Bisnis / Keuangan
Senin, 11 Mei 2026 | 10:31 WIB
Kondisi yang tak jauh berbeda juga dialami oleh kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) yang mematok rupiah di level Rp17.375 per dolar AS. [Antara]
Baca 10 detik
  • Rupiah terkapar di Rp17.407 per dolar AS akibat lonjakan harga minyak dunia.
  • Sentimen domestik rapuh, indeks kepercayaan konsumen diprediksi merosot.
  • Mata uang Asia rontok berjamaah; rupiah semakin tak bertenaga di zona merah.

Suara.com - Awan mendung menyelimuti pasar keuangan domestik pada awal pekan kedua Mei 2026. Mata uang Garuda kembali  dibuka lunglai terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/5/2026) pagi. Tekanan global yang kian mencekik ditambah sentimen domestik yang rapuh membuat posisi rupiah semakin terjepit di zona merah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot harus rela ditutup melempem ke level Rp17.407 per dolar AS. Mata uang kebanggaan Indonesia ini tercatat terjun bebas 25 poin atau melemah 0,14 persen jika dibandingkan dengan penutupan Jumat lalu yang masih berada di posisi Rp17.382. Kondisi yang tak jauh berbeda juga dialami oleh kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) yang mematok rupiah di level Rp17.375 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menunjuk kenaikan harga minyak mentah dunia sebagai "biang kerok" utama yang menggerus kekuatan rupiah. Situasi kian memanas setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu, yang memicu kekhawatiran pasokan energi dan memperkasa posisi the greenback.

"Rupiah akan terus tertekan seiring menguatnya dolar dan harga minyak mentah dunia," ujar Lukman.

Tak hanya dihantam badai eksternal, fondasi ekonomi dalam negeri pun mulai menunjukkan retakan. Para investor kini menaruh kecemasan tinggi terhadap data survei kepercayaan konsumen yang diramal bakal merosot dari 122.9 menjadi 122.0. Penurunan ini mencerminkan pudarnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional, yang kian membebani langkah rupiah.

Di kawasan regional, nasib nahas rupiah ini sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan tercatat sebagai yang paling menderita dengan anjlok 0,73 persen, disusul Baht Thailand yang ambles 0,56 persen. Di tengah kepungan tren negatif ini, hanya Yuan China dan Dolar Taiwan yang mampu sedikit bernapas lega dengan penguatan tipis.

Dengan proyeksi pergerakan di rentang Rp17.300 hingga Rp17.400, masa depan rupiah di sisa pekan ini tampak kian suram jika tidak ada intervensi atau sentimen positif yang mampu menahan laju kejatuhannya.

Load More