Bisnis / Makro
Rabu, 29 Juli 2026 | 20:38 WIB
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim saat media briefing yang digelar di Hotel Mercure, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • BPDP menyalurkan dana insentif Rp 240 triliun untuk mendukung 83,8 juta kiloliter biodiesel di Indonesia.
  • Penggunaan bahan bakar nabati sawit berhasil menghemat devisa negara hingga Rp 722,9 triliun dari penurunan impor solar.
  • Zaid Burhan Ibrahim menyampaikan informasi tersebut pada acara media briefing BPDP di Pangkalan Bun pada Rabu, 29 Juli 2026.

Suara.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mencatat telah menyalurkan dana insentif sebesar Rp 240 triliun untuk mendukung penyaluran 83,8 juta kiloliter biodiesel di Indonesia. 

Kucuran dana fantastis dari lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ini menjadi fondasi utama RI dalam melangkah menuju transisi program mandatori Biodiesel 50 persen (B50) berbasis minyak kelapa sawit.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim mengungkapkan kalau langkah masif ini terbukti memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional. 

Sebab dengan menggantikan sebagian porsi solar fosil menggunakan bahan bakar nabati (BBN) dari sawit, Indonesia berhasil menghemat devisa negara hingga Rp 722,9 triliun dari penurunan volume impor solar.

Menurutnya, penerapan B50 yang mencakup 50 persen campuran solar berasal dari minyak sawit, merupakan bukti nyata peran strategis komoditas ini di sektor hilir dan ketahanan energi.

"Artinya, 50 persen dari bahan bakar solar kita bersumber dari sawit. Ke depan, berdasarkan hasil kajian, tingkat campurannya bisa kita tingkatkan lebih tinggi lagi, baik B60, B70, dan seterusnya. Ini komitmen kita untuk terus mendorong program bahan bakar nabati," ujar Zaid dalam media briefing BPDP yang digelar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026).

Ilustrasi sawit. Foto: Warga di Siak membenahi kelapa sawit usai dipanen. [Suara.com/Alfat Handri]

Zaid menambahkan, keunggulan sawit sebagai bahan baku energi terbarukan didukung oleh efisiensi lahan yang tinggi. Sawit mampu menghasilkan hingga 4 ton minyak per hektar, jauh melampaui komoditas minyak nabati dunia lainnya seperti kedelai (0,4 ton/hektar) dan bunga matahari (0,6 ton/hektar).

Menariknya, pasokan bahan baku energi bersih ini tidak hanya berasal dari perkebunan skala besar. Sebanyak 41 persen industri sawit nasional dikelola oleh petani rakyat yang menghasilkan lebih dari 16 juta ton sawit per tahun. 

Lebih lanjut, BPDP pun terus memperkuat sektor hulu melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) agar rantai pasok B50 tetap aman dan berkelanjutan.

"Di balik setiap liter minyak sawit yang digunakan, terdapat jutaan petani yang bekerja. Melalui integrasi hulu dan hilir ini, kita tidak hanya menjaga devisa negara, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekonomi rakyat," pungkas Zaid.

Load More