Bisnis / Makro
Selasa, 09 Juni 2026 | 11:38 WIB
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad saat bertemu dengan para dirut Himbara di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (9/6/2026). ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi
Baca 10 detik
  • Wakil Ketua DPR RI mengumpulkan direktur utama Himbara di Jakarta pada Selasa, 9 Juni 2026, untuk membahas perbaikan pasar modal.
  • Pertemuan bertujuan mencari langkah strategis terkait penurunan harga saham BUMN yang tergerus volatilitas ekonomi global saat ini.
  • Pemerintah mengusulkan aksi pembelian kembali saham sebagai langkah intervensi pasar karena fundamental keuangan perbankan BUMN masih sangat solid.

Suara.com - Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, mengumpulkan para direktur utama (Dirut) Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) serta jajaran pimpinan lembaga keuangan strategis di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (9/6/2026).

Pertemuan yang dimulai pada pukul 09.54 WIB ini digelar khusus untuk merumuskan langkah perbaikan iklim pasar modal domestik ditengah tingginya dinamika ekonomi saat ini.

Dalam pembukaan rapat, Dasco menjelaskan bahwa fokus utama diskusi diarahkan pada paket saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang secara fundamental memiliki kinerja sangat prima. Namun, nilai pasar dari saham-saham cetak biru (blue chip) tersebut belakangan ikut tergerus akibat imbas sentimen negatif dan volatilitas makroekonomi global.

"Kita berkumpul untuk koordinasi terutama kita akan berdiskusi banyak soal paket sama saham-saham BUMN," ujar Dasco, dikutip dari Antara.

Pertemuan strategis ini turut dihadiri oleh sejumlah figur penting dari pemerintahan dan lintas sektor keuangan nasional. Mendampingi Dasco di ruang rapat, hadir Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, serta Chief Operating Officer (COO) Danantara, Donny Oskaria, yang bertindak memperkenalkan masing-masing pimpinan Himbara yang hadir.

Adapun jajaran direksi yang memenuhi undangan koordinasi tersebut meliputi:

  • Putrama Wahju Setyawan (Dirut BNI)
  • Hery Gunardi (Dirut BRI)
  • Riduan (Dirut Bank Mandiri)
  • Oki Ramadhana (Dirut Indonesia Investment Authority / INA)
  • Rony Hanityo Aprianto (Dirut PT Taspen)
  • Prihati Pujowaskito (Dirut BPJS Kesehatan)

Melihat posisi harga saham BUMN pelat merah yang saat ini terkoreksi cukup dalam akibat tekanan pasar luar negeri, Dasco menilai situasi kejatuhan indeks ini justru menjadi momentum yang sangat ideal bagi perseroan negara untuk melancarkan aksi pembelian kembali (buyback) saham di pasar reguler.

Rencana intervensi pasar melalui skema buyback ini dinilai sangat beralasan. Secara operasional, emiten perbankan Himbara (BMRI, BBRI, BBNI, dan BBTN) membuktikan diri memiliki tingkat kesehatan keuangan yang sangat solid pada kuartal I 2026, yang ditopang oleh agresivitas penyaluran kredit serta efisiensi biaya yang terukur.

Berikut adalah rincian performa keuangan kuartalan masing-masing bank pelat merah:

Baca Juga: Pemerintah dan DPR Sepakati Polisi Aktif Bisa Isi Jabatan Sipil dalam RUU Polri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (IDX: BMRI): Mengantongi laba bersih Rp15,4 triliun atau melesat 16,6% secara tahunan (year-on-year/YoY). Ekspansi kreditnya melonjak hingga 17,4% menjadi Rp1.530 triliun, sejalan dengan perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 21,1% ke level Rp1.675 triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (IDX: BBRI): Meraih laba bersih sebesar Rp15,49 triliun, tumbuh 13,73% YoY. BRI sukses menekan biaya dana (cost of fund) secara signifikan ke level 2,3% berkat dominasi porsi dana murah (Current Account Saving Account/CASA) yang menyentuh angka 68,1%.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (IDX: BBNI): Mencatatkan laba bersih sebesar Rp5,66 triliun (naik 5,2% YoY). Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) emiten ini terkerek naik sebesar 12,1% menjadi Rp11,02 triliun dengan kualitas pengelolaan aset yang dinilai jauh lebih resilien.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (IDX: BBTN): Membukukan pertumbuhan laba bersih di kisaran Rp1,16 triliun, tumbuh impresif pada rentang 22,6% hingga 55,84% secara tahunan bergantung pada periode rilis laporan. Kemampuan pengelolaan biaya dana membaik dari 4,0% ke level 3,0%, yang ikut mendorong total aset perusahaan merangkak naik 10,5% ke angka Rp517,54 triliun.

Disclaimer: Artikel berita ini disusun berdasarkan laporan jalannya pertemuan koordinasi di Kompleks Parlemen dan rilis kinerja keuangan emiten perbankan. Informasi ini disajikan untuk kepentingan pemberitaan komersial dan bukan merupakan bentuk rekomendasi, perintah, atau saran mutlak untuk melakukan transaksi investasi di pasar modal.

Load More