- Pemerintah siapkan BLU khusus untuk impor minyak Rusia.
- Pertamina berpotensi tak terlibat karena aturan global bond.
- RI target impor 150 juta barel minyak hingga akhir 2026.
Suara.com - Pemerintah terus mematangkan skema impor minyak mentah dari Rusia dengan menyiapkan pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) sebagai pelaksana utama. Langkah ini dilakukan agar impor minyak tidak berbenturan dengan aturan pasar internasional yang membatasi kerja sama dengan Rusia akibat sanksi Barat.
Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM, Hendra Gunawan mengatakan pemerintah saat ini tengah merampungkan Peraturan Presiden (Perpres) sebagai dasar hukum pembentukan BLU tersebut.
"Nah, dari pihak kami sudah menyiapkan Perpres tentang penunjukan BLU. Dan kemudian ini akan digodok terus, tindak lanjutnya, mekanismenya itu dalam bentuk permen atau kepmen, atau SOP-nya," ujar Hendra dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Ia menambahkan, Kementerian ESDM juga telah menyiapkan rancangan Peraturan Menteri sebagai turunan dari Perpres tersebut untuk mengatur mekanisme operasional impor minyak Rusia.
Skema ini membuka peluang besar bahwa impor minyak Rusia tidak akan melibatkan PT Pertamina (Persero) secara langsung. Pemerintah menilai Pertamina memiliki keterikatan terhadap aturan global karena mengandalkan pendanaan melalui obligasi internasional atau global bond.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman menyebut risiko terhadap kepatuhan global bond menjadi salah satu alasan pemerintah menyiapkan skema khusus di luar Pertamina.
"Pertamina dalam berbisnis menggunakan global bond. Itu harus menghindari hal-hal yang dapat melanggar global bond-nya dia. Makanya, skemanya sedang diproses," kata Laode.
Rencana impor minyak mentah dari Rusia merupakan tindak lanjut hasil pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pemerintah memandang langkah ini penting untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, terutama akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Baca Juga: Pertamina Bagikan Strategi Jaga Ketahanan Energi di Hadapan Mahasiswa
Volume impor yang disiapkan mencapai 150 juta barel minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan domestik hingga akhir 2026. Namun, impor akan dilakukan secara bertahap lantaran kapasitas penyimpanan minyak nasional masih terbatas sehingga pengiriman tidak bisa dilakukan sekaligus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Kementerian PU Jelaskan Kunker Menteri Dody dan Keluarga ke New York Jelang Final Piala Dunia
-
Sebanyak 81 BPR Akan Digabung Menjadi 24 hingga Juni 2026
-
Danantara Lebur 4 BUMN Manajer Investasi
-
Ribut-ribut Soal Skema Bagasi Pesawat, Mana yang Lebih Baik?
-
Tiga Perusahaan RI Tersandung Sengketa Bisnis sama Malaysia, Kapal-kapal Ditahan
-
Transaksi Kripto Naik di Mei 2026
-
Investor Serok Borong BBCA, Jual BMRI dan TPIA di Tengah Penguatan IHSG
-
Purbaya: Defisit APBN 2026 Diproyeksikan Membengkak
-
PNM Raih Penghargaan atas Komitmen Perkuat Ekonomi Syariah Masyarakat Akar Rumput
-
Pulihkan Harapan Masyarakat, Brantas Abipraya Dukung Rehabilitasi Pascabencana di Sumatera