- Henkel menyoroti tantangan penurunan efisiensi infrastruktur migas Indonesia akibat usia aset yang menua dalam ajang IPA Convex 2026.
- Perusahaan memperkenalkan teknologi perlindungan aset seperti LOCTITE dan STOPAQ guna mendukung operasional migas yang lebih andal dan aman.
- Hugo Quintanilla menyarankan pergeseran strategi pengelolaan aset menuju pendekatan preventif untuk menekan biaya kerugian akibat gangguan operasional fasilitas.
Suara.com - Perusahaan industri perekat dan pelapis, Henkel menyoroti tantangan besar yang dihadapi industri minyak dan gas (migas) Indonesia. Misalnya, dari infrastruktur produksi yang menua, sehingga berpotensi menekan efisiensi operasional dan meningkatkan risiko gangguan fasilitas.
Henkel menilai sebagian besar aset migas nasional telah beroperasi selama beberapa dekade sehingga membutuhkan perawatan lebih intensif agar tetap andal dan efisien dalam jangka panjang.
Dalam ajang IPA Convex 2026, Henkel memperkenalkan sejumlah solusi perlindungan dan perbaikan aset untuk mendukung operasional industri migas nasional.
Rangkaian teknologi yang diperkenalkan mencakup LOCTITE untuk meningkatkan keandalan mesin dan peralatan produksi, STOPAQ untuk perlindungan korosi jangka panjang, CSNRI untuk perbaikan dan penguatan struktur pipa proses maupun saluran pipa, serta Mascoat berupa lapisan isolasi termal dan perlindungan UV bagi industri berat.
"Kebutuhan akan solusi yang dapat memperpanjang umur aset dan meningkatkan efisiensi energi telah menjadi prioritas utama perusahaan dalam mendukung keberlanjutan industri minyak dan gas di Indonesia," ujar Head of Infrastructure Protection & Repair APAC at Henkel Adhesive Technologies, Hugo Quintanilla di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Henkel menilai tantangan industri migas saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi nasional, tetapi juga upaya menjaga fasilitas yang telah menua agar tetap produktif dan aman digunakan.
Menurut Hugo, perusahaan migas perlu mulai mengubah strategi pengelolaan aset dari pendekatan reaktif menjadi preventif guna menghindari kerugian operasional yang lebih besar.
Ia menyebut biaya perbaikan darurat dan hilangnya produksi jauh lebih mahal dibandingkan investasi preventif. Bahkan, satu jam downtime secara global dapat menimbulkan kerugian hingga hampir 500.000 dolar AS atau sekitar Rp 8,8 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.723 per dolar AS.
"Dengan solusi andal yang ditawarkan Henkel, kebutuhan akan perbaikan jangka pendek yang berulang dapat dikurangi secara signifikan, sekaligus meminimalkan risiko kegagalan aset kritis," tambah Hugo.
Baca Juga: SKK Migas Jemput Bola, Pelaku Usaha Serbu Layanan CIVD dan IOG e-Commerce di IPA Convex 2026
Henkel mengklaim teknologinya telah digunakan dalam berbagai proyek strategis nasional, termasuk ratusan aplikasi perpipaan di wilayah Sumatra hingga Kalimantan.
Perusahaan juga melihat kebutuhan perlindungan aset industri di Indonesia akan terus meningkat seiring pertumbuhan aktivitas industri dan konsumsi energi nasional.
"Bagi Henkel, Indonesia bukan hanya memiliki potensi besar, tetapi juga akan terus berkembang dalam jangka panjang, terutama di sektor migas, energi dan industri berat," pungkas Hugo.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
4 Saham RI Kembali Terlempar dari Indeks Global FTSE Russell, Ini Penyebabnya
-
IHSG Ambles 8,35% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 1.190 Triliun
-
Tak Hanya Kelola Dana Pensiun, Asabri Kini Garap UMKM hingga Ekonomi Hijau
-
AS dan Iran Dikabarkan Sepakat Perjanjian Damai, Selat Hormuz Segera Dibuka!
-
Kok Bisa Listrik di Sumatra Mati Secara Serentak
-
Purbaya Janji Bakal Awasi Badan Ekspor PT DSI, Ancam Pecat Jika Pegawai Mendadak Kaya
-
Purbaya Akui Badan Ekspor DSI Dibentuk Gegara Banyak Kebocoran di Bea Cukai
-
Berat Badan Purbaya Turun 10 Kg usai 8 Bulan Jabat Menkeu
-
Harga Emas Antam dan UBS Hari Ini, Pemula Wajib Cek Sebelum Investasi
-
Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut