- Harga minyak dunia naik lebih dari satu persen pada Rabu (3/6/2026) akibat eskalasi konflik militer di Timur Tengah.
- Iran meluncurkan rudal ke Kuwait dan Bahrain yang memicu serangan balasan Amerika Serikat ke fasilitas militer Iran.
- Gangguan distribusi di Selat Hormuz serta menyusutnya pasokan minyak Amerika Serikat mendorong lonjakan harga energi di pasar global.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia kembali melesat tajam dengan kenaikan lebih dari 1 persen pada pembukaan sesi perdagangan Rabu (3/6/2026).
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah setelah militer Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Kuwait dan Bahrain, di tengah kebuntuan pembicaraan diplomatik antara pihak Teheran dan Amerika Serikat (AS).
Melansir data dari Reuters, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent merangkak naik sebesar USD 1,05 atau setara 1,09 persen hingga menyentuh level USD 97,05 per barel.
Selaras dengan tren tersebut, harga minyak mentah poin West Texas Intermediate (WTI) khusus pasar AS meningkat USD 1,01 atau naik 1,08 persen ke posisi USD 94,77 per barel.
Harga minyak yang stabil di level tinggi, sementara kurs Rupiah hari ini tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah yang terus mencetak rekor terburuk berkali-kali ini terjadi hanya dalam 1 tahun 7 bulan pemerintahan Prabowo Subianto.
Terpisah, di penutupan sesi perdagangan sebelumnya, kedua instrumen acuan minyak internasional ini bahkan sempat nangkring di posisi tertinggi mereka dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Berdasarkan laporan resmi dari pihak militer Amerika Serikat, Iran terdeteksi melepaskan sejumlah rudal balistik yang diarahkan langsung ke dua negara tetangganya, yakni Kuwait dan Bahrain, meskipun rangkaian serangan udara tersebut dikabarkan gagal mengenai sasaran utama.
Merespons agresivitas tersebut, komando pasukan AS di kawasan itu langsung mengambil tindakan tegas dengan melancarkan serangan balasan yang menyasar fasilitas militer di Pulau Qeshm milik Iran.
Para pelaku pasar komoditas global saat ini tengah memantau ketat dinamika konflik tersebut dari dekat. Situasi dinilai semakin abu-abu lantaran Teheran sebenarnya sedang berada dalam fase meninjau draf proposal kesepakatan damai dengan AS guna menghentikan perang yang telah berkecamuk.
Baca Juga: Rupiah Makin Terpuruk! Tembus Rp17.839 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Namun, media lokal di Iran melaporkan bahwa pemerintah Teheran mengklaim belum menjalin komunikasi diplomatik lagi dengan Washington selama beberapa hari terakhir.
Pernyataan tersebut kontras dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang menyatakan di hadapan publik bahwa proses negosiasi antar kedua belah pihak masih terus berjalan.
Di sisi lain, tantangan logistik distribusi energi kian pelik. Senior Commodity Strategist dari ANZ Bank, Daniel Hynes, mengungkapkan bahwa upaya internasional untuk membuka kembali akses pelayaran aman di Selat Hormuz menemui jalan buntu.
Hal ini dikarenakan militer Iran telah menyebar ranjau laut di sebagian besar jalur perairan vital yang menjadi urat nadi pengiriman minyak dunia tersebut.
"Memang ada sedikit peningkatan jumlah kapal yang mencoba melintas, namun total transit secara keseluruhan masih jauh di bawah level sebelum konflik terjadi," papar Daniel Hynes dalam analisis pasarnya.
Meskipun operasi militer bersama yang diluncurkan oleh AS dan Israel ke wilayah Iran sudah berjalan selama lebih dari tiga bulan, konfrontasi bersenjata ini dinilai mulai memasuki fase buntu (deadlock) di tengah skema gencatan senjata yang sangat rapuh.
Berita Terkait
-
Profil Sony Sonjaya, Eks Wakil Kepala BGN yang Dicopot Prabowo
-
IHSG Ambruk 4 Persen, Bank Mulai Jual Dolar Rp18.000
-
Purbaya Benar Usai Kepala MBG Dadan Dicopot Prabowo: Memang Ada Kelemahan Sana Sini!
-
Kepala BGN Dadan Hindayana Dicopot, Prabowo Tunjuk Nanik Deyang
-
Rupiah Tembus ke Rp17.910 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Asia Terlemah Pagi Ini
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
-
4 Anggota TNI Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Dituntut 2,5 Tahun, Jaksa Sebut Aksi Balas Dendam
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
-
KPK Gelar OTT di Kantor Imigrasi Jakarta Barat, Jadi Operasi Ke-11 Sepanjang 2026
Terkini
-
Rupiah Selangkah Lagi Masuk Jurang Rp18.000, Investor Asing Ramai-Ramai Hengkang dari RI
-
Donald Trump Tuding RI Lakukan Kerja Paksa, Ancam Bea Masuk Tambahan 10 Persen
-
Langsung Disampaikan Wakil Presiden Moody's: Danantara Dapat Outlook Negatif!
-
Rupiah Nyaris Jebol Rp18.000 per Dolar AS, BI Mulai Kewalahan: Kami Tidak Bisa Sendirian!
-
Perayaan 3 Tahun, Bursa Kripto CFX Kembali Menggelar CFX Crypto Conference di Jakarta
-
Di tengah Ambruknya IHSG, Saham-saham Ini Layak Dilirik Karena Diburu Asing
-
BPS Ramal Produksi Padi dan Beras Nasional Turun 3 Bulan ke Depan
-
Transaksi Komoditas Berbasis Sawit Meledak 267%, Nilainya Tembus Rp3,83 Triliun dalam Sepekan
-
IHSG Bisa ke Level 5.700 Jika Terus Melemah Hari Ini
-
Eks Kepala BGN Diperiksa Kejagung, Punya Tunjangan Fantastis dan Fasilitas Setingkat Menteri