- Mendagri Tito Karnavian menjelaskan kendala pengawasan kepala daerah akibat sistem pemilihan langsung dan struktur non-komando di Jakarta.
- Kemendagri telah menerapkan sistem digital APBD guna meminimalisasi potensi penyimpangan anggaran daerah oleh oknum tidak bertanggung jawab.
- Tingginya biaya politik dalam pencalonan kepala daerah menjadi pemicu utama munculnya tindakan korupsi untuk menutup biaya operasional.
Suara.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memberikan tanggapan mengenai fenomena banyaknya kepala daerah yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Tito menjelaskan berbagai tantangan dalam mengawasi kepala daerah serta faktor-faktor yang menjadi akar masalah tindak korupsi di tingkat daerah.
Ia menekankan bahwa posisi kepala daerah berbeda dengan struktur lembaga yang bersifat komando. Menurutnya, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memiliki keterbatasan dalam melakukan penindakan langsung karena kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat.
"Kita satu pertama ya kepala daerah ini kan dipilih rakyat. Mereka bukan rekrutmen top-down. Yang kita bisa lakukan kepada kepala daerah ini adalah satu, kita melakukan retreat, tujuannya untuk menguatkan nasionalismenya, integritasnya ya. Kemudian juga memberikan pembekalan-pembekalan awal termasuk KPK juga hadir di sana, BPKP juga hadir memberikan masukan, Kementerian Keuangan dan lain-lain," ujar Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Lebih lanjut, ia membandingkan posisinya saat ini dengan ketika menjabat sebagai Kapolri.
"Tapi kan sistemnya kepala daerah ini kan bukannya komando, kepada Mendagri kan bukan komando seperti ketika saya menjadi Kapolri dengan Kapolda, Kapolres itu komando. At any time bisa kita copot kalau macem-macem," tegasnya.
Terkait aspek pengawasan, Kemendagri telah membangun sistem digital untuk meminimalisasi penyimpangan anggaran. Namun, Tito mengakui sistem tersebut masih memiliki celah untuk dimanipulasi oleh oknum di lapangan.
"Nah jadi yang kita bisa lakukan adalah membuat sistem untuk pengawasan masalah keuangan. Ada namanya Sistem Informasi Pemerintahan Daerah di mana APBD-nya bisa kita lihat, kita memberikan guideline secara menyusun APBD ya," katanya.
"Kemudian sistem pengawasan juga keuangannya ada. Tapi kan namanya sistem bisa aja diakalin di lapangan ya. Dan teman-teman kepala daerah ini kan sekali lagi dipilih rakyat, latar belakangnya beda-beda. Ada yang paham birokrasi, ada juga apa namanya tuh yang nggak mengerti tentang administrasi sehingga mengandalkan kepada pejabat birokratnya, Sekda, BPKAD, Bappeda," jelasnya.
Baca Juga: Kejagung: Status Tersangka Febrie Adriansyah Tetap Berlaku Meski Penyidikan Diambil Alih
Salah satu poin krusial yang disoroti Tito adalah tingginya biaya politik dalam proses pemilihan kepala daerah.
Menurutnya, ketimpangan antara biaya yang dikeluarkan saat pencalonan dengan pendapatan resmi yang diterima menjadi salah satu pemicu utama kepala daerah mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar.
"Kemudian yang kedua, teman-teman kita tahu juga bahwa saya udah pernah nyampaikan mungkin bahwa biaya rekrutmen mereka itu tidak murah. Semua sudah jadi pembicaraan umum, pengetahuan umum bahwa untuk menjadi kepala daerah itu kan tidak gratis. Mereka harus nyiapkan yang resmi saja nyiapkan tim sukses, menyiapkan apa namanya tuh kampanye. Biayanya tinggi. Ini salah satu, salah satu akar masalah. Dia mengeluarkan biaya sementara take home pay-nya mereka, pendapatan mereka itu mungkin nggak bisa nutupin, akhirnya cari peluang," ungkapnya.
Tito menyimpulkan bahwa permasalahan tersebut muncul akibat pengaruh lingkungan dan sistem, di samping adanya faktor integritas masing-masing individu.
"Jadi by system, by apa environment. Ini sistem atau lingkungan yang membuat mereka akhirnya mencari dengan jalan tidak benar. Yang kedua bisa juga dikarenakan faktor perorangan. Udah cukup tapi kemudian pengen lebih. Dan sekali lagi kepala daerah ini kan dipilih rakyat ya, sepanjang dia populer disukai ya kemudian terpilih. Kita nggak bisa menjamin integritasnya seperti apa," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Kejagung: Status Tersangka Febrie Adriansyah Tetap Berlaku Meski Penyidikan Diambil Alih
-
Usai Rumahnya Digeledah, Anggota BPK Bobby Adhityo Diperiksa KPK
-
Sitaan Fantastis di Kasus Korupsi Terbaru, Sejauh Mana Urgensi RUU Perampasan Aset?
-
KPK Tindak Lanjuti Laporan Dugaan Korupsi Gubernur Jambi dan Bupati Tebo
-
Mega Korupsi Jampidsus Ganggu Ekonomi Nasional dan Kepercayaan Investor
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
6 Cara Membersihkan Sepatu Sekolah Putih yang Kotor agar Bersih seperti Baru
-
Marak Kepala Daerah Kena OTT, Tito: Integritas Tak Bisa Dijamin Meski Dipilih Rakyat
-
Transformasi Digital Sukses, Bisnis Madu Asal Lampung Manfaatkan QRIS dan Pembiayaan BRI
-
Lionel Scaloni Menyebut Argentina Bangkit Akibat Kesalahan Fatal Pelatih Inggris
-
Bukan Cuma Tubuh, Ini 5 Alasan Fermentasi Makanan Ramah untuk Lingkungan
-
5 Clarifying Toner yang Bantu Kulit Wajah Lebih Halus dan Sehat
-
Hina Kapolda NTB, WNA Asal Prancis Dihukum 3 Bulan Penjara
-
Arab Saudi Ubah Tarif Bea Masuk 51 Komoditas, Kemendag Minta Eksportir RI Tangkap Peluang
-
Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?
-
Peneliti ITB Ungkap Potensi Sawit, Ternyata Bisa Diolah Jadi Bensin