Bisnis / Energi
Minggu, 24 Mei 2026 | 11:04 WIB
Ilustrasi infrastruktur Migas.
Baca 10 detik
  • Henkel menyoroti tantangan penurunan efisiensi infrastruktur migas Indonesia akibat usia aset yang menua dalam ajang IPA Convex 2026.
  • Perusahaan memperkenalkan teknologi perlindungan aset seperti LOCTITE dan STOPAQ guna mendukung operasional migas yang lebih andal dan aman.
  • Hugo Quintanilla menyarankan pergeseran strategi pengelolaan aset menuju pendekatan preventif untuk menekan biaya kerugian akibat gangguan operasional fasilitas.

Suara.com - Perusahaan industri perekat dan pelapis, Henkel menyoroti tantangan besar yang dihadapi industri minyak dan gas (migas) Indonesia. Misalnya, dari infrastruktur produksi yang menua, sehingga berpotensi menekan efisiensi operasional dan meningkatkan risiko gangguan fasilitas.

Henkel menilai sebagian besar aset migas nasional telah beroperasi selama beberapa dekade sehingga membutuhkan perawatan lebih intensif agar tetap andal dan efisien dalam jangka panjang.

Dalam ajang IPA Convex 2026, Henkel memperkenalkan sejumlah solusi perlindungan dan perbaikan aset untuk mendukung operasional industri migas nasional.

Infrastruktur Migas.

Rangkaian teknologi yang diperkenalkan mencakup LOCTITE untuk meningkatkan keandalan mesin dan peralatan produksi, STOPAQ untuk perlindungan korosi jangka panjang, CSNRI untuk perbaikan dan penguatan struktur pipa proses maupun saluran pipa, serta Mascoat berupa lapisan isolasi termal dan perlindungan UV bagi industri berat.

"Kebutuhan akan solusi yang dapat memperpanjang umur aset dan meningkatkan efisiensi energi telah menjadi prioritas utama perusahaan dalam mendukung keberlanjutan industri minyak dan gas di Indonesia," ujar Head of Infrastructure Protection & Repair APAC at Henkel Adhesive Technologies, Hugo Quintanilla di Jakarta, Minggu (24/5/2026).

Henkel menilai tantangan industri migas saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi nasional, tetapi juga upaya menjaga fasilitas yang telah menua agar tetap produktif dan aman digunakan.

Menurut Hugo, perusahaan migas perlu mulai mengubah strategi pengelolaan aset dari pendekatan reaktif menjadi preventif guna menghindari kerugian operasional yang lebih besar.

Ia menyebut biaya perbaikan darurat dan hilangnya produksi jauh lebih mahal dibandingkan investasi preventif. Bahkan, satu jam downtime secara global dapat menimbulkan kerugian hingga hampir 500.000 dolar AS atau sekitar Rp 8,8 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.723 per dolar AS.

"Dengan solusi andal yang ditawarkan Henkel, kebutuhan akan perbaikan jangka pendek yang berulang dapat dikurangi secara signifikan, sekaligus meminimalkan risiko kegagalan aset kritis," tambah Hugo.

Baca Juga: SKK Migas Jemput Bola, Pelaku Usaha Serbu Layanan CIVD dan IOG e-Commerce di IPA Convex 2026

Henkel mengklaim teknologinya telah digunakan dalam berbagai proyek strategis nasional, termasuk ratusan aplikasi perpipaan di wilayah Sumatra hingga Kalimantan.

Perusahaan juga melihat kebutuhan perlindungan aset industri di Indonesia akan terus meningkat seiring pertumbuhan aktivitas industri dan konsumsi energi nasional.

"Bagi Henkel, Indonesia bukan hanya memiliki potensi besar, tetapi juga akan terus berkembang dalam jangka panjang, terutama di sektor migas, energi dan industri berat," pungkas Hugo.

Load More