Bisnis / Makro
Kamis, 16 Juli 2026 | 14:02 WIB
Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit (Pexels/Pok Rie)
Baca 10 detik
  • Peneliti ITB mengembangkan Bensa dari minyak nabati sebagai bahan bakar drop-in untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM fosil.
  • Teknologi katalis khusus mengubah limbah sawit menjadi hidrokarbon berkualitas tinggi yang dapat meningkatkan nilai oktan bensin menjadi RON 95.
  • Inovasi yang didanai BPDP KS ini telah sukses melalui skala pilot dan akan dipresentasikan pada Pekan Riset Sawit mendatang.

Suara.com - Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) fosil berpotensi ditekan di masa depan melalui inovasi bahan bakar nabati. Peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan Bensa (Bensin Sawit), sebuah inovasi alternatif yang dirancang sebagai bahan bakar drop-in untuk mendongkrak kualitas BBM nasional.

Akademisi ITB, Rasrendra mengungkapkan bahwa Bensa bukan sekadar bahan bakar nabati biasa. Formula ini dikembangkan menggunakan teknologi sistem katalis khusus yang mampu mengubah struktur minyak nabati dan limbah sawit menjadi senyawa hidrokarbon yang serupa dengan minyak bumi.

"Kualitas hidrokarbon dan jenis hidrokarbon dari Bensa ini sama persis seperti yang ada pada fosil. Karena sifat reaksi fundamental dari katalis yang kami kembangkan, kami menyebutnya sebagai bahan bakar drop-in," ujar Rasrendra dalam diskusi yang digelar di Kantor Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Jakarta, dikutip Kamis (16/7/2026).

Berkat sifatnya yang drop-in, Bensa dapat langsung dicampurkan dengan bensin komersial yang ada saat ini tanpa memerlukan modifikasi pada mesin kendaraan.

Dalam implementasinya, Bensa diproyeksikan menjadi komponen pencampur (blending component) strategis. Khususnya untuk meningkatkan nilai oktan atau Research Octane Number (RON) dari nafta berkualitias standar menjadi bensin berkualitas tinggi setara RON 95.

Langkah ini dinilai menjadi angin segar bagi peta jalan transisi energi di Indonesia. Selain mengoptimalkan potensi kelapa sawit dalam negeri yang melimpah, inovasi ini diarahkan untuk memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi.

Peneliti ITB C.B Rasrendra saat acara diskusi yang digelar di Kantor BPDP Kemenkeu, Jakarta, Rabu (16/7/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]

Meski demikian, Rasrendra menekankan bahwa transisi menuju produksi massal memerlukan kehati-hatian teknis, terutama terkait konsistensi operasi dalam jangka panjang.

"Kami sebagai akademisi bertugas menjaga supaya teknologinya memiliki pathway (jalur pengembangan) yang jelas, dan semuanya harus bersandar pada pengujian skala yang tepat," tambahnya.

Riset yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) ini telah sukses melewati fase krusial dari pengujian skala laboratorium dan kini telah berhasil ditingkatkan ke skala pilot (pilot scale).

Baca Juga: Kemenkeu Pastikan Klaim Program Baru Dana Hibah Menteri Keuangan Tidak Benar

Presentasi utuh mengenai detail teknologi, hasil uji coba, serta peta jalan implementasi Bensa dijadwalkan akan dipaparkan secara perdana pada ajang Pekan Riset Sawit yang digelar oleh lembaga di bawah Kementerian Keuangan (KemenkeU) tersebut pada 20 Juli mendatang.

Load More