- Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit sebesar USD9,1 miliar pada kuartal pertama tahun 2026 akibat tekanan ekonomi domestik.
- Defisit terjadi karena arus keluar modal asing serta menyusutnya surplus perdagangan barang nasional secara signifikan pada periode tersebut.
- Tekanan ekonomi diprediksi berlanjut pada kuartal kedua 2026 akibat pembayaran dividen, bunga utang, dan biaya operasional musim haji.
Suara.com - Kinerja makroekonomi domestik menghadapi tantangan berat pada awal tahun ini. Neraca Pembayaran Indonesia (BOP) dilaporkan mencatat defisit dlm sebesar USD9,1 miliar pada kuartal pertama tahun 2026 (1Q26).
Rapor merah ini membalikkan kondisi dari posisi surplus sebesar USD6,1 miliar pada kuartal keempat tahun 2025 (4Q25), sekaligus menandai level defisit terdalam sejak kuartal pertama tahun 2020 saat awal pandemi melanda.
Penurunan drastis posisi BOP ini dipicu oleh hantaman ganda, yakni danya defisit yang melanda neraca modal dan keuangan (KFA), serta kondisi defisit neraca berjalan (Current Account Deficit/CAD) yang terpantau semakin melebar.
Untuk diketahui, Neraca Pembayaran (BOP atau Balance of Payments) adalah catatan statistik yang merangkum seluruh transaksi ekonomi internasional antara penduduk suatu negara dengan negara lain dalam periode tertentu (biasanya satu tahun). Catatan ini memantau aliran dana masuk dan keluar untuk mengetahui posisi keuangan global suatu negara, seperti Indonesia.
Akun Keuangan Tertekan Eksodus Dana ke Luar Negeri
Sorotan utama dalam laporan keuangan makro ini tertuju pada pos akun keuangan yang mencatat defisit sebesar USD4,9 miliar pada kuartal I-2026. Angka tersebut berbalik drastis dari capaian kuartal sebelumnya (4Q25) yang sempat membukukan surplus hingga USD8,8 miliar.
Pendorong utama di balik tren penurunan ini adalah komponen "investasi lain" yang mencatatkan defisit sebesar USD7,8 miliar.
Kondisi tersebut utamanya dpicu oleh aksi entitas atau korporasi Indonesia yang agresif menempatkan dana mereka di luar negeri dengan nilai mencapai USD5,8 miliar. Fenomena ini tercatat sebagai arus modal keluar (outflow) kuartalan terbesar sejak tahun 2019.
Defisit Transaksi Berjalan Melebar Akibat Penurunan Surplus Dagang
Baca Juga: Anang Hermansyah dan Ashanty Jalani Ibadah Haji, Intip Biaya Paket Travel Mewahnya
Kondisi kurang menggembirakan juga menjalar pada defisit transaksi berjalan yang kian melebar menjadi USD4,0 miliar pada kuartal I-2026, atau setara dengan -1,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Rasio ini membengkak dbandingkan kuartal IV-2025 yang berada di angka USD2,5 miliar atau -0,7 persen dari PDB, sekaligus mencatatkan rekor defisit terdalam sejak kuartal kedua tahun 2020.
Membengkaknya CAD ini murni didorong oleh menyusutnya kinerja surplus perdagangan barang nasional. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, surplus dagang hanya mampu mengumpulkan USD8,0 miliar, turun dbandingkan capaian kuartal sebelumnya yang menyentuh USD10,2 miliar.
Proyeksi Peningkatan Tekanan di Kuartal II
Memasuki periode kuartal kedua (2Q26), tantangan terhadap stabilitas eksternal ekonomi diproyeksikan belum akan mereda.
Analisis dari BNI Sekuritas menunjukkan bahwa tekanan terhadap Neraca Pembayaran Indonesia dan stabilitas nilai tukar rupiah kemungkinan besar akan semakin meningkat.
Peningkatan risiko ini sebagian besar dbiayai oleh faktor musiman tahunan. Beberapa sentimen yang siap menguras likuiditas valuta asing di dalam negeri antara lain adalah jadwal pembayaran dividen korporasi kepada investor asing, pembayaran bunga utang luar negeri, serta besarnya kebutuhan devisa untuk membiayai operasional periode musim haji.
Berita Terkait
-
Waspada Jasa Badal Haji Bodong, DPR Desak Pemerintah Bentuk Lembaga Resmi
-
Soroti Maraknya Jasa Badal Haji Ilegal, DPR Dorong Pembentukan Lembaga Resmi
-
Kasus Korupsi Gus Yaqut Dilimpahkan ke Pengadilan Usai Musim Haji
-
Kasus Korupsi Haji, KPK Segera Jebloskan Bos Maktour dan Eks Ketum Kesthuri ke Sel
-
Yasinta Moiwend: Perempuan Adat Papua Konsisten Suarakan Lingkungan, Hingga Polemik Pesta Babi
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya
-
Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka
-
Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora
-
Influencer Tak Lagi Dapat PPh UMKM 0,5 Persen, Purbaya: Tak Ada Lapangan Kerja
-
PT GMM Pastikan Penyampaian Aspirasi Petani Tebu di Blora Berjalan Tertib dan Kondusif
-
Profil PT MMS, Perusahaan yang Dianggap Bandel di Industri Sawit
-
5 Asosiasi Pengusaha Buka Suara soal DSI, Ingatkan Risiko Ganggu Ekspor SDA RI
-
Tak Miliki Bisnis Sawit, Ini Profil PT MMSGI
-
Danantara Bongkar Borok BUMN, Catat Penurunan Aset Hampir Rp100 Triliun
-
Jelang DSI Beroperasi, Pengusaha Kompak Minta Jaminan Kontrak Ekspor Tetap Aman