Bisnis / Makro
Kamis, 09 Juli 2026 | 14:58 WIB
Ilustrasi Kilang Minyak [Pexels].
Baca 10 detik
  • Suria Dharma dari Samuel Sekuritas memperingatkan konflik AS-Iran dapat memicu defisit APBN Indonesia melampaui batas aman tiga persen.
  • Kenaikan harga minyak dunia hingga 89 Dolar AS per barel berpotensi membengkakkan beban subsidi energi menjadi Rp535 triliun.
  • Pemerintah berupaya menjaga stabilitas fiskal melalui kenaikan PNBP sektor migas serta peninjauan ulang anggaran program Makan Bergizi Gratis.

Suara.com - Deputy President Director PT Samuel Sekuritas, Suria Dharma mewanti-wanti kalau perang geopolitik Amerika Serikat vs Iran yang terus berefek ke kenaikan harga minyak dunia bisa berdampak pada defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Bahkan Suria memproyeksikan kalau kenaikan harga minyak global hingga 89 Dolar AS per barel bisa membuat defisit APBN jeblok melebihi 3 persen, yang berarti melewati batas aman dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun  2003 tentang Keuangan Negara.

Dalam paparannya, ia memperlihatkan kalkulasi dampak perang terhadap daya tahan fiskal Indonesia melalui tiga skenario pergerakan harga minyak mentah dunia (Indonesian Crude Price atau ICP).

Untuk target dasar (base case), apabila perang mereda, harga minyak diperkirakan bergerak di level 79 Dolar AS per barel. Ia menilai defisit APBN masih terpantau aman di angka 2,66 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Kalau tensinya masih terus meningkat, harga minyak bisa melonjak ke 89 Dolar AS per barel. Jika skenario buruk ini terjadi, defisit terhadap PDB kita akan melebihi 3%. Ini yang sekarang menjadi concern utama dari pasar," kata Suria dalam acara Investortrust Discussion Forum yang digelar di Habitate Jakarta, Kamis (9/7/2026). 

(Kiri-Kanan) Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufiqurahman, Wakil Direktur PT Samuel Sekuritas Suria Dharma, dan Managing Editor Investortrust.id Hari Gunanto dalam acara Investortrust Discussion Forum yang dihelar di Habitate Jakarta, Kamis (9/7/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]

Beban Subsidi Energi Membengkak Jadi Rp535 Triliun

Pemicu utama potensi jebolnya defisit tersebut adalah membengkaknya anggaran subsidi energi yang murni terkerek oleh kenaikan harga minyak dunia.

Berdasarkan data Samuel Sekuritas, pagu awal subsidi energi di APBN ditetapkan sebesar Rp 437 triliun. Namun berkaca pada realisasi Januari-Mei yang disetahunkan (annualized), beban subsidi tersebut sebetulnya sudah merangkak naik ke angka Rp 489 triliun.

"Jika harga minyak tetap tinggi di level 89 Dolar AS, efeknya akan lebih jelek. Total biaya subsidi energi bisa membengkak hingga Rp 535 triliun. Angka ini naik murni gara-gara faktor harga minyak global," papar dia. 

Baca Juga: Trump Sebut Kesepakatan Gencatan Senjata Selesai, AS dan Iran Kembali Berperang

Angka estimasi subsidi tersebut dicatat belum menghitung beban untuk BBM jenis Pertalite yang skema dampaknya langsung berimbas pada keuangan PT Pertamina (Persero).

Meski dibayangi risiko global, Suria menyebut fiskal Indonesia masih memiliki bantalan dari sektor pendapatan. Hingga Mei, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor migas naik 15 persen karena realisasi harga minyak yang lebih tinggi dari asumsi awal. 

PNBP non-migas juga naik 16 persen berkat reli harga komoditas nikel, emas, dan tembaga. Ditambah lagi dengan adanya kenaikan royalti kelapa sawit sebesar 2,5 persen pada Maret lalu.

Di sisi lain, langkah pemerintah melakukan peninjauan ulang terhadap program-program belanja besar juga mendapat respons positif dari pasar. Salah satunya adalah pengendalian anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Orang sempat berpikir bagaimana cara bayarnya kalau penerimaan turun. Tapi ternyata penerimaan kita naik dan anggaran MBG ini di-review serta dilakukan pemangkasan. Ini kontrol belanja yang sangat positif dan pasar belum banyak yang memantau," pungkas Suria.

Load More