- Presiden Prabowo Subianto rutin memantau dan mendiskusikan kondisi fiskal serta ekonomi nasional bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
- Lembaga S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil yang mencerminkan fondasi ekonomi yang kuat.
- Pemerintah Indonesia membantah keraguan pengelolaan fiskal dengan bukti capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada triwulan pertama 2026.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim kalau Presiden RI Prabowo Subianto terus memantau kondisi ekonomi Indonesia. Bahkan ia kerap diajak diskusi Presiden hingga seminggu sekali soal perekonomian.
Hal ini dilontarkan Purbaya sekaligus mengomentari soal penilaian lembaga pemeringkat Standard & Poor's Global Ratings (S&P) yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil
Purbaya menilai, keluarnya penilaian S&P menunjukkan kalau fondasi ekonomi RI sedang bagus. Rating ini sekaligus membantah keraguan banyak orang kalau Pemerintah gagal menjalankan fiskal.
"Kita selalu serius, selalu diskusi, selalu diskusi dan selalu menilai ke mana kebijakan fiskal kita. Kelemahannya di mana, diperbaikinya di mana," katanya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Tak cuma di internal Kemenkeu, Presiden Prabowo juga kerap mengajaknya diskusi reguler soal kebijakan fiskal selama seminggu hingga dua minggu sekali.
"Jadi enggak ada itu, orang kan kesannya seolah-olah kebijakannya liar, enggak ada itu. Kita diskusikan terus secara reguler. Bapak Presiden memantau terus kondisi fiskal dan ekonomi secara berkala dan cukup detail," lanjutnya.
Bendahara Negara lalu meminta para investor agar segera investasi ke RI, khususnya pasar modal lewat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Kalau pintar ya harus cepat. Kalau investor pintar, domestik pintar, masuk aja sekarang. Kan sudah jelas, apa lagi gangguan kita?" ajak dia.
Lebih lanjut Purbaya menilai kalau selama ini publik ditakutkan bahwa Pemerintah tidak bisa mengelola fiskal. Padahal pertumbuhan ekonomi bisa tembus 5,61 persen di triwulan pertama 2026.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.039 Triliun, Beban Pemerintah Terus Membengkak
Ia menganggap kalau lembaga pemeringkat global lain seperti MSCI, Moody's, hingga Fitch offside lantaran sudah melakukan penilaian sebelum data pertumbuhan ekonomi keluar dari Badan Pusat Statistik.
"Saya sudah bilang berkali-kali kan, lembaga yang sebelumnya, yang lain, ada kemungkinan mereka offside karena kan mereka melakukan assessment sebelum data triwulan pertama keluar. Iya kan? Saya bilang ya terlalu cepat, bukan mereka salah, ya terlalu cepat. Jadi ini yang lebih fair, saya pikir," jelas Purbaya.
Berita Terkait
-
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.039 Triliun, Beban Pemerintah Terus Membengkak
-
Dari 1.000 Liter Susu, UMKM Yogya Hasilkan 100 Kg Keju Artisan
-
Prabowo dan Luhut Bahas Ketahanan Ekonomi, GovTech Dipercepat agar Bansos Lebih Tepat Sasaran
-
Purbaya Minta Investor Beli Saham dan Jual Dolar, Klaim Ekonomi RI Mulai Diakui Internasional
-
Purbaya Girang S&P Pertahankan Rating Indonesia: Bukan Indonesia Cemas tapi Indonesia Emas
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.039 Triliun, Beban Pemerintah Terus Membengkak
-
Harga Cabai Anjlok hingga 13%, Beras dan Daging Ayam Justru Kompak Naik
-
KAI Mulai Gunakan Biodiesel B50 secara Bertahap pada Lokomotif
-
Ketegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak
-
Rupiah Menguat ke Rp18.048 per Dolar AS, Inflasi Amerika yang Melandai Jadi Pendorong Utama
-
Tahan Beli, Harga Emas Antam Melonjak Jadi Rp2.635.000 per Gram Hari Ini
-
IHSG Betah di Zona Hijau, PRDL Langsung ARA
-
Daftar Lengkap Harga Jual dan Buyback Emas Pegadaian per 15 Juli 2026
-
Harga Bright Gas Turun Mulai 14 Juli, Tabung 12 Kg Kini Rp220.00
-
Nyontek Dubai, Bali Mau Jadi Pusat Keuangan Dunia