Konsumen Biasa
-
MIND ID Percepat Pemulihan Ekosistem Lewat Reklamasi dan Rehabilitasi DAS Skala Besar
-
IHSG Merosot ke Level 5.835 di Sesi I, Saham CUAN dan DEWA Ambrol
-
PT Pegadaian CPS Pondok Aren Kolaborasi dengan Sahabat Berbagi Tangsel Gelar Santunan Yatim & Dhuafa
-
Investasi Rp339 Triliun, Blok Masela Target Mulai Konstruksi 2027
-
Juli 2026, Pemerintah Mulai Produksi CNG Rumah Tangga Pengganti LPG
-
Harga LNG Naik, INDEF Ingatkan Pemerintah Mitigasi Risiko PHK Industri
-
Purbaya Akui Pemda RI Belum Siap Rilis Surat Utang, Ogah Bangkrut Seperti Argentina
-
Kartu Kredit Infinite Prioritas Hasil Kolaborasi BRI dan Visa: Hadirkan Banyak Keuntungan Eksklusif
-
Beri Kode Jempol Oke! Purbaya dan Nanik Mulai Timbang Pangkas Anggaran MBG?