- Rupiah terkapar di Rp17.407 per dolar AS akibat lonjakan harga minyak dunia.
- Sentimen domestik rapuh, indeks kepercayaan konsumen diprediksi merosot.
- Mata uang Asia rontok berjamaah; rupiah semakin tak bertenaga di zona merah.
Suara.com - Awan mendung menyelimuti pasar keuangan domestik pada awal pekan kedua Mei 2026. Mata uang Garuda kembali dibuka lunglai terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/5/2026) pagi. Tekanan global yang kian mencekik ditambah sentimen domestik yang rapuh membuat posisi rupiah semakin terjepit di zona merah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot harus rela ditutup melempem ke level Rp17.407 per dolar AS. Mata uang kebanggaan Indonesia ini tercatat terjun bebas 25 poin atau melemah 0,14 persen jika dibandingkan dengan penutupan Jumat lalu yang masih berada di posisi Rp17.382. Kondisi yang tak jauh berbeda juga dialami oleh kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) yang mematok rupiah di level Rp17.375 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menunjuk kenaikan harga minyak mentah dunia sebagai "biang kerok" utama yang menggerus kekuatan rupiah. Situasi kian memanas setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu, yang memicu kekhawatiran pasokan energi dan memperkasa posisi the greenback.
"Rupiah akan terus tertekan seiring menguatnya dolar dan harga minyak mentah dunia," ujar Lukman.
Tak hanya dihantam badai eksternal, fondasi ekonomi dalam negeri pun mulai menunjukkan retakan. Para investor kini menaruh kecemasan tinggi terhadap data survei kepercayaan konsumen yang diramal bakal merosot dari 122.9 menjadi 122.0. Penurunan ini mencerminkan pudarnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional, yang kian membebani langkah rupiah.
Di kawasan regional, nasib nahas rupiah ini sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan tercatat sebagai yang paling menderita dengan anjlok 0,73 persen, disusul Baht Thailand yang ambles 0,56 persen. Di tengah kepungan tren negatif ini, hanya Yuan China dan Dolar Taiwan yang mampu sedikit bernapas lega dengan penguatan tipis.
Dengan proyeksi pergerakan di rentang Rp17.300 hingga Rp17.400, masa depan rupiah di sisa pekan ini tampak kian suram jika tidak ada intervensi atau sentimen positif yang mampu menahan laju kejatuhannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
Harga Pangan Kian Mencekik, Cabai dan Bawang Naik di Awal Pekan
-
IHSG Masih Merosot pada Pembukaan Senin ke Level 6.959
-
Emas Antam Merosot awal Pekan Ini, Harganya Tembus Rp 2.819.000/Gram
-
Pasar Emas Sedang Konsolidasi? Simak Update Harga Antam dan UBS Hari Ini
-
Keponakan Prabowo Sebut Ekonomi Global Masuk Zona Bahaya
-
PLN Hadirkan SPKLU Ultra Fast Charging Pertama di Kawasan Wisata Aloha PIK 2
-
Target 1,4 Juta Wisatawan, Kawasan Wisata Pesisir Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik
-
Anggaran Dipangkas, Dapur Tak Ngebul: Jeritan Seniman Jogja hingga Sarjana Menganggur
-
Tren Tobacco Harm Reduction: Produk Alternatif Jadi Pilihan Kurangi Risiko Merokok
-
Hanya Berlangsung 3 Hari, IHSG Pekan Ini Akan Dibayangi Rebalancing MSCI