- Konflik geopolitik Timur Tengah memicu kenaikan harga energi yang mengancam efisiensi biaya logistik distribusi kesehatan di Indonesia.
- Edwin Vega Darma dari PT Parit Padang Global menyatakan potensi kenaikan harga BBM akan memberatkan distribusi ke pelosok.
- Perusahaan berencana melakukan efisiensi operasional dan beralih ke kendaraan listrik guna memastikan keberlanjutan layanan distribusi produk kesehatan.
Suara.com - Memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia, mulai membayangi sektor distribusi kesehatan di dalam negeri.
Pelaku usaha menilai, potensi kenaikan bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak langsung pada biaya logistik distribusi obat dan alat kesehatan.
Senior Vice President Distribution PT Parit Padang Global, Edwin Vega Darma, mengatakan, kenaikan harga energi menjadi faktor krusial dalam menjaga efisiensi distribusi di tengah cakupan wilayah Indonesia yang luas.
"Nah, saya belum kebayang lagi nanti jika sampai terjadi bahan bakar naik. Karena di beberapa negara, tadi kami sempat diskusi juga, di Filipina bahan bakar sudah naik, maka mau tidak mau ini akan menjadi concern bagaimana mendistribusikan proxuk dengan lebih efisien," ujar Edwin kepada wartawan, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, tekanan biaya logistik tidak terlepas dari dampak konflik geopolitik global yang mulai dirasakan oleh pelaku industri, termasuk potensi kenaikan harga bahan bakar.
Menurut Edwin, distribusi produk kesehatan memiliki tantangan tersendiri karena harus menjangkau berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil yang membutuhkan biaya pengiriman lebih tinggi.
"Jadi tadi ada ide ya kita mungkin ganti vendor transporter yang menggunakan bahan bakar konvensional menjadi bahan bakar listrik. Antisipasinya ya," ucapnya.
Ia menambahkan, efisiensi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan distribusi, terutama jika tekanan biaya terus meningkat akibat kenaikan harga energi.
Di sisi lain, konflik geopolitik juga mulai memengaruhi kinerja industri secara umum. Edwin menyebut aktivitas bisnis sempat melambat akibat ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga: Anggaran Subsidi Energi Terus Bengkak, Insentif EV Perlu Diberlakukan Lagi?
"Kita punya performance di Maret agak terganggu dengan dengan konflik ini. Karena mungkin para ekonom di Indonesia atau para pemilik usaha sedikit ngerem," katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan usai rangkaian Corporate Leadership Summit 2026 yang digelar PT Parit Padang Global (PPG) dalam momentum peringatan 70 tahun perusahaan.
Melalui forum tersebut, Edwin menyebut pihaknya akan beradaptasi menghadapi dinamika industri, termasuk tekanan biaya akibat kondisi global.
Sebagai perusahaan distribusi kesehatan, PPG memiliki jaringan yang menjangkau lebih dari 95 persen rumah sakit dan apotek di Indonesia, didukung oleh 25 cabang, 3 kantor penjualan, serta jaringan sub-distributor.
Dengan cakupan wilayah yang luas, kenaikan biaya logistik dinilai menjadi tantangan signifikan dalam menjaga kelancaran distribusi layanan kesehatan.
Terlebih, distribusi obat tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga menyangkut aspek kemanusiaan.
"Karena di sini ada sektor keselamatan atau kesehatan manusia ya. Kalau katakanlah marjinnya 10 persen, mungkin biaya kirim 25 persen. Karena mahal sekali kirim ke sana. Ya tapi karena ada unsur kemanusiaan dan kita harus deliver," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Siapa Yang Tanggung Tekor SPBU Swasta?
-
Minyak Dunia Kembali ke Levei USD 100 Barel, Gimana Harga BBM?
-
Mengapa WFH di Jumat Akan Kurang Efektif Tekan Konsumsi BBM?
-
Ketahanan Energi RI Naik Jadi Hampir 30 Hari, Bahlil: Target 1 Bulan Segera Tercapai
-
JK Ngotot Harga BBM Naik, Wihadi DPR: Jangan Bikin Pemerintah dan Rakyat Jadi Sulit
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
Terkini
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Beroperasi, Pemerintah Masih "Buta" Soal Target Kinerja
-
DSI Resmi Kelola Ekspor Mulai 1 Juni, Ada Bocoran Peran Dirjen Bea Cukai
-
Belajar dari 'TikTok', Rugi di Pasar Modal: Bahaya Investasi Berbasis Tren Media Sosial
-
Bisnis Gerai Minuman di Tengah Tekanan Ekonomi, Ada yang Tutup dan Berkembang
-
IHSG Ambles Tapi Aset Emiten Melesat Rp94 Triliun, Ini Penyebabnya
-
Harga CPO Anjlok Pertengahan Tahun 2026, Kemendag Ungkap Penyebabnya
-
Rincian Aturan Baru Pajak UMKM: CV, Firma, dan PT Baru Kehilangan Fasilitas PPh
-
Harga Pangan Kian Meroket: Cabai Merah Besar Tembus Rp107 Ribu, Beras Ikut Naik
-
Saham Sejuta Umat Ini Lagi Diskon Harga Termurah, Momentum Emas untuk 'Serok Bawah'?