- Kementerian ESDM membahas dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap potensi pembengkakan anggaran subsidi BBM pada Rabu, 13 Mei 2026.
- Pemerintah masih memantau perkembangan situasi ekonomi dan menyatakan harga BBM saat ini belum mengalami perubahan secara resmi.
- Harga minyak dunia yang melampaui asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel menjadi tantangan ekonomi bagi pemerintah.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara, terkait dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berpotensi mengerek pembengkakan anggaran subsidi BBM.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyebut Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, bersama jajaran menteri terkait menggelar rapat guna membahas pelemahan nilai tukar rupiah.
"Ini kebetulan Pak Menteri sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya, jadi kita tunggu saja," kata Laode saat ditemui wartawan di Kementerian ESDM, Jakarta Rabu (13/5/2026).
Terkait dampaknya terhadap harga BBM kedepan, Laode menyebut masih memantau perkembangan yang ada.
"Itu masih kan belum ada info-info lain lagi kan, selain yang ada sekarang (harga BBM tidak naik), jadi kita lihat perkembangan berikutnya saja nanti," kata Laode.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah baru saja mencetak rekor terendah setelah sempat melemah ke posisi Rp17.540 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5) kemarin.
Sementara pada hari ini, mata uang Garuda bergerak sedikit menguat ke posisi Rp17.493 per dolar AS.
Di saat yang sama, harga minyak dunia terpantau masih kokoh bertahan di atas level psikologis 100 dolar AS per barel.
Pada pembukaan pasar perdagangan Rabu (13/5) pagi, minyak mentah jenis Brent bertengger di angka 106,95 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS berada di posisi 101,52 dolar AS per barel.
Baca Juga: Rupiah Loyo ke Rp17.500, Menteri Bahlil Gelar Rapat Darurat Bahas Nasib Harga BBM
Lonjakan harga minyak global ini telah jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang sebelumnya ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.
Berita Terkait
-
Meski Sudah Deal, Bahlil Akui Impor Minyak Mentah dari Rusia Terhambat
-
Bahlil Sebut Implementasi B50 Punya Peluang Molor Lagi
-
Rupiah Terpeleset ke Rp17.414: Ketegangan Global dan Harga Minyak Jadi Beban
-
Sah! Menteri Bahlil Tunda Kenaikan Royalti Tambang Demi Jaga Iklim Investasi
-
Rupiah Masih Melemah, Bank Mulai Jual Dolar AS di kisaran Rp17.700
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Survei: 81% Pekerja RI Merasa Gajinya Adil, Tapi Tak Semua Bahagia
-
96% Perusahaan RI Rekrut Lulusan Micro-Credentials, Gaji Dibayar Tinggi
-
Pengguna Tol Jakarta-Cikampek Wajib Tahu! Ada Perbaikan Jalan di Beberapa Titik hingga Awal Juli
-
Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!
-
Jembatan Donat Dukuh Atas Rampung 2028, Menhub: Enam Moda Transportasi Jakarta Akan Terintegrasi
-
Dari Pupuk ke Klinik Desa, KDMP Tamanmartani Buktikan Koperasi Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Warga
-
Kabar Baik! Stasiun JIS Akan Punya Dua Peron, Akses ke Stadion dan Ancol Makin Lancar
-
Pemerintah Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi dalam Pembuatan Aturan soal Industri Rokok
-
Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong
-
IHSG Ambles 4,55% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp486 Triliun