Bisnis / Makro
Rabu, 24 Juni 2026 | 07:34 WIB
Ilustrasi logistik. [Pixabay/Geralt]
Baca 10 detik
  • ALDEI menyoroti tingginya biaya logistik nasional sebesar 14 persen akibat disparitas distribusi antara Pulau Jawa dan luar Jawa.
  • Imam Sedayu Pusponegoro mengusulkan konsolidasi infrastruktur antarperusahaan logistik untuk meningkatkan utilisasi aset dan menurunkan beban biaya distribusi barang.
  • Digitalisasi dan integrasi teknologi menjadi kebutuhan utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital serta efisiensi pengiriman 25 juta paket harian.

Suara.com - Asosiasi Logistik Digital Ekonomi Indonesia (ALDEI) menyoroti tingginya biaya logistik nasional yang saat ini mencapai sekitar 14 persen.

Organisasi tersebut menilai kolaborasi dan konsolidasi antarpelaku industri pos dan logistik dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang di Indonesia.

ALDEI mencatat masih terdapat disparitas biaya logistik yang cukup lebar antara Pulau Jawa dan luar Jawa.

Biaya distribusi di Pulau Jawa berada di kisaran 5-10 persen, sedangkan di luar Jawa dapat mencapai 20-40 persen. Selain itu, lebih dari 60 persen distribusi barang nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Ketua Umum ALDEI, Imam Sedayu Pusponegoro, mengatakan pemanfaatan infrastruktur dan jaringan secara bersama dapat meningkatkan utilisasi aset yang selama ini belum optimal.

"Konsolidasi akan mendorong antar pelaku perusahaan pos dan kurir saling berbagi infrastruktur dan jaringan, seperti gudang, transportasi di first mile, middle mile, hingga last mile, yang saat ini utilisasinya masih sangat rendah, kurang dari 50 persen," terang Imam dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).

Dengan konsolidasi, menurutnya, skala pengiriman dan utilisasi dapat meningkat untuk menurunkan biaya.

Pernyataan tersebut disampaikan Imam dalam acara Digital Ecosystem Alignment (DEAL) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Jakarta.

Imam menyebut, perkembangan ekonomi digital Indonesia dalam satu dekade terakhir terus menunjukkan pertumbuhan dua digit.

Baca Juga: Pengusaha Logistik Curhat Harga BBM Naik: Tambahan Biaya Makin Menekan

Pada 2026, sektor tersebut diperkirakan berkontribusi hingga 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan berpotensi menjadi yang terbesar di Asia Tenggara pada 2030 dengan nilai lebih dari 300 miliar dolar Amerika Serikat.

Sektor e-commerce dan belanja daring disebut menyumbang sekitar 77 persen ekonomi digital Indonesia. Aktivitas tersebut menggerakkan lebih dari 30 juta UMKM, UKM, brand, dan merchant di berbagai wilayah Indonesia.

Menurutnya, peningkatan aktivitas perdagangan digital turut mendorong kebutuhan akan sistem logistik yang lebih efisien dan terintegrasi.

Organisasi tersebut mencatat volume pengiriman saat ini mencapai sekitar 25 juta paket per hari yang sebagian besar berasal dari e-commerce dan social commerce.

Imam menilai, digitalisasi menjadi bagian penting dalam pengembangan industri logistik nasional.

"Dengan ratusan juta hingga miliaran data traffic yang beredar dan kompleksitas proses yang menjangkau seluruh kepulauan Indonesia, digitalisasi sudah menjadi keharusan untuk sesama pelaku industri pos dan logistik agar dapat terkoneksi secara seamless dan berkolaborasi melayani masyarakat hingga seluruh pelosok Indonesia," bebernya.

Ilustrasi e-commerce. (Freepik.com)

Imam melihat, kolaborasi industri dapat dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari pemanfaatan jaringan dan infrastruktur bersama, integrasi teknologi operasional, hingga pengembangan platform agregator logistik.

Load More