Bisnis / Makro
Rabu, 15 Juli 2026 | 19:13 WIB
Pesawat N219 . [ANTARA/HO-Humas PTDI]
Baca 10 detik
  • Pemerintah menugaskan PT Dirgantara Indonesia menggunakan pesawat N219 untuk melayani penerbangan perintis di wilayah terpencil Indonesia.
  • Pesawat N219 mampu mendarat di landasan pacu terbatas sepanjang 800 meter meskipun kondisi infrastrukturnya belum memadai atau tidak beraspal.
  • Pemerintah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan domestik untuk memperkuat industri penerbangan nasional sebelum menjajaki peluang ekspor ke luar negeri.

Suara.com - Pemerintah bakal menggunakan pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk melayani penerbangan perintis di wilayah terpencil, seperti Papua, Kalimantan, hingga kawasan kepulauan.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan pesawat N219 bisa mendarat di Bandara-bandara yang belum memadai infrastrukturnya.

"Ini pesawat yang bisa dikatakan ideal untuk kebutuhan rute penerbangan perintis di kondisi geografi yang juga menantang. Bisa digunakan di Papua, di Kalimantan, dengan gunung-gunung, hutan yang lebat. Memang tidak terlalu besar, tapi justru taktis dan manuvernya bisa lincah," ujar AHY di Kantor Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Menurut AHY, kebutuhan pesawat untuk melayani wilayah terpencil cukup besar. Karena itu, pemerintah ingin memastikan pasar domestik dapat menjadi penggerak utama industri pesawat nasional sebelum memperluas ekspor ke luar negeri.

"Nah dengan demikian harapannya jika ada demand atau permintaan dalam negeri sendiri, ini akan semakin mengembangkan industri penerbangan kita," jelasnya.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Jakarta, Rabu (15/7/2026). Foto Fakhri-Suara.com

Selain itu, AHY menilai N219 juga memiliki peluang menembus pasar negara berkembang di kawasan Asia Pasifik dan Afrika yang membutuhkan pesawat berkapasitas kecil untuk melayani rute-rute perintis.

"Negara-negara berkembang membutuhkan pesawat-pesawat dalam ukuran yang relatif kecil tetapi bisa mengangkut penumpang maupun barang secara cepat dan taktis," katanya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan mengatakan N219 memang dirancang untuk melayani daerah dengan landasan pacu terbatas.

Menurut dia, pesawat tersebut dapat beroperasi di landasan sepanjang sekitar 800 meter, bahkan pada runway yang belum seluruhnya berlapis aspal.

Baca Juga: Kertajati Disiapkan Jadi Hub Dirgantara, Pemerintah Bidik Pasar Asia Pasifik US$138 Miliar

"Tadi secara teknis dikatakan cukup dengan runway panjangnya kurang lebih 800 meter dan unpaved. Artinya tidak harus panjang-panjang dan tidak harus dalam kondisi yang sangat tebal dan mulus karena memiliki karakteristik yang mampu untuk take off dan landing secara terbatas," ujarnya.

Gita menambahkan PTDI juga tengah memperluas pasar N219. Selain telah memperoleh pesanan dari dalam negeri, perusahaan menjajaki peluang ekspor ke sejumlah negara.

"Yang pertama kan kita sudah MoU dengan China. Kemudian menjajaki di pasar Kongo. Tetapi tentunya kita melihat bahwa kebutuhan dalam negerinya juga luar biasa. Ini kita prioritaskan," pungkas Gita.

Load More