- Harga minyak Brent melonjak ke USD 104,47 akibat gagalnya kesepakatan damai AS-Iran.
- Krisis Selat Hormuz sebabkan dunia kehilangan 1 miliar barel pasokan minyak mentah.
- Pasar fokus pada pertemuan Trump-Xi Jinping di Beijing untuk redam tensi Timur Tengah.
Suara.com - Pasar energi global kembali bergejolak pada perdagangan Senin (11/5/2026). Harga minyak mentah dunia melonjak tajam lebih dari USD 3 per barel menyusul kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini diperparah oleh krisis berkepanjangan di Selat Hormuz yang mencekik arus pasokan minyak dunia.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka melesat USD 3,18 atau 3,14 persen ke posisi USD 104,47 per barel pada pukul 06.36 WIB. Tren penguatan ini melanjutkan reli positif sebesar 1,23 persen pada penutupan Jumat lalu.
Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut terkerek naik USD 3,09 atau 3,24 persen ke level USD 98,51 per barel.
Optimisme pasar akan berakhirnya konflik di Timur Tengah pupus setelah Presiden Donald Trump secara resmi menolak respons Iran terhadap draf perdamaian yang diajukan Washington. Trump melabeli proposal balasan Teheran sebagai dokumen yang "tidak dapat diterima," sebuah pernyataan yang langsung memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan jangka panjang.
Dampaknya, Selat Hormuz jalur nadi energi dunia tetap dalam kondisi tidak stabil. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memberikan peringatan keras bahwa dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel pasokan minyak selama dua bulan terakhir akibat eskalasi ini. Menurut Nasser, pemulihan pasar akan memakan waktu lama meskipun jalur pelayaran nantinya dibuka kembali.
Kini, pelaku pasar mengalihkan fokus pada kunjungan kenegaraan Presiden Trump ke Beijing pekan ini. Pertemuan dengan Presiden Xi Jinping dianggap sebagai kartu as terakhir untuk meredakan ketegangan.
"Perhatian pasar saat ini beralih sepenuhnya pada kunjungan Presiden Trump ke China," ujar Tony Sycamore, analis pasar dari IG. Pelaku pasar berharap Trump mampu membujuk Beijing untuk menggunakan pengaruh diplomatiknya terhadap Iran guna mendorong gencatan senjata dan mengamankan kembali Selat Hormuz.
Di tengah ketidakpastian, data pelacakan kapal dari Kpler mengungkap fenomena menarik. Terjadi peningkatan pengiriman minyak secara "gelap" atau klandestin. Pekan lalu, dua kapal tanker terpantau nekat keluar dari Selat Hormuz dengan mematikan sistem pelacak sinyal otomatis (AIS) demi menghindari potensi serangan dari militer Iran.
Baca Juga: Dokumen UFO Cuma Pengalihan Isu, Publik Diminta Jangan Percaya Omong Kosong Trump
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
Cara Daftar TKM Pemula 2026 di Bizhub Kemnaker, Lengkap dengan Syarat dan Alurnya
-
Bocoran Revisi Royalti Tambang: Emas, Tembaga, hingga Timah Kena Tarif Baru?
-
Dirjen Anggaran Dicopot Gegara Loloskan Anggaran Motor Listrik MBG? Ini Kata Purbaya
-
Rupiah Tak Berdaya: Terperosok ke Rp17.407 Saat Badai Ekonomi Menghantam Asia
-
Harga Pangan Kian Mencekik, Cabai dan Bawang Naik di Awal Pekan
-
IHSG Masih Merosot pada Pembukaan Senin ke Level 6.959
-
Emas Antam Merosot awal Pekan Ini, Harganya Tembus Rp 2.819.000/Gram
-
Pasar Emas Sedang Konsolidasi? Simak Update Harga Antam dan UBS Hari Ini
-
Keponakan Prabowo Sebut Ekonomi Global Masuk Zona Bahaya
-
PLN Hadirkan SPKLU Ultra Fast Charging Pertama di Kawasan Wisata Aloha PIK 2