- BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 4,68 persen atau 7,24 juta orang pada Februari 2026.
- TalentGO.AI menyebut fenomena 'The Great Preparation Gap' sebagai kendala utama kandidat gagal terserap di pasar kerja.
- Sekitar 80 persen lamaran kerja gugur tahap awal akibat CV yang tidak optimal dan belum ramah sistem ATS.
Suara.com - Pengangguran di Indonesia masih tergolong tinggi meski tren penurunannya mulai terlihat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran per Februari 2026 mencapai 7,24 juta orang atau setara tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,68 persen dari total 154,91 juta angkatan kerja.
Di tengah kondisi tersebut, TalentGO.AI menilai persoalan pasar kerja saat ini bukan hanya minimnya lowongan pekerjaan, melainkan masih besarnya kesenjangan antara kesiapan kandidat dan kebutuhan perusahaan.
TalentGO.AI menyebut fenomena itu sebagai 'The Great Preparation Gap' atau kesenjangan kesiapan kerja.
Menurut perusahaan teknologi rekrutmen berbasis AI tersebut, banyak pelamar kerja sebenarnya memiliki kemampuan yang relevan, namun gagal lolos seleksi karena tidak mampu mengomunikasikan kompetensinya dengan baik.
"Meski angka pengangguran turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, skala pencari kerja yang masih belum terserap menunjukkan bahwa proses pencocokan antara kandidat dan kebutuhan perusahaan tetap menjadi pekerjaan besar bagi ekosistem ketenagakerjaan," ujar CEO & Founder TalentGO.AI, Valencia Gabriella di Jakarta, Rabu (13/5/2026)
TalentGO.AI menilai tantangan pencari kerja saat ini tidak lagi berhenti pada mencari lowongan, tetapi memahami bagaimana perusahaan menilai kandidat dalam proses rekrutmen modern.
Dalam banyak kasus, kandidat dinilai bukan tidak kompeten, melainkan gagal menjelaskan pengalaman dan nilai diri secara jelas melalui CV, portofolio, ekspektasi gaji, hingga jawaban wawancara.
CEO & Founder TalentGO.AI, Valencia Gabriella mengatakan banyak kandidat masih melihat proses melamar kerja sebagai persoalan kuantitas, bukan kualitas kesiapan.
Misi TalentGO.AI adalah mendemokratisasi akses terhadap persiapan kerja berkualitas tinggi. Perseroan percaya, bahwa setiap orang berhak mendapatkan bimbingan karier yang objektif. Dalam hal ini, kami melihat banyak kandidat memandang proses pencarian kerja sebagai soal kuantitas: semakin banyak lamaran yang dikirim, semakin besar peluang untuk dipanggil.
Baca Juga: Jumlah Pengangguran di Indonesia Berkurang 35.000 Orang
"Padahal, dalam rekrutmen modern, kualitas kesiapan justru menjadi pembeda. CV harus bisa menunjukkan relevansi, ekspektasi gaji harus berbasis data pasar, dan saat interview kandidat perlu mampu menjelaskan pengalaman dengan struktur yang masuk akal bagi rekruter," kata Valencia.
Di sisi lain, penggunaan teknologi dalam proses rekrutmen juga membuat persaingan semakin ketat. Banyak perusahaan kini menggunakan Applicant Tracking System (ATS) untuk menyaring lamaran secara otomatis.
TalentGO.AI mengungkapkan sekitar 80 persen lamaran kerja bisa gugur pada tahap awal akibat CV yang tidak optimal atau belum ramah ATS.
Riset mencatat sekitar 80 persen lamaran dapat gugur di tahap awal karena CV tidak optimal atau belum ramah ATS, sementara penyesuaian sederhana seperti mencocokkan judul pekerjaan dengan posisi yang dilamar disebut dapat meningkatkan peluang kandidat dipanggil untuk wawancara hingga 3,5 kali.
Menurut TalentGO.AI, penggunaan AI ke depan tidak hanya berfungsi sebagai alat pencari kerja, tetapi juga menjadi pendamping karier untuk membantu kandidat meningkatkan keterampilan, memahami kebutuhan industri, hingga mempersiapkan negosiasi gaji berbasis data pasar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Pasar Kripto Ambyar! Inflasi Meledak, Bitcoin dan Altcoin Kompak Terkapar
-
Emiten MDLA Bagikan Dividen Tunai Rp 176,56 Miliar
-
Di Depan Investor Global, Purbaya Pamer Tuntaskan 45 Masalah Hambatan Investasi RI
-
IHSG Dibuka Langsung Anjlok ke Level 6.700 Setelah Rebalancing MSCI
-
Genjot Pendapatan, Emiten CASH Siap Hadapi Tantangan Industri Pembayaran Digital
-
7 Fakta Stock Split RAJA, Pemegang Saham Bocorkan Perkiraan Jadwalnya
-
IHSG Dibayangi Tekanan: Asing Buang Saham Big Caps di Momen 'MSCI Review'
-
Siap-siap! Harga BBM, LPG, hingga LNG Kompak Melejit, Ini Pemicunya
-
Rupiah Melemah Terus: Petaka Bagi WNI, Karpet Merah untuk WNA
-
BINA Terus Perkuat Ekosistem Salim Group