Bisnis / Keuangan
Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:07 WIB
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik di Gedung CIMB Niaga, Kamis (12/2/2026). [Suara.com/Rina]
Baca 10 detik
  • IHSG terkoreksi, valuasi saham Indonesia dinilai makin menarik.
  • Investor domestik kuasai 61% pasar, transaksi capai 65,5%.
  • BEI percepat reformasi demi tingkatkan transparansi dan kepercayaan investor.

Suara.com - Gejolak pasar keuangan global belum menggerus daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang. Di tengah volatilitas yang masih membayangi pasar, fundamental ekonomi nasional yang tetap solid, pertumbuhan investor domestik, hingga reformasi besar-besaran di pasar modal menjadi modal utama menjaga kepercayaan pelaku investasi.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menilai kondisi pasar saat ini perlu dilihat secara menyeluruh, tidak hanya dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mengalami koreksi sepanjang 2026.

Menurutnya, kekuatan fundamental ekonomi nasional dan kinerja emiten masih menjadi penopang utama pasar modal Indonesia.

"Berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator dan SRO merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang semakin kredibel. Dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang," ujar Jeffrey dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).

Indonesia sendiri masih memiliki sejumlah keunggulan struktural yang dinilai sulit disaingi negara lain di kawasan. Dengan populasi lebih dari 284,4 juta jiwa, bonus demografi, serta cadangan komoditas strategis seperti nikel, tembaga, emas, LNG, dan minyak sawit, Indonesia menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok global. Posisi Indonesia sebagai anggota G20, BRICS, sekaligus pendiri ASEAN juga memperkuat daya tarik tersebut.

Dari sisi ekonomi, ketahanan nasional masih terjaga. Pada kuartal I 2026, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,61% yang ditopang konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta peningkatan investasi. Aktivitas manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi, surplus neraca perdagangan, hingga realisasi investasi yang terus meningkat turut memperkuat optimisme terhadap prospek ekonomi nasional.

Di pasar modal, koreksi IHSG justru dinilai membuka peluang investasi yang lebih menarik. Per 8 Juni 2026, valuasi IHSG berada pada level Price Earnings Ratio (PER) sekitar 12,85 kali, sementara sebanyak 434 saham diperdagangkan dengan Price to Book Value (PBV) di bawah satu kali. Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang bagi investor yang mengedepankan strategi investasi berbasis fundamental dalam jangka panjang.

Fundamental perusahaan tercatat juga masih menunjukkan kinerja yang sehat. Dari 810 emiten yang telah menyampaikan laporan keuangan hingga 31 Maret 2026, sebanyak 595 perusahaan atau sekitar 73,46% berhasil membukukan laba bersih. Selain itu, 221 perusahaan tercatat membagikan dividen tunai sepanjang 2026, mencerminkan kemampuan korporasi dalam menciptakan nilai bagi pemegang saham.

Optimisme terhadap pasar modal juga tercermin dari terus bertambahnya jumlah investor domestik. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal telah mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID). Investor saham dan surat berharga lainnya mencapai 9,9 juta SID atau tumbuh 15,1% dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebanyak 8,6 juta SID.

Baca Juga: Asing Masih Genjar Jual Saham, IHSG Menguat Tipis Pekan Ini

Tak hanya bertambah secara jumlah, dominasi investor domestik juga semakin kuat. Saat ini investor dalam negeri menguasai sekitar 61% kepemilikan saham di pasar modal Indonesia, terdiri dari investor institusi sebesar 43,3% dan investor ritel 17,7%. Sementara kepemilikan investor asing berada di level 39,1%.

Kontribusi investor domestik terhadap aktivitas perdagangan juga semakin dominan. Sebanyak 65,5% nilai transaksi di BEI berasal dari investor domestik, dengan kontribusi investor ritel mencapai 52,5% dan investor institusi domestik sebesar 13%. Kondisi tersebut dinilai membuat pasar modal Indonesia lebih tangguh menghadapi tekanan eksternal.

Untuk memperkuat kepercayaan investor, BEI bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan KSEI, dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terus mempercepat reformasi pasar modal sepanjang 2026. Sejumlah kebijakan baru telah diterapkan, mulai dari publikasi data kepemilikan saham di atas 1%, peningkatan batas minimum free float menjadi 15%, perluasan klasifikasi investor menjadi 39 kategori, hingga implementasi mekanisme High Shareholding Concentration (HSC).

Selain itu, keterbukaan informasi juga diperluas melalui penyelenggaraan Public Expose Live, publikasi data free float dan kepemilikan saham terkonsentrasi, serta layanan IDX Hotdesk sebagai sarana komunikasi dengan investor.

BEI menilai kombinasi fundamental ekonomi yang tetap kuat, kinerja emiten yang resilien, pertumbuhan investor domestik, serta reformasi transparansi yang terus berjalan menjadi fondasi penting bagi pasar modal Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kondisi tersebut diyakini mampu menjaga daya saing Indonesia sebagai salah satu destinasi investasi paling menarik di kawasan pasar berkembang.

Load More