Bisnis / Makro
Minggu, 07 Juni 2026 | 19:07 WIB
BTN terus memperkuat fondasi manajemen risiko dan kualitas kredit melalui transformasi proses bisnis, digitalisasi kredit, serta penguatan pengelolaan portofolio secara menyeluruh. (Dok: BTN)

Suara.com - Di tengah tantangan industri perbankan yang masih diwarnai tekanan daya beli masyarakat, suku bunga yang relatif tinggi dalam beberapa tahun terakhir, serta kebutuhan penguatan kualitas aset pascapandemi, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus memperkuat fondasi manajemen risiko dan kualitas kredit melalui transformasi proses bisnis, digitalisasi kredit, serta penguatan pengelolaan portofolio secara menyeluruh.

Langkah strategis tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Hingga akhir Maret 2026, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) BTN secara keseluruhan berada dalam tren perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio NPL BTN berhasil ditekan menjadi sekitar 3,1% pada kuartal I-2026, membaik dibandingkan sekitar 3,3% pada kuartal I-2025.

Perbaikan juga terlihat pada bisnis inti pembiayaan perumahan. Rasio NPL Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN turun menjadi sekitar 2,8% pada kuartal I-2026 dari sekitar 3,0% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara umum kualitas kredit konsumer BTN terkendali dan terus membaik di tengah pertumbuhan kredit dan dinamika ekonomi masyarakat.

Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan, perbaikan kualitas aset tersebut merupakan hasil dari berbagai inisiatif transformasi yang dilakukan Perseroan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari penguatan proses underwriting, peningkatan kualitas verifikasi, digitalisasi proses kredit, pemanfaatan data analytics, hingga penguatan pengelolaan portofolio pascapencairan kredit.

“BTN tidak hanya berfokus pada pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan kualitas pertumbuhan tersebut tetap terjaga secara optimal. Karena itu, kami terus memperkuat proses bisnis dari hulu hingga hilir agar pertumbuhan kredit yang dicapai menjadi lebih sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujar Setiyo akhir pekan lalu.

Salah satu transformasi utama yang dijalankan BTN adalah implementasi Loan Factory, yaitu pusat pemrosesan kredit terintegrasi yang mengonsolidasikan proses kredit konsumer secara nasional melalui pemanfaatan teknologi digital, data analytics, decision engine, dan workflow automation.

Transformasi tersebut memperkuat standardisasi proses kredit, meningkatkan kualitas verifikasi dan analisis, serta mempercepat proses pengambilan keputusan kredit. Dengan proses yang semakin terdigitalisasi dan tersentralisasi, BTN dapat menjaga kualitas kredit baru secara lebih konsisten sekaligus meningkatkan efisiensi layanan kepada masyarakat.

Transformasi Loan Factory juga mendapat perhatian positif dari analis pasar modal. Dalam laporan hasil site visit yang diterbitkan pada April 2026, analis Bahana Sekuritas Razqi M. Kurniawan menilai perbaikan kualitas aset pada kredit baru sebagai salah satu pencapaian penting dari implementasi Loan Factory BTN.

Berdasarkan kajian tersebut, kualitas kredit berdasarkan tahun pembukuan menunjukkan tren yang semakin sehat. Kredit yang dibukukan dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan tingkat risiko yang jauh lebih terkendali dibandingkan portofolio lama, sehingga memperkuat fondasi kualitas aset BTN ke depan.

Baca Juga: Bulog Pastikan Beras Bantuan di Bangkalan Diganti Sebelum Disalurkan, Komitmen Jaga Kualitas Bantuan

Selain meningkatkan kualitas kredit baru, implementasi Loan Factory juga mendorong efisiensi operasional secara signifikan. Waktu pemrosesan kredit yang sebelumnya berkisar 10–14 hari berhasil dipangkas menjadi sekitar 4–7 hari. Tingkat straight-through processing juga meningkat menuju kisaran 70%, sementara tingkat rework atau proses ulang berhasil ditekan hingga di bawah 15%.

BTN juga memperkuat pengelolaan portofolio melalui pendekatan Cluster Collection, yaitu model penanganan kredit berbasis segmentasi risiko, karakteristik debitur, serta perilaku pembayaran. Melalui pendekatan ini, proses monitoring, restrukturisasi, penagihan, hingga pemulihan kredit dapat dilakukan secara lebih fokus, cepat, dan efektif.

“Perbaikan kualitas aset yang kami capai saat ini merupakan hasil dari transformasi menyeluruh, baik pada proses akuisisi kredit baru maupun pengelolaan portofolio eksisting. Kami akan terus memperkuat disiplin risiko, tata kelola, dan pemantauan portofolio agar kualitas kredit tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang berkembang,” tambah Setiyo.

Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan bahwa perbaikan kualitas aset adalah hasil dari berbagai inisiatif transformasi yang dilakukan Perseroan dalam beberapa tahun terakhir. (Dok: BTN)

Menurut Setiyo, penguatan proses kredit juga menjadi bagian dari komitmen BTN untuk memastikan fungsi intermediasi berjalan secara sehat. Sebagai bank yang memiliki mandat kuat dalam pembiayaan perumahan nasional, BTN tetap berkomitmen mendukung akses kepemilikan rumah masyarakat, namun dengan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang semakin kuat.

Ke depan, BTN optimistis rasio NPL Perseroan dapat terus ditekan secara bertahap sejalan dengan strategi pertumbuhan kredit yang lebih selektif, penguatan kualitas kredit baru, serta percepatan penyelesaian portofolio lama. Khusus pada segmen pembiayaan perumahan, BTN menargetkan rasio NPL KPR dapat terus membaik dan dijaga di bawah 2,5% pada akhir 2026 melalui penguatan kualitas kredit baru, optimalisasi early warning system, serta strategi penagihan dan penyelesaian kredit yang semakin berbasis risiko.

BTN meyakini transformasi proses kredit yang sedang dijalankan akan semakin memperkuat daya tahan bisnis Perseroan sekaligus mengukuhkan posisi BTN sebagai pemimpin pasar pembiayaan perumahan nasional dengan kualitas pertumbuhan yang lebih sehat, kokoh, dan berkelanjutan.***

Load More