- Harga beras nasional terus meningkat meskipun pemerintah telah mencatatkan cadangan beras tertinggi sepanjang sejarah hingga Juni 2026.
- Lonjakan harga gabah petani yang melampaui Harga Pembelian Pemerintah menyebabkan harga beras di pasar berisiko melampaui ketentuan HET.
- Persaingan ketat antara Bulog dan pihak swasta dalam menyerap gabah petani memicu kenaikan harga di tengah penurunan produksi.
Suara.com - Anomali terjadi pada sektor pangan pokok nasional. Di tengah laporan bahwa cadangan beras yang dikuasai pemerintah saat ini berada di level tertinggi sepanjang sejarah, harga beras di tingkat konsumen justru terus bergerak merangkak naik .
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menyoroti tajam ketidakselarasan antara melimpahnya pasokan dan realitas harga di pasar tradisional maupun ritel modern.
Menurut analisisnya, akar permasalahan ini dipicu oleh meroketnya harga gabah di tingkat petani yang jauh melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Kondisi tersebut otomatis mengerek komponen biaya produksi beras hasil penggilingan .
"Amat sulit mendapatkan gabah sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500/kg untuk semua kualitas," ungkap Khudori kepada awak media, Minggu (28/6/2026).
Harga Gabah Petani Meroket, Angka HET Beras Terancam Jebol
Berdasarkan kompilasi data Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga gabah di tingkat produsen secara nasional telah menyentuh Rp6.951 per kilogram (kg) pada awal Juni, dan kembali menanjak ke level Rp6.993 per kg pada 20 Juni 2026.
Di beberapa wilayah lumbung padi seperti Lampung dan Jawa Timur , gejolak harga bahkan berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp8.000 per kg.
Lonjakan harga bahan baku ini menempatkan para produsen dan penggilingan pada posisi dilematis. Sebagai informasi , formulasi Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium (Zona I) sebesar Rp13.500 per kg dan beras premium Rp14.900 per kg dihitung dengan asumsi harga gabah berada di patokan HPP Rp6.500 per kg.
"Ketika harga gabah makin mahal alias di atas HPP, beras hasil giling pun akan semakin mahal. Harga beras pun potensial melampaui HET," tutur Khudori.
Baca Juga: Beras Mahal Menjerit, Beli Rokok Sanggup: Ironi Prioritas Keluarga Indonesia
Dampak dari jepitan biaya ini mulai dirasakan konsumen dengan semakin terbatasnya pasokan beras premium berbagai merek di jaringan swalayan atau ritel modern.
Para pengusaha khawatir terjerat penindakan dari Satgas Pangan jika menjual di atas HET, namun di sisi lain mereka berisiko mengalami kerugian besar jika dipaksa mengikuti batasan harga regulasi .
Kondisi ini diperparah oleh siklus penurunan produksi padi pasca-panen raya , yang memicu persaingan ketat dalam perburuan pasokan gabah.
Proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa produksi gabah kering giling (GKG) pada Juni 2026 diperkirakan melandai ke angka 4,05 juta ton, atau menyusut sekitar 18 persen dari performa Mei yang sempat menembus 4,94 juta ton GKG.
Di tengah menyusutnya panen , Perum Bulog dilaporkan masih bertindak agresif menyerap gabah lokal demi menuntaskan target cadangan beras pemerintah (CBP) . Sejauh ini, realisasi serapan korporasi negara tersebut telah mengamankan sekitar 3,14 juta ton beras .
Kompetisi ketat antara Bulog dan pihak penggilingan swasta dalam memperebutkan gabah petani inilah yang membuat harga di lapangan sulit untuk melandai , meskipun total cadangan beras yang dikelola Bulog saat ini telah menggunung hingga 5,2 juta ton.
Khudori menyarankan agar pemerintah segera mengambil langkah taktis dengan mempercepat intervensi penyaluran cadangan beras ke masyarakat.
Langkah ini dinilai krusial guna meredam laju kenaikan harga sekaligus mengantisipasi penurunan mutu komoditas akibat terlalu lama disimpan di gudang .
"Lebih dari itu, agar tak ada lagi ironi: harga beras terus naik dan penyumbang inflasi saat stok tinggi," kata Khudori.
Berita Terkait
-
Harga Cabai Hari Ini Turun Drastis, Bawang Merah Ikut Merosot, Cek Daftar Lengkap Harga Pangan
-
Disembunyikan Dalam Beras Basmati! Polisi Ungkap Kasus Narkoba Berlogo Batman Asal Malaysia
-
Program Bantuan Pangan Beras 10 Kg & Subsidi Kedelai Dilanjutkan, Anggaran Rp 17,54 T
-
Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
Terkini
-
Harga Cabai Turun Namun Bawang Putih Naik, Ini Penyebabnya
-
Harga Minyak Dunia Turun Drastis Meski AS-Iran Gagal Gencatan Senjata
-
5 Orang Meninggal, Pelatihan Militer KDMP Dikecam: Dampak Buruk ke Manajemen Koperasi
-
Apa Tugas Komisaris di Perusahaan? Aspri Raffi Ahmad hingga Aktivis Muda Bisa Duduk di Posisi Ini
-
Viral Mufli Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Perusahaan, Berapa Gajinya?
-
Krakatau Posco Perusahaan Apa? Asisten Raffi Ahmad Ditunjuk Jadi Komisaris
-
Jangan Tertipu! Kenali Modus Phishing dan CS Palsu Platform Kripto
-
Asisten Raffi Ahmad Duduk di Kursi Komisaris Krakatau Posco, Siapa Mufli Budi Ananda?
-
Survei: 81% Pekerja RI Merasa Gajinya Adil, Tapi Tak Semua Bahagia
-
96% Perusahaan RI Rekrut Lulusan Micro-Credentials, Gaji Dibayar Tinggi