Bisnis / Keuangan
Selasa, 02 Juni 2026 | 07:44 WIB
Ilustrasi rupiah dengan dolar (Freepik/8photo)
Baca 10 detik
  • Mata uang rupiah diprediksi melemah di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850 pada perdagangan hari Selasa, 2 Juni 2026.
  • Ketegangan geopolitik antara Washington-Teheran serta konflik militer di Lebanon memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi dan suku bunga.
  • Pemerintah Indonesia resmi memberlakukan aturan repatriasi Devisa Hasil Ekspor sumber daya alam sebesar 100 persen mulai hari ini.

Suara.com - Perdagangan rupiah pada hari ini diramal bergerak fluktuatif. Hal ini dipengaruhi oleh faktor internal dan global yang bisa memberikan sentimen pada mata uang Garuda.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa rupiah akan cenderung melemah.

"Sedangkan untuk perdagangan hari ini , mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 17.800- Rp.17.850," katanya dalam risetnya di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Dia juga mengatakan, beberapa faktor yang mempengaruhi adalah pasar tetap waspada setelah negosiasi mengenai gencatan senjata permanen antara Washington dan Teheran menunjukkan sedikit tanda terobosan.

Meskipun laporan pekan lalu menunjukkan kedua pihak sedang membahas perpanjangan gencatan senjata sementara dan pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

"Isu-isu kunci tetap belum terselesaikan dan setiap kesepakatan akhir masih memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump," jelas Ibrahim.

Presiden AS, Donald Trump. [The White House]

Sementara itu, kekhawatiran meningkat tentang ranjau di jalur pelayaran minyak dan gas utama, Selat Hormuz, kata analis IG Tony Sycamore dalam sebuah catatan.

Hal itu dapat memperlambat proses pembukaan kembali selat dan berarti bahwa bantuan datang lebih lambat untuk pasar minyak bahkan setelah dibuka kembali.

Selain itu, Israel telah memperluas operasi militer di Lebanon terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran, meningkatkan kekhawatiran bahwa ketegangan regional dapat meningkat kembali.

Baca Juga: Rupiah Berhasil Menguat saat Hari Pancasila, tapi Masih Nyaman di Level Rp17.840

Harga minyak mentah pulih pada hari Senin setelah langkah-langkah militer terbaru Israel, memperkuat kekhawatiran bahwa biaya energi dapat tetap tinggi dan mempersulit upaya Fed dalam memerangi inflasi.

Investor semakin mengalihkan fokus ke kemungkinan pengetatan moneter AS lebih lanjut. Mereka sebelumnya mengharapkan pemotongan suku bunga sebelum perang dimulai.

Para pedagang sekarang mengamati dengan cermat pidato dari para pejabat Federal Reserve dan data ekonomi AS yang akan datang, termasuk indikator pasar tenaga kerja, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang prospek suku bunga.

Sedangkan dalam negeri, dipengaruhi oleh aturan baru mewajibkan eksportir SDA untuk merepatriasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke dalam negeri dengan kepatuhan penuh, dan menempatkannya di rekening khusus di Bank Himbara.

"Sejumlah ketentuan baru itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 21/2026 tentang Perubahan Ketiga Atas PP No. 36/2023 tentang Devisa Hasil Ekspor Dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, Dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam. Aturan ini mulai berlaku hari ini," jelasnya.

Dalam beleid itu tertuang aturan bahwa eksportir SDA wajib merepatriasi DHE ke dalam negeri dengan tingkat kepatuhan secara penuh atau 100 persen.

Load More