- OJK merespons penyesuaian indeks MSCI Indonesia sebagai langkah reformasi fundamental demi memperkuat integritas dan kredibilitas pasar modal nasional.
- Friderica Widyasari Dewi menyatakan fluktuasi pasar saat ini merupakan proses pemulihan jangka pendek untuk mencapai manfaat jangka panjang.
- OJK optimistis Indonesia tetap bertahan di kategori Emerging Market pada evaluasi Juni mendatang berkat transparansi data yang baik.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan respons strategis menanggapi penantian para pelaku pasar terhadap pengumuman penyesuaian ulang (rebalancing) indeks MSCI Indonesia.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari dinamika pasar yang beriringan dengan upaya regulator dalam memperkuat fondasi pasar modal nasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa potensi pergeseran saham dalam indeks global tersebut merupakan konsekuensi logis dari penguatan integritas pasar yang sedang digalakkan.
Menurutnya, OJK kini tengah memprioritaskan reformasi fundamental demi menciptakan ekosistem investasi yang lebih transparan dan kredibel.
Analogi Pemulihan: "Short Term Pain, Long Term Gain"
Menyikapi fluktuasi yang mungkin terjadi akibat sentimen MSCI ini, Friderica mengibaratkan kondisi pasar modal saat ini seperti tubuh manusia yang tengah menjalani proses pemulihan untuk mencapai tingkat kesehatan yang lebih baik.
"Saya sudah beberapa kali bilang bahwa dengan reformasi integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya," ujar Friderica saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (11/5/2026).
Meskipun terdapat potensi tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam waktu dekat, ia optimistis dampak tersebut tidak akan bersifat permanen.
Ia menekankan prinsip bahwa pengorbanan jangka pendek (short term pain) akan membuahkan hasil positif jangka panjang (long term gain) bagi seluruh pemangku kepentingan.
Baca Juga: Reli Lima Hari Beruntun, Saham BBRI Terus Menguat Tak Terbendung
Optimisme Mempertahankan Status Emerging Market
OJK juga menepis kekhawatiran pelaku pasar mengenai kemungkinan penurunan kelas pasar modal Indonesia dalam peta investasi global.
Friderica menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia akan tetap kokoh di kategori pasar negara berkembang atau Emerging Market pada evaluasi besar yang dijadwalkan Juni mendatang.
Indikator utama yang mendasari optimisme ini adalah kualitas transparansi data dan keterbukaan informasi di Indonesia yang dinilai sebagai salah satu yang terbaik di kawasan. Hal ini diharapkan menjadi poin krusial bagi lembaga pemeringkat internasional dalam memberikan penilaian.
"Moga-moga tidak (turun kelas), karena kalau kita lihat secara granularitas data dan keterbukaan informasi, itu mungkin salah satu yang terbaik untuk hal integritas yang kita sampaikan. Jadi semoga ini menjadi pertimbangan agar Indonesia tetap di Emerging Market," tegasnya.
Terkait detail peninjauan indeks kali ini, Friderica menyebutkan tidak ada penambahan saham baru (new entry) dari emiten asal Indonesia. Sebaliknya, terdapat kemungkinan beberapa saham yang sudah ada justru akan dikeluarkan dari daftar.
"Besok pengumumannya kita tunggu, kan mereka sudah bilang meng-freeze-kan. Jadi, tidak ada yang baru yang masuk, tapi yang lama mungkin akan keluar," ungkap Friderica.
Berita Terkait
-
Rebalancing MSCI Diumumkan Besok, Danantara Pede Pasar Modal RI Tak Turun Kasta
-
IHSG Semakin Tenggelam di Sesi I ke Level 6.800, 462 Saham Anjlok
-
IHSG Masih Merosot pada Pembukaan Senin ke Level 6.959
-
Hanya Berlangsung 3 Hari, IHSG Pekan Ini Akan Dibayangi Rebalancing MSCI
-
Suku Bunga Kredit Bank Resmi Turun ke 8,76 Persen, OJK Ungkap Proyeksinya
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Tembus Rp17.995, Pasar Waspadai Kebijakan The Fed
-
DSI Diminta Jadi Operator Bisnis, Bukan Regulator Baru
-
Sinergi Mengemaskan Indonesia, Pegadaian - Pupuk Kaltim Kolaborasi Demi Pertumbuhan Berkelanjutan
-
IHSG Menghijau Lagi Dibuka ke Level 6.000, TPIA dan ASII Mulai Dibeli Asing
-
Waktunya Beli, Harga Emas Antam Dua Hari Nggak Berubah Masih Rp2.665.000/Gram
-
Emiten Konstruksi PPRE Catatkan Pendapatan Rp3,9 Triliun Sepanjang 2025
-
Belajar ke Inggris, Menteri LH Bidik Sampah Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi
-
SIG Bina 580 UMKM, Transaksi Tembus Rp6,9 Miliar dan Serap 2.100 Pekerja
-
Raup Laba Bersih Rp66,59 Miliar, KB Bank Rombak Direksi
-
LPS Ungkap Tabungan Masyarakat Masih Tumbuh, Simpanan di Bawah Rp100 Juta Naik 4,95 Persen