- Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000/USD lebih disebabkan oleh tekanan pasar global, bukan fundamental ekonomi Indonesia.
- Tekanan global meliputi konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, inflasi, dan penguatan dolar sebagai aset aman.
- Rupiah relatif lebih tahan dibanding mata uang Asia lain, namun pelemahan jangka pendek diperkirakan berlanjut terbatas.
Suara.com - Nilai tukar rupiah yang mendekati bahkan sempat menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang memburuk.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, mengatakan pelemahan rupiah lebih tepat dibaca sebagai respons pasar terhadap tekanan global yang sedang meningkat, bukan semata-mata karena faktor domestik.
“Rupiah yang mendekati atau sempat menembus 17.000 tidak otomatis berarti ekonomi Indonesia dipandang sangat buruk oleh investor. Ini lebih sebagai alarm bahwa pasar sedang sangat sensitif terhadap berbagai faktor eksternal,” ujarnya saat dihubungi Suara.com, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah faktor global yang memicu tekanan tersebut antara lain memanasnya konflik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak yang mendekati 110 dolar AS per barel, meningkatnya kekhawatiran inflasi global, serta menguatnya dolar AS sebagai aset safe haven.
Tekanan ini, kata dia, tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga menyebar ke berbagai negara di Asia. Bahkan, pelemahan rupiah tergolong lebih ringan dibandingkan mata uang lain di kawasan.
“Per 30 Maret 2026, kurs rupiah berada di level 16.992 per dolar AS dan sejak konflik meletus melemah sekitar 1,8 persen. Namun pelemahannya masih lebih ringan dibandingkan won Korea, rupee India, peso Filipina, dan baht Thailand,” jelasnya.
Rizal menilai, ketahanan rupiah juga ditopang oleh perbaikan terms of trade Indonesia, terutama dari kenaikan harga komoditas seperti crude palm oil (CPO).
Meski demikian, ia tidak menampik adanya kehati-hatian investor terhadap Indonesia. Hal ini tercermin dari arus keluar dana asing di pasar saham serta tekanan yang masih terjadi di pasar obligasi, di tengah pandangan negatif dari sejumlah lembaga pemeringkat.
Dalam jangka pendek, Rizal memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Faktor utama yang perlu dicermati adalah belum meredanya ketegangan geopolitik serta belum pulihnya arus energi global, khususnya melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Kurs Rupiah Akhirnya Tembus Rp 17.000
“Selama belum ada penurunan ketegangan yang nyata dan arus energi belum pulih, harga energi yang tinggi dan imbal hasil Amerika Serikat yang tetap tinggi akan terus menopang dolar AS,” katanya.
Ia menambahkan, potensi penguatan data ekonomi Amerika Serikat juga dapat memperpanjang tekanan terhadap rupiah, terutama jika pasar kembali mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga di negara tersebut.
Kendati demikian, Rizal menegaskan, pelemahan rupiah tidak akan berlangsung tanpa batas. Dalam waktu dekat, nilai tukar diperkirakan bergerak terbatas.
“Rupiah kemungkinan akan bergerak dalam rentang 16.900 hingga 17.000 per dolar AS dalam jangka pendek,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Mengapa Kritik Ekonom Disebut 'Noise' Oleh Prabowo dan Purbaya?
-
Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.975
-
BI Beberkan Kerugian jika Masyarakat Tukar Uang Lebaran Ditempat Tidak Resmi
-
Bank Indonesia Diramal Tahan Suku Bunga, Stabilitas Rupiah Jadi Pertimbangan Utama
-
Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Purbaya Sewot: Tanya BI, Kalau Saya Ngomong Nanti Bahaya
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
Terkini
-
Danantara Klaim Transformasi Pengelolaan Aset BUMN Mulai Berbuah Laba
-
Setelah Baja, Industri Rokok Juga Ikut Terancam Gulung Tikar
-
Harga Emas Anjlok, Kemendag Pangkas Patokan Ekspor dan Referensi
-
Rupiah Terpuruk ke Rp17.500, Ekonom Warning Risiko Dolar AS Sentuh Rp18.000
-
Kontribusi PDB Tembus Rp 8.573 T, Kenapa Setoran Pajak UMKM Masih Kecil?
-
Harga Emas Antam Anjlok Hari Ini, Dibanderol Rp 2.819.000/Gram
-
Aktivitas Selat Hormuz Masih Seret, Harga Minyak Brent Tembus 106 Dolar AS
-
Membaca Peluang di Tengah Ketidakpastian, Properti Tetap Jadi Instrumen Investasi Paling Relevan
-
Waspada, Ekonomi Indonesia Bakal Dihantam Tekanan Global
-
Bank Indonesia Perkuat Pengendalian Inflasi Demi Jaga Harga Bahan Pokok Tidak Naik