Bisnis / Energi
Senin, 11 Mei 2026 | 11:08 WIB
Xi Jinping dan Donald Trump
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent melonjak ke USD 104,47 akibat gagalnya kesepakatan damai AS-Iran.
  • Krisis Selat Hormuz sebabkan dunia kehilangan 1 miliar barel pasokan minyak mentah.
  • Pasar fokus pada pertemuan Trump-Xi Jinping di Beijing untuk redam tensi Timur Tengah.

Suara.com - Pasar energi global kembali bergejolak pada perdagangan Senin (11/5/2026). Harga minyak mentah dunia melonjak tajam lebih dari USD 3 per barel menyusul kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini diperparah oleh krisis berkepanjangan di Selat Hormuz yang mencekik arus pasokan minyak dunia.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka melesat USD 3,18 atau 3,14 persen ke posisi USD 104,47 per barel pada pukul 06.36 WIB. Tren penguatan ini melanjutkan reli positif sebesar 1,23 persen pada penutupan Jumat lalu.

Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut terkerek naik USD 3,09 atau 3,24 persen ke level USD 98,51 per barel.

Optimisme pasar akan berakhirnya konflik di Timur Tengah pupus setelah Presiden Donald Trump secara resmi menolak respons Iran terhadap draf perdamaian yang diajukan Washington. Trump melabeli proposal balasan Teheran sebagai dokumen yang "tidak dapat diterima," sebuah pernyataan yang langsung memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan jangka panjang.

Dampaknya, Selat Hormuz jalur nadi energi dunia tetap dalam kondisi tidak stabil. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memberikan peringatan keras bahwa dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel pasokan minyak selama dua bulan terakhir akibat eskalasi ini. Menurut Nasser, pemulihan pasar akan memakan waktu lama meskipun jalur pelayaran nantinya dibuka kembali.

Kini, pelaku pasar mengalihkan fokus pada kunjungan kenegaraan Presiden Trump ke Beijing pekan ini. Pertemuan dengan Presiden Xi Jinping dianggap sebagai kartu as terakhir untuk meredakan ketegangan.

"Perhatian pasar saat ini beralih sepenuhnya pada kunjungan Presiden Trump ke China," ujar Tony Sycamore, analis pasar dari IG. Pelaku pasar berharap Trump mampu membujuk Beijing untuk menggunakan pengaruh diplomatiknya terhadap Iran guna mendorong gencatan senjata dan mengamankan kembali Selat Hormuz.

Di tengah ketidakpastian, data pelacakan kapal dari Kpler mengungkap fenomena menarik. Terjadi peningkatan pengiriman minyak secara "gelap" atau klandestin. Pekan lalu, dua kapal tanker terpantau nekat keluar dari Selat Hormuz dengan mematikan sistem pelacak sinyal otomatis (AIS) demi menghindari potensi serangan dari militer Iran.

Baca Juga: Dokumen UFO Cuma Pengalihan Isu, Publik Diminta Jangan Percaya Omong Kosong Trump

Load More