- Harga minyak mentah dunia naik sekitar 1 persen pada Rabu, 10 Juni 2026 setelah sempat menyentuh level terendah.
- Kenaikan harga dipicu oleh serangan militer AS ke Iran serta data penurunan cadangan minyak domestik Amerika Serikat.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz mengancam stabilitas pasokan energi global bagi negara lain.
Suara.com - Harga minyak mentah di pasar internasional kembali merangkak naik sekitar 1 persen pada sesi perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Lonjakan ini sekaligus membawa harga komoditas energi tersebut bangkit dari titik nadir terendahnya dalam kurun waktu tujuh pekan terakhir.
Koreksi positif ini dipicu oleh eskalasi geopolitik terbaru setelah militer Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara susulan ke wilayah Iran, yang diperparah oleh rilis data industri mengenai penyusutan drastis pada cadangan minyak domestik Washington.
Aksi pemboman oleh armada tempur udara Pentagon terhadap sejumlah titik strategis di Iran tersebut meletus pasca-pernyataan tegas Presiden Donald Trump yang bersumpah akan membalas insiden jatuhnya helikopter serbu jenis Apache milik pasukan AS.
Langkah ofensif terbaru ini secara langsung mengancam keberlangsungan komitmen gencatan senjata yang sebenarnya baru saja disepakati oleh Washington dan Teheran.
Mengacu pada data komoditas dari Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent bergerak menguat sebesar 83 sen atau setara 0,9 persen menuju level USD92,29 per barel.
Seirama dengan itu, varian minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pasokan AS juga merosot naik 68 sen atau sekitar 0,8 persen ke posisi USD88,97 per barel.
Padahal pada hari perdagangan sebelumnya, harga Brent sempat terlempar ke posisi paling lemah sejak pertengahan April, sementara varian WTI terjerembab ke level terendah sejak akhir Mei.
Kemerosotan harga pekan lalu itu sempat terjadi setelah Israel dan Iran melunak untuk menghentikan aksi saling serang secara langsung menyusul tekanan diplomatik yang dilancarkan oleh Trump.
Namun, peta stabilitas di Timur Tengah kini kembali memanas dan berbalik arah. Otoritas Teheran secara terbuka menegaskan kesiapan mereka untuk menggulirkan kembali operasi militer skala penuh apabila militer Israel menolak menghentikan gempuran senjatanya terhadap faksi milisi Hizbullah di wilayah Lebanon.
Baca Juga: Media Asing: Donald Trump 'Permalukan' FIFA Sebelum Piala Dunia 2026 Dimulai
Di koridor lain, ketegangan diperumit oleh keengganan Tel Aviv untuk menyudahi penetrasi militernya terhadap kelompok pertahanan yang disokong penuh oleh Iran tersebut.
Sikap keras ini menjadi batu sandungan diplomatik yang sangat besar bagi Presiden Donald Trump yang tengah berupaya keras mengonversi kesepakatan damai sementara yang rapuh ini menjadi traktat perdamaian jangka panjang yang permanen.
Hingga saat ini, komando militer Iran terpantau masih memberlakukan penutupan sebagian besar jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Selat sempit ini merupakan urat nadi logistik vital global yang dalam kondisi normal mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah serta Gas Alam Cair (LNG) ke seluruh dunia.
Sebagai langkah tandingan, Washington juga menerapkan sistem blokade maritim yang ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan dagang milik Iran.
Kendati situasi negosiasi damai untuk mengakhiri perang yang telah berkecamuk lebih dari tiga bulan ini masih menemui jalan buntu, Menteri Energi AS Chris Wright memberikan laporan terbaru. Menurutnya, arus lalu lintas kapal tanker di kawasan Teluk serta volume ekspor pasokan minyak bumi yang melintasi Selat Hormuz perlahan mulai memperlihatkan tren kenaikan secara bertahap.
Dari sektor fundamental pasokan dalam negeri AS, laporan berkala yang dirilis oleh American Petroleum Institute (API) menunjukkan adanya penurunan persediaan minyak mentah domestik yang terus berlanjut selama delapan pekan berturut-turut.
Berdasarkan data dari pelaku pasar, cadangan minyak mentah AS amblas hingga 9,12 juta barel untuk periode pekan yang berakhir pada Jumat, 5 Juni. Penurunan ini juga diikuti oleh menipisnya stok bensin nasional komersial yang ikut tergerus sebesar 1,19 juta barel.
Perlu digarisbawahi bahwa sepanjang konflik bersenjata ini berkecamuk, Amerika Serikat memegang peranan krusial sebagai eksportir alternatif utama dengan menggenjot pengiriman minyak bumi serta produk kilang turunannya demi memenuhi kebutuhan energi di kawasan Asia dan Eropa.
Berita Terkait
-
Efek Domino BBM Naik, Harga Komoditas Pangan Langsung Terbang 10 Persen Lebih
-
Perang Meluas! Iran Bombardir Bahrain, Kuwait, dan Yordania, Sasar Pangkalan AS
-
BBM Naik-Rupiah Jebol, Warga: Sekarang Belanja Cuma Dapat Sayur dan Bumbu-bumbuan Saja!
-
Pertamax Melonjak, SPBU Swasta Ikut Kerek Naik Harga BBM Hingga Tembus Rp17.000 per Liter
-
Piala Dunia 2026: Iran Ajukan Izin Khusus ke FIFA Pakai Ban Lengan Hitam Kontra Mesir, Apa Artinya?
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Efek Domino BBM Naik, Harga Komoditas Pangan Langsung Terbang 10 Persen Lebih
-
BBM Naik-Rupiah Jebol, Warga: Sekarang Belanja Cuma Dapat Sayur dan Bumbu-bumbuan Saja!
-
Rupiah Menguat ke Rp17.900, Efek Gerilya Akhir Pekan Dasco
-
Pertamax Melonjak, SPBU Swasta Ikut Kerek Naik Harga BBM Hingga Tembus Rp17.000 per Liter
-
Pasar Makin Tak Pasti, Ini Cara Investor Mengubah Kepanikan Jadi Cuan
-
Perkokoh Sinergi Ekosistem Syariah, Pegadaian - Bank Syariah Nasional Kolaborasi Pendanaan & Digital
-
Rupiah Menguat ke Level Rp17.908 per Dolar AS Paling Perkasa di Asia
-
Dibuka Loyo IHSG Justru Kembali Bangkit Pagi Ini, Cermati Saham BMRI
-
Bisa Pertimbangkan Beli, Harga Emas Antam turun Lagi Jadi Rp2,71 Juta/Gram
-
Harga Emas Antam Hari Ini Turun! Cek Update Harga UBS dan Galeri24 di Pegadaian