- ALDEI menyoroti tingginya biaya logistik nasional sebesar 14 persen akibat disparitas distribusi antara Pulau Jawa dan luar Jawa.
- Imam Sedayu Pusponegoro mengusulkan konsolidasi infrastruktur antarperusahaan logistik untuk meningkatkan utilisasi aset dan menurunkan beban biaya distribusi barang.
- Digitalisasi dan integrasi teknologi menjadi kebutuhan utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital serta efisiensi pengiriman 25 juta paket harian.
Suara.com - Asosiasi Logistik Digital Ekonomi Indonesia (ALDEI) menyoroti tingginya biaya logistik nasional yang saat ini mencapai sekitar 14 persen.
Organisasi tersebut menilai kolaborasi dan konsolidasi antarpelaku industri pos dan logistik dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang di Indonesia.
ALDEI mencatat masih terdapat disparitas biaya logistik yang cukup lebar antara Pulau Jawa dan luar Jawa.
Biaya distribusi di Pulau Jawa berada di kisaran 5-10 persen, sedangkan di luar Jawa dapat mencapai 20-40 persen. Selain itu, lebih dari 60 persen distribusi barang nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Ketua Umum ALDEI, Imam Sedayu Pusponegoro, mengatakan pemanfaatan infrastruktur dan jaringan secara bersama dapat meningkatkan utilisasi aset yang selama ini belum optimal.
"Konsolidasi akan mendorong antar pelaku perusahaan pos dan kurir saling berbagi infrastruktur dan jaringan, seperti gudang, transportasi di first mile, middle mile, hingga last mile, yang saat ini utilisasinya masih sangat rendah, kurang dari 50 persen," terang Imam dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Dengan konsolidasi, menurutnya, skala pengiriman dan utilisasi dapat meningkat untuk menurunkan biaya.
Pernyataan tersebut disampaikan Imam dalam acara Digital Ecosystem Alignment (DEAL) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Jakarta.
Imam menyebut, perkembangan ekonomi digital Indonesia dalam satu dekade terakhir terus menunjukkan pertumbuhan dua digit.
Baca Juga: Pengusaha Logistik Curhat Harga BBM Naik: Tambahan Biaya Makin Menekan
Pada 2026, sektor tersebut diperkirakan berkontribusi hingga 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan berpotensi menjadi yang terbesar di Asia Tenggara pada 2030 dengan nilai lebih dari 300 miliar dolar Amerika Serikat.
Sektor e-commerce dan belanja daring disebut menyumbang sekitar 77 persen ekonomi digital Indonesia. Aktivitas tersebut menggerakkan lebih dari 30 juta UMKM, UKM, brand, dan merchant di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, peningkatan aktivitas perdagangan digital turut mendorong kebutuhan akan sistem logistik yang lebih efisien dan terintegrasi.
Organisasi tersebut mencatat volume pengiriman saat ini mencapai sekitar 25 juta paket per hari yang sebagian besar berasal dari e-commerce dan social commerce.
Imam menilai, digitalisasi menjadi bagian penting dalam pengembangan industri logistik nasional.
"Dengan ratusan juta hingga miliaran data traffic yang beredar dan kompleksitas proses yang menjangkau seluruh kepulauan Indonesia, digitalisasi sudah menjadi keharusan untuk sesama pelaku industri pos dan logistik agar dapat terkoneksi secara seamless dan berkolaborasi melayani masyarakat hingga seluruh pelosok Indonesia," bebernya.
Imam melihat, kolaborasi industri dapat dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari pemanfaatan jaringan dan infrastruktur bersama, integrasi teknologi operasional, hingga pengembangan platform agregator logistik.
Berita Terkait
-
Begini Kesiapan Pos Indonesia Jelang BUMN Logistik Dijadikan Satu
-
Harga BBM Terancam Naik dan Ganggu Distribusi Obat, Dampak Geopolitik Memanas
-
Transformasi SDM, Layanan Logistik RI Mulai Berstandar Global
-
Misteri Hilangnya Minyakita di Pasar: Stok Gaib, Harga Bisa Tembus Rp40 Ribu!
-
Distribusi Terganggu, Perdagangan Beras Antarwilayah Disebut Mulai Macet
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Kabar Baik dari MSCI! Indonesia Tetap Emerging Market, OJK Bidik Lebih Banyak Investor Asing
-
Tak Turun Kasta, MSCI Tetap Pertahankan Pasar Saham RI di Emerging Market
-
ESDM Akui Tahan Ekspor Batu Bara Demi PLN, Masalah Pasokan PLTU Terungkap di Tengah Pemadaman
-
Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak
-
Marak Transaksi Palsu di Tokopedia, Pemerintah Gregetan!
-
Soal Laporan ke KPK, ITDC Klaim Tak Punya Wewenang Atur Dana Relokasi Mandalika
-
Menkeu Purbaya Legalkan Pencucian Uang Lewat Patriot Bond?
-
Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran
-
Lahan Meikarta Bakal jadi Aset Negara? Maruarar Segera Urus Legalitas
-
Terungkap! Dua PLTU Raksasa di Cilacap Sempat Bermasalah, Jadi Pemicu Pemadaman Bergilir di Jawa