Bisnis / Makro
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:50 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Jakarta, Rabu (15/7/2026). Foto Fakhri-Suara.com
Baca 10 detik
  • Kertajati disiapkan jadi hub industri dirgantara nasional.
  • Pemerintah bidik pasar aviasi Asia Pasifik senilai US$138 miliar.
  • PTDI mulai relokasi MRO, lanjut manufaktur hingga perakitan pesawat.

Suara.com - Pemerintah mulai memosisikan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, sebagai pusat baru industri kedirgantaraan nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk merebut peluang pasar penerbangan Asia Pasifik yang diproyeksikan bernilai hampir US$138 miliar hingga 2044.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, pengembangan Kertajati tidak hanya bertujuan meningkatkan aktivitas penerbangan, tetapi juga membangun ekosistem industri kedirgantaraan yang terintegrasi mulai dari perawatan pesawat hingga manufaktur.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

"Tadi kami menyaksikan penandatanganan MoU antara PTDI dan PT BIJB sebagai bagian dari komitmen bersama untuk mengembangkan Kertajati menjadi salah satu hub industri kedirgantaraan," ujar AHY di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

AHY mengungkapkan, prospek industri penerbangan di kawasan Asia Pasifik masih sangat menjanjikan. Berdasarkan proyeksi Airbus, nilai pasar regional aviation di kawasan tersebut diperkirakan mencapai hampir US$138 miliar hingga tahun 2044 dengan pertumbuhan lebih dari 5 persen per tahun.

Tak hanya itu, Asia Pasifik diperkirakan akan menyumbang hampir 50 persen kebutuhan pesawat penumpang baru dunia, atau lebih dari 19.000 unit. Pertumbuhan armada tersebut juga diproyeksikan mendorong meningkatnya permintaan jasa maintenance, repair, and overhaul (MRO) yang menjadi salah satu sektor bernilai tinggi dalam industri penerbangan.

"Kalau kita membidik pasar yang lebih luas tentu dimulai dari diri kita sendiri. Kita pastikan ada demand, setelah itu pasar yang tersedia sangat besar," katanya.

Pemerintah menilai Kertajati memiliki sejumlah keunggulan strategis untuk mendukung industri dirgantara nasional. Selain memiliki kawasan yang luas, bandara ini juga terhubung dengan koridor industri di Bekasi, Karawang, Purwakarta hingga Pelabuhan Patimban yang memperkuat rantai logistik.

Sebagai tahap awal, pemerintah akan mendorong relokasi bertahap sejumlah aktivitas PTDI ke Kertajati, dimulai dari fasilitas MRO. Selanjutnya kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi pusat final assembly, manufaktur komponen pesawat, hingga fasilitas flight test.

Baca Juga: Daftar 6 Maskapai yang Beroperasi di Bandara Husein Sastranegara

Sementara itu, fasilitas PTDI di Bandung tetap difokuskan sebagai pusat riset, inovasi, desain, dan pengembangan sumber daya manusia.

"Bandung tetap menjadi sentra inovasi. Kalau Bandung adalah brain-nya, maka Kertajati menjadi muscle-nya," kata AHY.

Selain memperkuat industri domestik, pemerintah juga menargetkan pesawat buatan PTDI, khususnya N219, mampu menembus pasar ekspor di Asia Pasifik dan Afrika.

Menurut AHY, banyak negara berkembang di kedua kawasan tersebut membutuhkan pesawat berkapasitas kecil yang mampu melayani penerbangan perintis, baik untuk mengangkut penumpang maupun logistik di wilayah dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau.

Dengan menjadikan Kertajati sebagai pusat industri dirgantara, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar penerbangan, tetapi juga pemain utama dalam rantai pasok industri aviasi regional yang terus berkembang dalam dua dekade mendatang.

Load More