- Bank Indonesia melakukan intervensi pasar guna meredam pelemahan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS sejak awal Juni 2026.
- Pelemahan mata uang dipicu oleh ketegangan geopolitik global serta tingginya kebutuhan korporasi domestik terhadap devisa untuk pembayaran dividen dan utang.
- Bank Indonesia mengoptimalkan cadangan devisa sebesar USD 146,2 miliar serta memperluas implementasi transaksi mata uang lokal untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) secara intensif memantau pergerakan likuiditas di pasar keuangan global dan domestik guna meredam volatilitas mata uang garuda.
Langkah pengawasan ketat ini dioptimalkan setelah nilai tukar rupiah terperosok melewati ambang batas psikologis baru di angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Fokus bank sentral kini tertuju pada pengelolaan tata edar devisa negara demi menjaga ketahanan eksternal.
Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, mengonfirmasi bahwa melemahnya nilai tukar rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan kebutuhan internal yang tinggi akan valuta asing (valas).
Di kancah global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah. Kondisi ini memperbesar risiko inflasi dunia sekaligus mendorong pembalikan arus modal (capital outflow) keluar dari pasar berkembang.
Sementara dari dalam negeri, permintaan terhadap pasokan devisa melonjak akibat siklus tahunan korporasi, seperti pengiriman dividen ke luar negeri (repatriasi) serta pelunasan kewajiban Utang Luar Negeri (ULN).
"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya," terang Destry melalui pernyataan tertulisnya, Kamis (4/6/2026).
Meskipun nilai tukar rupiah telah mengalami koreksi hingga 7,44 persen sejak awal tahun (year-to-date), BI menilai pelemahan tersebut masih wajar dan ditekankan berada dalam koridor regional, mengingat mayoritas mata uang Asia juga mengalami depresiasi serupa terhadap dolar AS.
Bank sentral menegaskan bahwa daya tahan ekonomi Indonesia ditekankan masih sangat kokoh karena ditopang oleh kecukupan likuiditas internasional.
Hingga akhir April 2026, posisi cadangan devisa nasional tercatat bertahan di angka yang aman, yakni sebesar USD 146,2 miliar. Jumlah devisa yang melimpah ini disiagakan penuh sebagai amunisi utama untuk mengeksekusi intervensi pasar secara taktis.
Baca Juga: Risiko Besar jika Rupiah Tembus Rp18.000, Siapa yang Dirugikan?
Untuk menjalankan mandat tersebut, BI secara konsisten melakukan operasi pasar melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional (offshore) guna menjaga ekspektasi nilai tukar rupiah di pasar global.
Sementara di pasar domestik, bank sentral masuk secara berkala lewat transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk memenuhi kebutuhan valas riil sekaligus meredam aksi spekulasi kurs lokal.
Langkah operasional ini kemudian diperkuat dengan aksi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder demi menjaga stabilitas imbal hasil (yield) obligasi negara.
Selain menguras cadangan devisa secara langsung di pasar spot, BI menerapkan strategi pendukung untuk menjaring pasokan valas baru dari luar negeri.
Struktur suku bunga instrumen moneter kini dibuat lebih kompetitif (pro-market) guna memikat para investor global untuk menempatkan dana mereka pada aset domestik. Aliran modal masuk (inflow) ini diharapkan mampu menambah tebal bantalan devisa negara secara organik.
Di sisi lain, strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dolar AS (dedollarization) terus digenjot melalui implementasi kerja sama transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
Melalui skema LCT, pelaku usaha tidak lagi perlu menggunakan dolar AS saat melakukan kegiatan perdagangan bilateral dengan negara mitra utama seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Langkah penghematan penggunaan devisa dolar ini mencatatkan hasil yang sangat signifikan. Per April 2026, volume transaksi dagang berbasis LCT telah meroket hingga USD 22,7 miliar.
Angka realisasi empat bulan pertama ini sudah hampir menyamai akumulasi transaksi LCT sepanjang tahun lalu yang berada di kisaran USD 25,7 miliar. Diversifikasi instrumen pembayaran ini terbukti efektif dalam memitigasi risiko volatilitas kurs sekaligus menjaga keutuhan cadangan devisa nasional.
Berita Terkait
-
Rupiah Tembus Rp18.000, Bank Indonesia Siapkan Langkah Intervensi
-
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, DPR Desak Menkeu dan BI Segera Bertindak
-
Purbaya Ngotot Bantah Rupiah Lemah Gegara Fiskal, Siap Buka-bukaan Minggu Depan
-
Bunga Zainal Kritik Prabowo Usai Dolar Tembus Rp18 Ribu: Pidato Tak Sesuai Kenyataan
-
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ketua Banggar DPR: Sudah Lewati Batas Psikologis
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
Terkini
-
Rupiah Tembus Rp18.000, Bank Indonesia Siapkan Langkah Intervensi
-
Purbaya Ngotot Bantah Rupiah Lemah Gegara Fiskal, Siap Buka-bukaan Minggu Depan
-
Mohon Bersabar Emak-emak! HET MinyaKita Pasti Naik Tapi Harganya Belum Ditentukan
-
Pemicu IHSG Anjlok 3% hingga 716 Saham Merah di Perdagangan Sesi I
-
IHSG Kacau-Balau, Analis Sarankan Investor Ritel Hati-hati dan Perlu Jaga Modal
-
Ancaman Siber Bergeser ke Pengguna, Indodax Gencarkan Edukasi Anti-Phishing
-
Jebloknya Rupiah Jadi Sorotan Media Asing, Sebut Mata Uang Paling Buruk
-
Investor Waspada! IHSG Bisa Menuju ke Level 5.500
-
IHSG Ambruk 4,11 Persen, Purbaya Sebut Rumor Downgrade Rating Indonesia Picu Kepanikan Pasar
-
Rupiah Jebol Rp18.000, Dunia Usaha Kian Tercekik Biaya Produksi