Bisnis / Energi
Senin, 06 Juli 2026 | 09:36 WIB
Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].
Baca 10 detik
  • Harga minyak mentah dunia turun tipis pada Senin, 6 Juli 2026 akibat rencana peningkatan target produksi OPEC+.
  • OPEC+ menyepakati tambahan produksi 188.000 barel per hari mulai Agustus untuk merespons kondisi pasar minyak global.
  • Pemulihan jalur ekspor di Selat Hormuz serta lonjakan pasokan dari Rusia meningkatkan suplai minyak mentah internasional.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak turun tipis pada awal perdagangan Senin 6 Juli 2026. Pelemahan ini dipicu oleh keputusan aliansi produsen minyak OPEC+ yang sepakat untuk kembali meningkatkan target produksi mulai Agustus mendatang.

Di saat yang sama, jalur ekspor minyak global melalui Selat Hormuz berangsur pulih, yang berpotensi menambah pasokan minyak mentah di pasar internasional.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 24 sen atau 0,33 persen  ke angka USD 71,88 per barel setelah sempat menguat 0,45 persen pada hari Jumat lalu.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 11 sen atau 0,16 persen  ke level USD 68,58 per barel.

Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels].

Sepanjang pekan lalu, pergerakan kedua jenis minyak tersebut cenderung stagnan setelah sempat mengalami tren penurunan dalam beberapa minggu terakhir. 

Investor saat ini terus memantau jalannya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, sembari mencermati pemulihan volume ekspor minyak dari negara-negara Teluk.

Dalam pertemuan yang digelar pada hari Minggu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama sekutunya termasuk Rusia (OPEC+), menyepakati tambahan target produksi sebesar 188.000 barel per hari (bpd) mulai Agustus.

Langkah ini melanjutkan kebijakan serupa yang sebelumnya telah diterapkan untuk bulan Juni dan Juli.Meski demikian, realisasi pemenuhan kuota baru ini dinilai masih berada "di atas kertas". 

Konflik bersenjata antara AS-Israel dengan Iran sempat menutup jalur tanker di Selat Hormuz dan menghambat operasional produsen besar seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak, sehingga membatasi total output mereka.

Baca Juga: Pertamina Tepat Belum Turunkan Harga Pertamax

"Angka kenaikan produksi tersebut sebenarnya sudah sesuai dengan ekspektasi pasar," ujar Analis pasar dari IG, Tony Sycamore.

Namun, ia menambahkan bahwa efektivitas kuota baru ini masih diragukan mengingat Uni Emirat Arab (UEA) telah resmi keluar dari OPEC per 1 Mei, ditambah dengan kenyataan bahwa banyak negara produsen yang belum mampu memenuhi kuota lama akibat proses pemulihan fasilitas produksi pasca-konflik yang masih berjalan.

Kendati diterpa kendala, negara-negara Teluk dilaporkan mulai mengaktifkan kembali sumur-sumur minyak yang sempat ditutup selama konflik dan mulai menggenjot ekspor mereka. 

Berdasarkan survei dari Reuters, total produksi minyak OPEC pada bulan Juni melonjak sebesar 3,3 juta barel per hari secara bulanan (month-on-month) menjadi 19,43 juta bpd. Angka ini menandakan kebangkitan dari level produksi terendah OPEC dalam lebih dari dua dekade terakhir.

Data terbaru juga menunjukkan bahwa volume ekspor minyak dari wilayah Teluk pada bulan Juni melesat lebih dari 3 juta barel dibanding bulan Mei, melampaui angka 10 juta barel per hari. Walau demikian, jumlah tersebut tercatat masih 40 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan level sebelum terjadinya perang.

Sementara itu, pasokan minyak global juga mendapat tambahan dari Rusia. Sumber dari industri minyak menyebutkan bahwa pengiriman minyak dari pelabuhan-pelabuhan barat Rusia menyentuh rekor tertinggi pada bulan Juni dan diperkirakan bertahan di level tersebut sepanjang Juli.

Lonjakan ekspor minyak mentah dari Moskow ini terjadi akibat banyaknya fasilitas kilang minyak dalam negeri Rusia yang rusak akibat serangan pesawat tanpa awak (drone) oleh Ukraina, yang memaksa Rusia untuk langsung menjual minyaknya dalam bentuk mentah ke pasar global.

Load More